MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.22 (Khwatir)


__ADS_3

Di lain tempat, Adrian duduk di hadapan seorang wanita dengan tatapan datar. Ya, wanita itu adalah Mishel. Wanita itu mengajaknya bertemu di jam makan siang, entah apa maksudnya dan tujuannya.


"Kenapa kamu mengajak ku bertemu?" tanya Adrian.


Mishel kembali melempar senyum dengan canggung. Ia terlihat malu-malu saat Adrian menatapnya, ia mengeluarkan sebuah kertas bentuk persegi kecil lalu di sodorkan kehadapan Adrian.


"Kamu masih baru di kota ini, besok malam ada pameran karya seni di galeri terbesar di pusat kota, akan banyak inspirasi untuk kamu di sana ... ayo pergi bersama," ujar Mishel kemudian kembali menyeruput kopinya.


"Mishel sepertinya kamu sudah salah pa--"


"Ayo kita mulai dari awal, maaf karena aku membuat kesalahan dengan tidak datang ke acara makan malam yang di persiapkan orang tua kita waktu itu, aku ingin kita lebih mengenal satu sama lain," tutur Mishel dengan penuh harap.


"Aku tidak ingin hidup dengan di atur oleh orang tua ku," ujar Adrian.


"Dulu aku juga begitu, tapi aku sadar semuanya mereka lakukan demi kebaikan kita juga ... lihat sekarang aku menyesal karena tidak mendengarkan ucapan kedua orangtuaku," ujar Mishel.


Adrian mulai mengerti arah pembicaraan Mishel, ",Mari berteman saja."


Deg.


Mishel terlihat cukup kaget saat mendengar ucapan Adrian tapi ia tak putus asa begitu saja, "A-aku sudah punya banyak teman, yang aku butuhkan sekarang adalah pasangan hidup, bukannya kamu juga begitu?"

__ADS_1


"Maaf, tapi aku sudah menyukai seorang wanita sejak lama," ucap Adrian.


Mishel tak lagi bisa berkata-kata. Ia mencengkram erat cangkir yang ada dihadapannya seraya menundukkan padangan. Ia merasa baru saja di tolak mentah-mentah oleh seorang pria yang baru saja mencuri hatinya. Entah sial atau apa ia selalu saja patah hati jika menyangkut masalah lelaki.


...**...


Menjelang malam Adrian pulang ke Apartement, sesampainya di dalam Indra penciumannya cukup terusik. Ia melangkah menuju dapur dimana bau masakan itu berasal.


"Kamu sudah pulang," ucap Joni saat menyadari kehadiran Adrian.


"Iya, bagaimana keadaan lokasi, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Adrian seraya membuka kulkas untuk mengambil air minum.


"Aman, bagaimana makan siang dengan calon istri, lancar?" tanya Joni.


"Siapa yang asal bicara, memang kenyataannya begitu, makanlah, hati-hati udang itu sangat pedas, aku membeli udang saus di restaurant tadi, aku hanya memanaskannya saja," ucap Joni yang juga ikut duduk di kursi meja makan.


"Hah, sudah ku duga, mana mungkin ini kamu yang masak, aku tidak makan siang tadi gara-gara wanita itu," ucap Adrian kemudian mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Maksud mu wanita yang akan di jodohkan dengan mu itu?" tanya Joni.


"Iya siapa lagi, kali ini aku tidak akan menuruti orang tua ku, cukup sekali aku menuruti mereka dan aku kehilangan seseorang yang paling berharga," ujar Adrian yang kembali mengingat kejadian di masalalu, dimana ia menuruti permintaan kedua orangtuanya untuk berpisah dari Luna dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan.

__ADS_1


Masa itu Adrian masih sangat mencintai Luna, hanya saja ia masih sangat muda untuk berdiri dengan pendiriannya sendiri. Kali ini ia ingin kembali memulai, namun ada tantangan harus ia lewati ya itu rasa trauma yang di alami Luna dan semua itu karena dirinya.


"Jadi ceritanya kamu menyesal sekarang," ledek Joni.


"Bukan sekarang, tapi sejak awal perpisahan kami, aku sudah sangat menyesal tapi tak bisa berbuat apa-apa untuknya," ujar Adrian kemudian kembali melanjutkan makannya.


~


Pukul setengah sebelas malam, setelah selesai mandi dan memakai piyama tidurnya, Luna duduk di depan meja rias untuk melakukan ritual malam yaitu memakai cream malamnya. Saat hendak beranjak menuju tempat tidur, tiba-tiba saja bel berbunyi hingga berkali-kali tanpa henti.


Tanpa menunda waktu, ia keluar dari dalam kamar dan langsung membuka pintu. Ia terkejut melihat Joni berdiri di sana dengan wajah paniknya.


"Ada apa?" tanya Luna.


"Dokter tolong mantan ... eh maksud saya Adrian, tiba-tiba saja dia mengeluh sakit perut, wajahnya sangat pucat dan berkeringat dingin," ujar Joni yang terlihat sangat panik.


Luna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bukan hanya Joni yang khwatir tapi Luna juga demikian.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil tas ku." Luna melangkah dengan cepat masuk kedalam kamar, ia memakai jaket, meraih tas yang berisi peralatan medisnya kemudian kembali menghampiri Joni.


"Ayo," ucap Luna lalu melangkah beriringan dengan Joni.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍❤️


__ADS_2