
Setelah memarkirkan mobilnya. Luna melangkah masuk dengan cepat. Matanya memerah, dadanya terasa sesak. Seolah kejadian sembilan tahun kembali terulang. Dimana saat itu ia hanya bisa melihat Bapaknya di hujani peralatan medis namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Klek.
Luna melangkah masuk kedalam ruangan ICU. Disana sudah ada Mika, dokter dan juga beberapa orang perawat lainnya. Ia melangkah dengan cepat menghampiri orang-orang itu. Firasatnya mulai tidak baik, saat melihat monitor yang berbunyi nyaring. Automated external defibrillator atau alat kejut jantung yang menggantung di tangan dokter itu.
"Kenapa kalian diam saja, bapak ini harus di tolong!"
Dokter itu menoleh kearah Luna, "Aku sudah berusaha semampu ku, tidak ada harapan lagi."
Luna menggeleng perlahan dengan mata yang berkaca-kaca, "Tidak mungkin ... berikan alat itu." Luna meraih automated external defibrillator dari tangan dokter itu.
Semua orang yang ada disana nampak kaget melihat Luna yang seolah kehilangan akal. Luna yang mereka kenal adalah seorang Dokter yang tegas dan selalu bersikap tenang saat menangani seorang pasien. Namun malam ini mereka seolah melihat sisi rapuh seorang Dokter spesialis bedah saraf terbaik di rumah sakit itu.
Dengan di bantu seorang perawat, Luna mengarahkan kembali alat itu hingga membuat tubuh kaku itu terguncang karena diberi kejut listrik. Setelah beberapa saat monitor tak juga menunjukkan perubahan, ia membuang alat itu lalu melanjutkan melakukan CPR.
Luna menekan bagian dada bapak itu, "Bapak harus bangun! Ayo sadarlah, aku mohon!" Air mata Luna tak tertahankan, ia merasa kembali kehilangan sosok bapak untuk kedua kalinya. Bahkan setelah menjadi seorang dokter, ia tetap gagal melawan takdir.
Melihat Luna yang semakin tak terkendali, Mika, dokter dan beberapa orang perawat lainnya berusaha menghentikannya. Mika ikut menangis melihat saat sang atasan yang terlihat histeris.
Dulu Luna pernah bercerita kepada Mika kenapa ia termotivasi menjadi seorang dokter, hal itu karena Luna kehilangan bapaknya karena penyakit jantung. Ia paham atasannya itu pasti mengingat masa-masa kelam saat kehilangan orang yang paling di hormati.
...**...
__ADS_1
Keesokkan harinya, setelah selesai memantau lokasi pengerjaan proyek pembangunan gedung pencakar langit yang menjadi tanggung jawabnya. Adrian mampir ke rumah sakit untuk memberikan cake cokelat kesukan Luna. Tadi ia tak sengaja melihat toko kue dan tiba-tiba ia ingat jika luna sangat menyukai cokelat.
Adrian melangkah menuju pintu utama rumah sakit. Namun saat sedang berjalan ia melihat seorang wanita yang berjarak dua meter darinya, sedang berjalan sambil memainkan ponsel, dari arah berlawanan sebuah motor melaju dengan kencang. Langsung saja ia melangkah cepat dan menarik tangan wanita itu.
"Hampir saja, kamu baik-baik saja?" tanya Adrian.
Wanita itu terpana sesaat, melihat pria tampan yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
Wanita itu adalah ....
Mishel.
"Hey, kamu tidak baik-baik saja." Adrian melambaikan tangannya di depan wajah Mishel.
"Oh iya, terimakasih."
"Ah iya, sekali lagi terimakasih."
"Sama-sama, kalau begitu saya pergi dulu, permisi." Adrian melangkah dengan cepat, meninggalkan Mishel yang masih diam di tempatnya.
Tampan sekali, batin Mishel.
~
__ADS_1
Adrian berhenti tepat di ruangan Luna. Saat ia bersiap-siap untuk masuk, Mika datang dan menghampirinya.
"Tuan mencari siapa?"
"Dokter Luna, ada?"
"Oh itu ... Dokter Luna hari ini tidak masuk."
"Kenapa, apa dia sakit?"
Mika terdiam sesaat. Ia berpikir apa harus menceritakan masalah ini kepada pria yang ada dihadapannya sekarang. Tapi ia merasakan bahwa Adrian adalah orang yang dekat dengan Luna, "Sebenarnya malam tadi, terjadi sesuatu yang membuat Dokter Luna drop."
"Drop ... kenapa?"
Mika mulai menceritakan semuanya kepada Adrian. Dari awal hingga akhir. Mendengar pernyataan itu, Adrian beberapa kali tersentak kaget, terutama saat mengetahui Bapak mantan istrinya sudah meninggal sembilan tahun yang lalu.
Kedua orang tua Adrian menutupi segalanya. Tak mau meninggalkan jejak dari wanita yang mereka anggap hanya membawa sial untuk putra mereka. Saat berkuliah di luar negeri, Adrian berusaha mencari informasi tentang Luna namun semua anggota keluarga terdekatnya seolah bungkam.
~
Mobil yang di kemudikan Adrian melaju dengan kecepatan tinggi. Matanya memerah dan menahan sejuta sesak di dada. Pantas saja Luna begitu membencinya, karena di saat sang mantan sedang terpuruk karena kehilangan. Ia malah pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Maafkan aku, seharusnya aku tidak pergi hari itu. Seharusnya aku bisa lebih tegas dan mempertahankan kamu, batin Adrian.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊