MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.59 (Kembali lah pada ku lagi)


__ADS_3


..."Roda memang telah berputar, janji yang dulu sempat aku tinggalkan akan aku tepati saat ini, detik ini hanya berdua dengan mu, wanita yang memenuhi seluruh sisi hati dan pikiran ku."...


......(Adrian Wijaya)......


.


.


.


...Hari-hari telah berganti, tak ada lagi rasa yang akan tergantung karena ketidak jelasan. Tangan mereka akan saling menggenggam erat, cinta yang semakin kuat dan pundak yang saling menopang segala beban yang menyertai....


...🍂...


Dua bulan berlalu begitu cepat. Suara grasak-grusuk dari dapur apartement mulai terdengar, lagi-lagi praktek masak-masak seorang wanita yang ingin menjadi calon istri serba bisa sedang berlangsung. Namun saat kenyataan tak sesuai ekspektasi maka Video call Ibu adalah pilihan terakhir.


"Berapa jam sih di mixernya Bu?" Luna mulai terlihat frustasi saat apa yang ia rencanakan terancam gagal. Ya, ia berencana untuk memberi kejutan ulang tahun kepada Adrian dengan cake pertamanya.


[Ya memang seperti itu, kalau tidak mau kuenya jadi bantet.]


"Oh seperti itu, pantas saja sejak tadi aku sudah gagal hingga dua kali." Luna kembali bersemangat dan memutar mixer itu perlahan.


[Lagian Adrian ulang tahun, kenapa tidak beli saja kuenya.]


"Kalau beli itu sudah terlalu biasa Bu, aku ingin memberinya kejutan kecil yang lebih bermakna."


[Ceritanya mau romantis gitu? ... Itu sepertinya sudah, masukkan tepung sedikit demi sedikit jangan langsung semua.]


"Siap bos!"


Setelah selesai akhirnya Luna bisa bernapas lega saat kue itu sudah masuk kedalam oven. Tinggal menunggu matang saja, ia menggunakan waktu yang tersisa untuk membersihkan dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.


Setelah selesai bersih-bersih sebentar, ia melihat jam di dinding dapur yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, akhirnya ia memutuskan untuk mandi sebentar. "Sepertinya masih ada waktu untuk mandi"


~


Luna keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk. Baru saja ia duduk di depan meja riasnya tiba-tiba ia baru teringat kue yang tadi ia masukkan kedalam oven. Tanpa membuang waktu ia berlari keluar dari kamar menuju dapur.


Saat oven di buka asap pekat mulai keluar, membuat Luna terbatuk-batuk karena begitu banyak asap dari dalam oven itu. Setelah asap mulai menghilang, ia mengeluarkan kue itu dari oven. "Yah gosong." Luna terlihat berkaca-kaca karena usahanya berakhir sia-sia.


"Ada apa ini?"Adrian tiba-tiba saja datang dan langsung menghampiri Luna. "Sayang, kamu tidak apa-apa?"


Akhirnya Luna mulai menangis seperti bayi seraya menatap Adrian. "Kue ku gosong, padahal aku sudah susah payah membuatnya untuk ulang tahun kamu."


Adrian menghela napas panjang, ia merasa lega karena Luna baik-baik saja. Ia merangkul dan mengusap punggung Luna pelan. "Bagaimanapun hasilnya, terimakasih karena kamu sudah berusaha." Adrian menghapus air mata di sudut mata Luna. "Sudah jangan menangis lagi."


Luna memperhatikan penampilan Adrian malam ini yang sangat rapi dengan setelan jas berwarna navi, rambut tertata rapi dan bau parfum yang begitu menyengat. "Kamu kenapa rapi sekali, mau kemana?"


"Ah ini aku ... aku mau mengajak kamu makan malam untuk merayakan ulang tahun ku. Sekarang kamu bersiap-siap saja, aku sedikit tergoda karena kamu hanya memakai handuk seperti itu."


"Ya! Makanya jangan di lihat terus ... kalau begitu aku siap-siap dulu." Luna melangkah dengan cepat melewati Adrian.

__ADS_1


Adrian hanya terkekeh seraya memandangi kepergian Luna.


...**...


Sementara itu di basement sebuah apartemen, Jessy melambaikan tangan saat melihat kedatangan Hendry. Ia melangkah untuk menghampiri Hendry. "Aku baru saja mau ke supermarket saat tau kakak akan datang."


"Tidak usah repot-repot, aku sudah bawa makan malam untuk kita berdua." Hendry menunjukkan paper bag yang ada di kedua tangannya.


"Wah terimakasih ... ngomong-ngomong tumben kakak datang ke sini, biasanya di luar atau di mansion."


"Tdak apa-apa aku hanya ingin bertamu dan melihat Apartement kamu."


"Ah begitu, baiklah."


Hendry meraih dan langsung menggenggam tangan Jessy. Awalnya Jessy nampak terkejut namun akhirnya ia tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan mereka.


Hendry dan Jessy berjalan beriringan. Sudah beberapa bulan ini mereka semakin dekat, semakin cocok meski tidak saling mengungkapkan. Mereka sudah sama-sama dewasa untuk melewati masa pacaran, yang mereka butuhkan adalah sebuah komitmen untuk melangkah ke arah yang lebih serius dan mereka sedang melalui proses ini.


...**...


Tak butuh waktu lama akhirnya Adrian sampai di sebuah restaurant berbintang. Mereka saling bergandengan tangan memasuki area dalam restaurant. Sesampainya di dalam, Luna menoleh ke kanan kiri, ia heran kenapa restauran itu tidak ada siapapun.


"Kenapa sepi sekali, sepertinya tempat ini tutup ayo kita pulang saja." Luna hendak berbalik pergi, namun Adrian langsung menarik tangan itu untuk mencegahnya.


"Kamu tenang saja, restaurant ini buka kok, hanya saja mungkin karena sekarang masih belum larut jadi belum ramai, ayo kita masuk." Adrian menuntun Luna masuk lebih dalam ke dalam.


Drun!


Tiba-tiba lampu sorot di hadapan Luna menyala. Di sana di sebuah panggung kecil dengan sebuah mix yang sudah terpasang di hadapannya, Adrian berdiri seraya memandangi sang pujaan.


"Untuk wanita sejak awal selalu bertahta di hati ku. Maafkan aku karena pernah mengucapkan kata pisah, maafkan aku karena pernah menyerah memperjuangkan mimpi kita. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa mulai saat ini, detik ini aku akan mewujudkan mimpi itu kembali dan aku pastikan kamu tidak akan lagi terluka. Aku tahu semua sudah sangat terlambat untuk kita, tapi di waktu yang tersisa kembalilah kesisi ku seperti dulu, melawati pagi, siang, malam bersama."


Musik mulai terdengar. Adrian meraih mic yang di stand mic.


Aku ingin menjadi


Mimpi indah dalam tidurmu


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah merapuh tanpa dirimu


Oh, karena hati t'lah letih


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang s'lalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu


Bahwa ku selalu memujamu

__ADS_1


Tanpamu, sepinya waktu merantai hati


Oh, bayangmu seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada


Oh-uh-uh, oh-ho-uh-uh


Oh-uh-uh, oh-oh-oh


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa hilang


Dan sepi


Dan sepi


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada


Selalu ada


Kau selalu ada


Selalu ada


Saat musik berhenti. Adrian meletakkan kembali mic itu di stand mic lalu melangkah menghapiri Luna seraya mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya.


Langkahnya terhenti di hadapan sang pujaan. Ia mulai besimpuh seraya mengulurkan kotak bersisi cincin ke hadapan Luna. "Live with me again, I promise to make you happy. Luna, Will you marry me?"


Luna tak kuasa membendung rasa harunya. Seharusnya hari ini ia yang memberikan kejutan di hari ulang tahun Adrian, di luar dugaan yang terjadi malah sebaliknya. Ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Yes, i will."


Bersambung 💓

__ADS_1


__ADS_2