MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.30(Apa aku boleh mengalahkan mu?)


__ADS_3

Luna membuka pintu dan langsung masuk keruangan Mishel yang memang berseberangan dengan ruangannya. Terlihat Mishel sedang bersantai di kursinya dengan secangkir teh yang sedang ia nikmati.


Mishel memutar bola matanya malas saat melihat kedatangan Luna. Ia menegapkan posisinya dan meletakkan cangkir teh ke atas meja.


"Apa benar kamu yang membatalkan acara amal itu?" tanya Luna yang saat ini berdiri di hadapan Mishel.


"Kalau iya kenapa?" tanya Mishel balik seraya berpangku tangan.


"Acara ini sudah lama di tunggu para kaum disabilitas disana, kamu bilang kenapa? Hari ini adalah acarnya, mereka menunggu dengan sangat antusias," tutur Luna.


"Luna, aku tahu kamu ingin di kenal banyak orang dengan acara amal ini kan? Sudah cukup aku mendukung kamu selama ini, semua acara yang kamu ajukan keatasan selalu aku bantu agar terselenggara, sekarang aku sadar jika terlalu sering itu akan merugikan rumah sakit, selain kesehatan di tempat ini kita sedang berbisnis," ujar Mishel dengan santainya.


Luna berusaha menahan emosinya, ia tidak tahu kenapa temanya tiba-tiba saja menjadi seperti ini, "Mishel, kau gila."


"Hey! Kita memang berteman tapi disini aku adalah atasanmu ... kalau kamu memang mau acara itu terselenggara, lakukan dengan usahamu sendiri, coba saja kalahkan aku kalau kamu bisa," ujar Mishel


"Apa benar aku boleh mengalahkan mu, tidak mengalah untuk kamu lagi?" tanya Luna seraya menatap tajam kearah Mishel.


Mishel menelan salivanya dengan susah payah. Ia terbawa emosi dan rasa cemburu hingga bicara tak terkendali. Melihat tatapan mata Luna membuat nyalinya seketika menciut, untuk membalas pun ia tak bisa.


Klek.


Pintu ruangan itu kembali terbuka, ternyata asisten Mishel yang datang.


"Dok, Arsitek yang Tuan Johan bilang, sudah datang."


"Benarkah." Mishel segera beranjak dari tempat duduknya.


Tak lama orang yang di tunggu Mishel datang juga. Ya, orang itu adalah Adrian dan Joni. Johan Hudson Papa Mishel sengaja menyerahkan segala urusan pembangunan gedung rumah sakit yang akan di bangun di belakang gedung lama, kepada Mishel agar bisa lebih dekat dengan Adrian.


"Selamat datang di rumah sakit kami, Adrian."


Saat mendengar nama Adrian sontak saja Luna langsung berbalik. Mata ia dan Adrian kembali bertemu, mereka saling menatap hingga Adrian tak menghiraukan Mishel yang sedang bicara padanya.

__ADS_1


Luna segera memutuskan pandangan dan melangkah keluar dari ruangan itu, melewati Adrian begitu saja. Mishel menyadari jika Adrian terus saja memperhatikan Luna dan hal itu membuat ia kian patah hati.


Joni yang berdiri di samping Adrian malah fokus menatap Mishel, ia baru kali ini melihat wajah wanita yang akan di jodohkan dengan sahabatnya itu.


Manis juga, tidak kalah cantik dari Dokter Luna, batin Joni.


"Ehm, silahkan duduk," sahut Mishel, mengalihkan fokus Adrian yang terus saja menatap kearah pintu.


Adrian dan Joni duduk di sofa berhadapan dengan Mishel. Adrian dan Joni mulai menjelaskan, mulai dari bagian dalam perencanaan, perancangan desain, perkiraan anggaran, dan pengontrolan pembangunan. Karena pekerjaan ini memerlukan kemampuan mengombinasikan desain yang menarik dan fungsi bangunan yang sesuai dengan tujuan dan aplikasi.


Mishel yang tidak tahu menahu tentang bangunan hanya mengangguk-angguk saja. Seharusnya proyek ini di serahkan kepada ahlinya, bukan kepada Mishel yang hanya berprofesi sebagai seorang dokter. Kembali lagi Johan Hudson melakukan semuanya agar sang putri bisa lebih dekat dengan Adrian.


...***...


Luna kembali keruangannya, ia meraih jas putih kebanggaannya. Mika dan seorang perawat lain menghapiri Luna.


"Dokter mau kemana?" tanya Mika.


"Kalau begitu kami ikut," ujar seorang perawat lainnya.


"Tidak, jika kalian ikut ... kalian akan dapat masalah, biar aku saja." Luna meraih tasnya lalu melangkah cepat keluar dari ruangan.


...***...


Di dalam perjalanan, Luna tak henti-hentinya melihat jam di tangannya. Ia takut terlambat ke panti sosial itu. Sepertinya hari ini ia harus mengalami kesialan berkali-kali, karena mobilnya tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan.


"Astaga, kenapa aku bisa sampai lupa mengisi bahan bakar," ucapnya kesal saat melihat indikator bahan bakar yang menunjukkan ke angka E.


Luna keluar dari dalam mobil. Jalanan yang ia lalui terlihat sepi, tak ada taksi berlalu lalang, mungkin karena sekarang masih jam kerja.


Dari jarak dua puluh meter dari tempat Luna, Joni tiba-tiba saja mengerem mendadak.


"Hey! kenapa berhenti mendadak?" tanya Adrian seraya menatap kesal ke arah Joni.

__ADS_1


"Itu bukannya Dokter Luna." Joni menujuk kearah depan.


Adrian mengikuti arah telunjuk Joni, "Iya itu Luna, sedang apa dia disana."


"Sepertinya mobilnya mogok," ujar Joni.


Adrian kembali melihat kearah Joni, "Jo, apa aku bisa minta tolong sekali ini saja?"


Joni menoleh kearah Adrian, "Apa itu?"


"Kamu pulang naik taksi atau ojek saja ya."


"Hah, kau bercanda?"


"Aku serius, sekali ini saja." Adrian mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu kartu lalu di ulurkan kepada Joni, "Pakai sepuasnya, bagaimana?"


"Are you sure? (Kamu yakin?)"


"Of course, ambilah."


"Oke, jangan menyesal ya." Joni meraih kartu itu lalu turun dari dalam mobil.


Adrian mengambil alih kemudi dan langsung tancap gas untuk menghampiri Luna. Saat sampai di belakang mobil Luna, Adrian membunyikan klakson, membuat mantan istrinya itu terperanjat kaget terperanjat kaget.


Adrian keluar dari dalam mobil, melangkah mengahampiri Luna yang saat ini hanya bisa diam terpaku, "Butuh tumpangan?"


BERSAMBUNG 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊


Cerita ini hanya fiksi dan pandangan author yang memang berprofesi sebagai tukang halu 🤭🤣 Di novel ini tidak mengungkit masalah daerah, suku tertentu dan juga agama, jadi mohon maaf jika terdapat kesalahan karena author juga hanya manusia biasa,🙏


Sekali lagi terimakasih atas dukungannya kakak semua, Lope Lope sekebon 🍍.

__ADS_1


__ADS_2