
Luna melangkah kaki masuk kedalam unit apartment miliknya. Semua lampu sudah padam, kecuali lampu ruang tengah dimana sang ibu sedang tertidur di atas sofa karena menunggu kepulangannya.
Perlahan Luna bersimpuh di depan sofa itu. Menatap wajah satu-satunya orang yang paling ia hormati. Ia tersenyum melihat Ibunya yang cerewet, kini tertidur lelap. Tiba-tiba saja mata Ibu terbuka, ia kaget melihat Luna sedang berada di hadapannya.
"Kamu sudah pulang." Perlahan Ibu bangkit dari posisinya merapikan rambut seraya tersenyum kepada sang putri.
"Kenapa tidur disini Bu." Luna berdiri dari posisinya, duduk di samping sang Ibu.
"Ibu nunggu kamu pulang ... kenapa kamu lama sekali di rumah Jessy? Ibu khwatir kamu kenapa-napa di jalan."
"Jessy sedang butuh teman curhat Bu, dia baru saja resmi bercerai dari suaminya."
"Kasihan sekali dia, Ibu mau kalau kamu mau menikah lagi, cari pria yang benar-benar bertanggung jawab. Jangan sampai terulang lagi seperti dulu, pernikahan bukan sebuah permainan Luna, sekali gagal apa mau di kata tapi untuk kedua kalinya, Ibu tidak akan rela."
Luna mencoba tersenyum meski ia merasa telah mengkhianati kepercayaan sang Ibu dan juga pesan terakhir bapak. "Bu, malam ini aku mau tidur di samping Ibu ya, sudah lama."
"Tentu saja boleh, tapi kamu makan dulu ya ibu sudah masak banyak sekali." Ibu berdiri dari posisinya, mengulurkan tangan kepada sang putri. "Ayo, kok malah bengong."
Luna meraih uluran tangan sang Ibu. "Ayo Bu, kebetulan sekali, aku belum makan malam ya meskipun ini sudah larut, sekali-kali tidak apa-apa ya."
~
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Luna masih terjaga. Ia memeluk tubuh sang Ibu dari belakang. Pikirannya kembali bercabang-cabang. Antara cinta dan keluarga pilihan yang begitu berat. Sebelum ia dan Adrian memulai, ia ingin menikmati masa-masa damai bisa memeluk Ibu seperti saat ini.
Bu, maafkan luna, aku masih mencintainya sangat-sangat mencintainya. Apa aku salah lagi? Apa langkah yang aku ambil sekarang akan menyakiti hati Ibu dan Bapak, batin Luna.
Luna kembali mencoba memejamkan matanya, berharap bisa tertidur lelap. Ia ingin malam ini bisa bermimpi bertemu Bapak, meski hanya dalam mimpi setidaknya ia ingin mengutarakan isi hatinya, meminta izin untuk melawan arus yang menjadi penghalang terbesar.
...**...
Pagi kembali datang dengan cahaya matahari yang menembus kaca jendela yang tak tertutup tirai. Luna membuka mata dan sudah tidak ada Ibu disana. Perlahan ia bangkit, beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamar. Yang ia suka dari kehadiran Ibunya adalah aroma masakan yang selalu menyapa di pagi hari. Ia segera melangkah menuju dapur dan benar saja semua telah tersedia. Meski hanya sarapan namun menunya cukup lengkap. Ada ayam goreng, sayur sup, capcay dan juga buah.
Ibu tersenyum senang melihat sang putri makan dengan lahap. "Makan yang banyak, setelah ibu pulang, kamu jangan hanya sarapan roti saja."
Luna menghentikan aktivitas makanya, menegapkan kepala menatap Ibu. "Memangnya setelah acara ulang tahun yayasan, Ibu akan langsung pulang?"
"Iya, Ibu tidak bisa berlama-lama disini ada perkebunan bapak yang harus ibu urus ada makam bapak yang harus ibu kunjungi setiap hari ... kalau kamu libur, pulanglah sudah lama kamu tidak mengunjungi makam bapak."
"Iya Bu, sebenarnya aku ingin Ibu pindah tapi kasihan bapak disana." Luna melanjutkan makannya, agar cepat selesai.
...**...
__ADS_1
Mishel sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kali ini ia tidak menyetir sendiri karena ia ikut di mobil sang Papa, Johan Hudson. Ya, hari ini Johan datang untuk meninjau proyek di belakang gedung rumah sakit. "Kira-kira Adrian sudah datang ke lokasi atau belum?"
"Mana Mishel tau Pa." Mishel nampak cuek saat Papanya membahas Adrian.
"Kenapa kamu tidak tau? Papa kan sudah bilang dekati dia, kamu ini bagaimana" Johan menatap sang putri dengan kesal.
"Pa, aku tidak menyukainya lagi, dia bukan tipe ku. Aku tidak ingin di jodohkan dengannya." Mishel mencoba mematahkan harapan sang Papa, ya semalaman ia mencoba berpikir keras. Memang tidak ada gunanya ia berjuang saat orang yang di harapkan malah memperjuangkan orang lain.
"Apa! Lalu kenapa kemarin kamu bilang mau?" Johan nampak kaget dengan penuturan Mishel.
"Waktu itu aku belum yakin, sekarang aku baru sadar kalau tidak benar-benar menyukainya." Mishel menghela napas berat kemudian membuang pandangan kesebarang arah.
"Tidak! Pokoknya papa mau kamu menikah dengannya." Tegas Johan kepada Mishel.
Mendengar hal itu, Mishel kembali menoleh ke Papanya. "Bagaimana kalau aku sudah mempunyai pacar dan aku sangat mencintainya." Mishel langsung menutup mulutnya sendiri karena sudah bicara sembarangan. Pacar? Sejak kapan ia punya pacar, tanpa di sadari, ia malah membuat masalah baru.
"Apa! Kamu punya pacar?"
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1