MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.54 (Keputusan)


__ADS_3

Menjelang pagi, Luna terbangun saat mencium aroma masakan yang begitu pekat. Ia keluar dari kamar saat dan langsung pergi menuju dapur. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Ibu sudah menyiapkan sarapan sepagi ini.


Luna melangkah menghapiri Ibu. "Bu kok udah bangun, ini baru jam 4 subuh juga, kenapa masak sepagi ini?"


Ibu menoleh kearah Luna dengan tatapan sendunya. "Ibu hari ini pulang, kamu lupa?"


"Kemarin Ibu bilang tidak akan pulang dan mau menemani aku di sini lebih lama."


"Ibu sudah rindu rumah dan di sini Ibu tidak tahan kalau harus terus melihat kamu dan Adrian. Apa lagi Mamanya itu."


"Bu, Mama Adrian sekarang sedang di rawat di rumah sakit, beliau baru saja selesai di operasi ... apa ibu tidak mau menjenguknya?"


Ibu kembali menoleh kearah Luna, di tatapnya wajah sang putri dengan ekspresi tak percaya. "Ngapain juga Ibu jenguk dia Lun, kamu lupa apa yang sudah mereka lakukan kepada kita."


Luna menghela napas panjang. Entah kenapa ia merasa, semakin ia membujuk Ibu, semakin keras pula hati ibu untuk terbuka. "Sekali ini saja Bu, kalau kali ini ibu datang dan bicara kepada mereka dan Ibu belum juga merasa cocok ... aku juga akan mundur."


"Kamu yakin?"


"Ya aku sudah memikirkan hal ini. Semakin aku berusaha untuk melawan takdir, rasanya semakin buruk untuk hubungan kita berdua. Kalau memang sudah tidak ada jalan lagi, aku juga tidak akan memaksakan diri. Jadi ayo kita jenguk Mama Adrian, sekali ini saja sebelum Ibu pulang."


Ibu kembali hening sesaat. Ia pikir tidak ada salahnya memperjelas semua ketimbang membiarkan semua berlarut-larut tidak jelas. "Baiklah, Ibu mau."


...**...


Sekitar pukul delapan pagi. Mama sudah lebih baik dari kemarin. Ia bahkan sudah bisa lebih banyak bicara dan duduk di atas ranjang rumah sakit. Papa selalu siaga mendampingi Mama dan menyuapi sarapan untuknya.


"Mama harus makan yang banyak, biar cepat sehat," ujar Papa yang kembali menyodorkan sendok kedepan mulut Mama.


Mama tersenyum kepada Pap dan langsung melahap bubur itu. "Terimakasih Pa, oh iya Adrian mana?"


"Dia pergi keluar, katanya mau beli sesuatu," jawab Papa.


"Malam tadi samar-samar Mama dengar Papa bicara cukup lama dengan Adrian. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" tanya Mama penasaran.

__ADS_1


Papa terdiam sesaat. Ia bingung apa harus mengatakan hal itu sekarang, sejak malam tadi ia memikirkan cara mengatakan semua hal itu kepada Mama tapi Papa masih saja bingung untuk menyampaikannya. Tak ia sangka Mama bertanya terlebih dulu.


"Ayo pa cerita, sebenarnya ada apa?" tanya Mama lagi.


"Semalam Adrian bercerita tentang hubungannya dengan Luna, Papa mulai berpikir untuk membiarkan mereka menikah lagi, lagi pula semua sudah lama berlalu. Mereka juga sudah sama-sama dewasa, menurut Mama bagaimana?"


Mama terdiam sesaat, entah apa yang ia pikirkan sampai akhirnya kembali menatap Papa. "Terlalu banyak kesalahan di masalalu Pa, kita sudah banyak menyakiti hati Luna dan keluarganya."


"Iya Papa tahu, umur kita semakin tua, andai waktu itu kita tidak memisahkan mereka pasti sekarang kita sudah punya cucu. Kalau sekarang kita masih egois seperti dulu mungkin kita akan mati tanpa melihat anak kita menikah dan memiliki anak ... kita hanya perlu menurunkan ego sedikit untuk minta maaf kepada mereka," tutur Papa.


"Tapi bagaimana caranya Pa? Apa mereka akan memaafkan kita," ucap Mama.


Klek.


Pintu ruangan itu terbuka. Mama membulatkan matanya saat melihat Luna dan ibunya lah yang datang. Ia baru saja memikirkan cara untuk minta maaf kepada Ibu tapi orangnya sudah datang terlebih dahulu.


Luna menggadeng tangan Ibu memasuki ruangan. Sebenarnya ia cukup gugup tapi ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memperjelas semuanya. "Selamat pagi Om, Tante."


Papa dan Mama saling menatap. Mereka bingung harus bersikap seperti apa setelah semua yang terjadi.


Ibu meraih uluran tangan Papa. "Kabar baik."


"Saya pulang hari ini jadi sebelum berangkat Luna mengajak saya untuk menjenguk Mama Adrian," ujar Ibu.


"Luna, apa bisa kamu tinggalkan kami sebentar? saya mau bicara dengan ibu kamu," sahut Mama tiba-tiba.


Luna menoleh dan menatap Ibu. Ibu tersenyum kepada Luna dan langsung mengangguk perlahan. "Kamu tunggu Ibu di luar sebentar."


"Baik Bu." Luna berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Sekarang tinggalah para orang tua yang berada di ruangan itu. Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung, karena sudah begitu lama mereka tidak saling berhadapan seperti ini.


"Apa ada yang anda ingin bicarakan kepada saya, jika kalian ingin anak saya menjauhi Adrian, kalian tidak perlu khwatir, saya sudah tahu hal itu dan tidak akan membiarkan Luna bersama Adrian," ujar Ibu terlebih dulu.

__ADS_1


"Bukan begitu, malah sebaliknya kami ingin meminta maaf atas semua kesalahan kami sebagai orang tua dan mertua yang tidak baik di masalalu," sanggah Papa.


"A-apa, apa saya tidak salah dengar?" tanya Ibu memastikan.


"Anda tidak salah dengar ... dulu kami begitu egois karena terlalu fokus pada masa depan Adrian. Karena pada dasarnya anak-anak kita belum siap untuk berumah tangga, sekarang semua berbeda, anak-anak sudah dewasa, kita juga kian menua ... saya minta maaf karena sudah melakukan begitu banyak kesalahan di masalalu."


Tiba-tiba saja Mama menangis saat mengingat semua hal buruk yang telah ia lakukan. Melihat hal itu Ibu langsung melangkah mendekat dan langsung menepuk pelan pundak mantan besannya itu. Ibu tidak mengucapkan apapun namun ia tak bisa membendung haru atas masalah yang akhirnya sudah terselesaikan.


~


Di luar sana, Luna terlihat gelisah karena Ibunya belum juga keluar. Ia khawatir ibu dan kedua orang tua Adrian akan bertengkar. Di tengah ke khawatirannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Adrian, Joni," ucap Luna saat melihat Adrian dan Joni.


"Kamu kenapa berdiri di sini, ayo masuk," ajak Adrian.


"Jangan masuk kedalam, Ibu ku dan kedua orang tua kamu sedang bicara," ujar Luna.


"A-apa, jadi Ibu kamu ada di dalam?" tanya Adrian memastikan.


"Iya, sudah setengah jam yang lalu," jawab Luna.


"Wah sepertinya akan ada perang dunia ke dua," ujar Joni tiba-tiba.


Adrian menoleh dan menatap tajam kearah Joni. Ia menghela napas berat dan mulai merasa khwatir.


Klek.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ibu muncul dari sana dan langsung menatap Adrian dan Luna secara bergantian. Adrian bergerak cepat menyalami tangan Ibu. Ibu hanya tersenyum kepada Adrian tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Bu, bagaimana?" tanya Luna.


"Ayo kita pulang, antar ibu ke Bandara," ajak Ibu dan langsung menarik tangan Luna agar berjalan mengikutinya.

__ADS_1


Bersambung 💓


__ADS_2