
Kalian saling kenal?" tanya Hendry kepada Luna.
Luna menelan salivanya sekuat tenaga, situasi ini begitu memberatkannya. Bukan karena ia malu akan masalalu, tapi melihat sang sahabat terlihat begitu menyukai Adrian, ia tidak ingin membuat Mishel menjadi tidak nyaman akan hubungan ia dan sang mantan di masalalu.
"A-aku ... sebenarnya ...."
"Ahaha, pasti kamu sudah lupa ya," sahut Adrian tiba-tiba kemudian melihat kesamping, dimana Hendry sedang duduk, "Beberapa waktu yang lalu, aku masuk rumah sakit, kebetulan dia adalah dokter yang menangani ku."
"Oh begitu, aku pikir kalian kenal dekat," ucap Hendry.
"Luna memang dokter yang sibuk, wajar kalau dia tidak hafal setiap wajah pasiennya," ujar Mishel.
Luna tak bergeming, ia berusaha tersenyum tapi hatinya berteriak. Ia kesal karena Adrian mempermainkannya. Tapi ia tetap berusaha menutupi. Lagi-lagi ia menggerutuki diri, kenapa ia dan sang mantan harus berada di situasi seperti ini, baginya Adrian adalah masalalu. Tapi takdir seolah menggiringnya untuk kembali keputaran yang membuat hatinya melawan ego diri.
"Ehm, aku ke toilet sebentar, permisi." Luna beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah dengan cepat menuju toilet.
Adrian hanya tertegun seraya memandangi kepegian sang mantan istri. Ia tahu Luna pasti sangat kesal padanya. Entahlah ia juga tidak tahu kenapa ia menjadi egois seperti ini, tapi saat melihat Luna, Hendry sangat dekat dan juga saat Luna membiarkannya di dekati oleh Mishel, ia merasa sangat kesal.
"Sepertinya aku juga harus ke toilet," ucap Adrian kepada Mishel.
"Oh iya, toilet pria ada disana, ikuti saja lorong itu, di depan toilet wanita," ujar Mishel.
"Iya, terimakasih." Adrian beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah mengikuti arahan Mishel.
~
Di dalam toilet, Luna menatap nanar kearah cermin yang ada di depan wastafel. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Adrian di kediaman keluarga Wilson.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini," gumam Luna sendiri.
__ADS_1
Tak ingin larut dalam pikirannya sendiri, Luna mencuci tangannya kemudian hendak melangkah keluar. Baru saja ia meraih handel pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan yang paling membuatnya terkejut karena Adrian tiba-tiba saja masuk ke dalam dan langsung mengunci pintu.
"Hey, are you crazy?" Luna menatap Adrian dengan tatapan kesal namun Adrian malah mendorong tubuhnya hingga membentur tembok.
"Katakan padaku, kamu menyukai Hendry? Dia terlihat sangat menyukai kamu," tanya Adrian dengan raut wajah seriusnya.
"Apa maksud kamu, aku tidak mengerti ... aku dan kak Hendry sudah seperti kakak adik sejak lama, kamu tidak tahu apa-apa jadi jangan sok tau," ucap Luna berbisik.
"Lalu kenapa kamu pura-pura tidak mengenaliku?" tanyanya lagi.
Luna diam tertegun sesaat, ia menatap wajah Adrian dengan intens. Lagi-lagi darahnya berdesir hebat hanya karena sentuhan tangan sang mantan pada kedua sisi pundaknya. Ia tahu situasi seperti ini akan semakin membahayakannya, ia akan goyah dan akhirnya kembali terbawa perasaan cinta yang tersisa kepada Adrian.
"Karena ... karena Mishel menyukai kamu."
Deg.
Adrian hanya diam tanpa menimpali. Dalam hati kecilnya ia begitu kecewa karena ternyata Luna lebih mementingkan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Mendengar pertanyaan Adrian entah kenapa bibir Luna terasa begitu keluh. Ya, ia memang tak rela tapi ego diri dan rasa hutang budi pada keluarga Hudson membuatnya tak bisa berkata sesuai kata hati.
"Lebih baik lepaskan aku sekarang, jangan bicara disini. Bagaimana jika ada yang melihat dan mendengar."
"Lalu dimana? Luna aku mau kamu mendengarkan kata hatimu ... aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku kembali jatuh cinta kepada kamu untuk kesekian kalinya, perjodohan antara aku dan teman mu itu tidak akan pernah terjadi, mengerti."
Setelah mengatakan hal itu Adrian melangkah keluar dari dalam toilet. Sementara Luna masih diam terpaku di posisinya. Ia memegangi bagian jantungnya, debaran itu terasa begitu nyata, masih sama saat ia dan Adrian saling jatuh cinta sembilan tahun yang lalu.
~
Saat Luna kembali ke ruang keluarga. Ia bisa melihat Mishel duduk begitu dekat dengan Adrian. Ia tidak menyangka akan terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini.
__ADS_1
Kamu memang tidak menginginkan perjodohan ini, tapi bagaimana dengan kedua orang tua mu, batin Luna.
"Eh Luna kenapa berdiri di situ," sahut Mishel saat menyadari kehadiran Luna.
"Oh iya, kalian sedang mengobrol apa?" tanya Luna saat kembali duduk di samping Hendry.
"Ini aku sedang bertanya tentang pekerjaan Adrian, ternyata dia Arsitek terkenal loh, gedung museum yang lagi viral di kota X itu juga dia yang merancangnya," ujar Mishel dengan sangat antusias.
"Kebetulan aku akan membangun hotel baru, aku harap kita bisa bekerja sama," ucap Hendry kepada Adrian.
"Tentu saja, tadinya aku ingin buru-buru pulang ke kota ku, tapi ternyata kota ini bagus juga, membuatku betah berlama-lama," ucap Adrian kemudian melirik kearah Luna.
~
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Waktunya untuk kembali pulang. Adrian sudah pulang terlebih dahulu. Sementara Luna yang juga hendak pulang, di antar oleh Hendry sampai ke halaman depan.
"Kak Hendry tidak perlu mengantar ku sampai ke mobil."
"Tidak apa-apa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga.
Luna menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Hendry lalu menoleh ke samping dimana Hendry berdiri, "Apa itu?"
Entah kenapa mendadak Hendry menjadi grogi karena di tatap oleh Luna. Tapi ia tetap bertekad untuk menyatakannya, "Ehm, jadi begini ... bagaimana tanggapan kamu tentang ku?"
Luna mengerutkan keningnya, saat mendengar pertanyaan Hendry, "Kak Hendry baik, ramah dan juga humoris ... memangnya kenapa, kakak tiba-tiba saja bertanya tentang hal ini?"
"Apa aku termaksud tipe pasangan ideal mu?"
"A-apa, pasangan?"
__ADS_1
Luna cukup terkejut mendengar pertanyaan Hendry. Ya, akhirnya ia paham kenapa Adrian begitu cemburu dengan perhatian Hendry padanya. Tenyata dugaan Adrian benar, ternyata kakak dari sahabatnya itu sepertinya memiliki perasaan khusus padanya.
Bersambung 💓