
...Aku pernah kehilangan banyak hal karena mencintai seseorang. Saat semesta mempertemukan kami kembali, memori akan kenangan manis dan kepedihan seolah menyapa di saat yang bersamaan. Ada satu hal yang begitu tabu dan tak bisa aku lawan yaitu kenyataan bahwa aku akan kembali terluka saat mencoba berjalan kearah mu....
...~LUNA ANANDITA~...
.
.
.
.
Luna beranjak turun dari dalam mobil. Ya, malam ini ia memiliki janji makan malam dengan keluarga sahabatnya, Mishel. Ia tersenyum saat melihat seorang kepala pelayan sedang berdiri di depan pintu seraya membungkukkan kepala kepadanya.
"Selamat datang Nona Luna, mari ikut saya."
"Iya pak, terimakasih."
Luna mengikuti langkah kepala pelayan itu. Sepanjang perjalanan menuju ruang keluarga, ia melewati lorong-lorong demi lorong layaknya labirin. Rumah itu memang sangat mewah dan besar. Dulu sekali saat Luna pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu ia begitu takjub, namun sekarang semuanya terasa biasa saja.
Sesampainya di ruang keluarga. Ia tersenyum melihat kehangatan yang tercipta antara Mishel , kakak dan kedua orangtuanya. Kadang Luna begitu iri dengan sahabatnya bukan karena Mishel bergelimang harta tapi karena Mishel mempunyai keluarga yang hangat dan lengkap.
"Selamat malam semuanya," sapa Luna.
"Akhirnya yang di tunggu datang juga, duduklah," ucap Johan Hudson.
Luna hendak duduk di samping Mishel, namun mishel seolah sengaja pindah agar Luna duduk di samping sang Kakak, Hendry. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya ia duduk di samping Hendry.
"Wah kalau di lihat-lihat kakak dan Luna sangat cocok loh," ucap Mishel.
"Iya, Mama setuju," ucap ucap Mama Mishel.
Luna dan Hendry tak bergeming. Tapi terlihat jelas jika mereka tiba-tiba saja menjadi canggung satu sama lain.
__ADS_1
"Luna bagaimana pekerjaan kamu, lancar?" tanya Mama Mishel.
"Lancar tante, terimakasih karena saya sudah di tempatkan di rumah sakit yang dekat dengan apartement saya," ujar Luna.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Mama Mishel lalu tersenyum kepada Luna.
"Jangan salah, Luna banyak di incar rumah sakit ternama loh," ucap Mishel seraya melirik kearah Luna.
"Luna tidak mungkin berpaling dari rumah sakit kita, dia sudah menjadi bagian keluarga dan tidak akan pernah lepas," sahut Papa Mishel tiba-tiba.
Suasana menjadi hening sesaat, Luna hanya bisa diam tanpa menimpali. Ucapan Johan Hudson barusan bagaikan pengingat bahwa ia sampai sejauh ini karena jasa keluarga Hudson. Kadang ia merasa terbelenggu, hidup dengan bayangan balas budi, tapi ia sudah sejauh ini, Ibu bahagia, punya banyak uang dan pekerjaan yang mumpuni ia harus bersyukur.
"Ehm, bukanya kita mengundang Luna untuk makan malam? Ini sudah lewat jam tujuh," sahut Mishel.
"Sabar, masih ada satu tamu lagi," ujar Hendry.
"Hah, siapa?" tanya Mishel dengan kening yang mengkerut.
Belum sempat Hendry kembali angkat bicara, kepala pelayan tiba-tiba datang, tidak sendiri tapi bersama dengan seorang pria tampan yang membuat mata Luna dan Mishel membulat seketika.
"Nah itu dia orangnya," ucap Hendry lalu beranjak dari duduknya dan langsung menjabat tangan Adrian.
Bukan cuma Hendry, kedua orangtuanya, Mishel dan juga Luna ikut berdiri. Luna nampak sangat canggung, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Adrian di tempat itu meskipun ia tahu kalau kedua orang tua Mishel memang menginginkan sang mantan menjadi menantunya.
Mishel terlihat malu-malu bercampur khwatir saat berdiri di depan Adrian. Ia khawatir Pria yang ada di hadapannya sekarang akan membocorkan masalah makan malam, dimana bukan ia yang datang tapi, Luna.
"A-apa kabar, senang berjumpa lagi," ucap Mishel seraya mengulurkan tangannya kehadapan Adrian.
Adrian terseyum tipis, namun dalam hati ia berkata, ternyata dia yang bernama Mishel, dia pasti khwatir aku memberitahu masalah makan malam itu kepada kedua orangtuanya, tapi tenang saja, aku malah berterimakasih karena saat makan malam itu aku bisa bertemu Luna, batin Adrian.
Adrian meraih uluran tangan Mishel, "Ya, senang bisa bertemu lagi."
Huh, syukurlah dia tidak membahas hal itu, batin Mishel.
"Luna perkenalkan ini Adrian, anak sahabat Om," ucap Papa Mishel tiba-tiba kepada Luna, sontak Luna yang sejak tadi berdiri di belakang Mishel perlahan maju kehadapan Adrian.
__ADS_1
Mata mereka kembali bertemu, Adrian terseyum namun tidak demikian dengan Luna. Perlahan tangan Luna terulur kedepan.
"Perkenalkan, saya Luna teman Mishel."
Perlahan senyum Adrian mulai mengkerut. Ia tidak menyangka Luna akan menganggapnya sebagai orang asing di hadapan orang lain.
Apa ini yang kamu mau, menjadi asing di hadapan semua orang, batin Adrian.
"Adrian Wijaya," ucapnya saat meraih uluran tangan Luna.
~
Makan malam akhirnya di mulai. Seolah semua sudah di atur, Mishel duduk di samping Adrian. Sementara Luna duduk di samping Hendry. Tak ada yang mengobrol saat makan malam berlangsung, itu sudah menjadi kebiasaan bagi yang mengerti tata karma saat makan bersama.
Adrian tak hentinya melirik kearah Luna. Ia merasa kurang nyaman saat melihat Hendry perhatian kepada Luna. Ia mempunyai firasat bahwa kakak dari Mishel itu menyukai sang mantan istri.
~
Makan malam selesai, setelah beberapa saat mengobrol Johan Hudson beserta istri memilih meninggalkan Luna, Hendry, Adrian dan Mishel di ruang keluarga. Mereka seolah memberi ruang agar keempat orang itu lebih mengenal satu sama lain.
Luna terlihat lebih banyak diam, ia merasa kurang nyaman karena harus berhadapan dengan Adrian dalam situasi seperti ini. Sementara itu Adrian yang melihat Luna acuh padanya mulai tak bisa menahan diri.
"Aku perhatikan sejak tadi Luna hanya diam," sahut Adrian tiba-tiba.
"Ahaha, Luna memang orang yang pendiam, maaf ya Adrian," ucap Mishel.
"Padahal kami saling kenal tapi sepertinya dia lupa," ucap Adrian dan berhasil membuat Luna membulatkan matanya tak percaya.
"Benarkah?" tanya Mishel seraya menoleh kearah Luna.
Luna tak melepaskan tatapnya dari Adrian. Ia berpikir apa mantan suaminya itu akan membuka cerita masalalu mereka. Ia bukan tidak ingin dan sengaja menutupi, tapi saat melihat sang sahabat yang begitu antusias dan menyukai Adrian, ia tidak ingin hubungan di masalalu antara dirinya dan Adrian malah membuat keadaan antara ia dan Mishel menjadi tidak nyaman.
Bersambung 💓
Assalamualaikum Semuanya I be back, cukup lama author tidak update dan itu semua karena author sakit. Semoga saja kedepannya kondisi author semakin membaik agar terus bisa berkarya dan menghibur readers semua, author mohon doa dan dukungan kakak-kakak semua agar author sembuh seperti sedia kala dan bisa Crazy up lagi. Author aktif up date 1-2 bab perhari ya kakak, tergantung situasi dan kondisi author 🙏
__ADS_1
Happy reading ya readers 🙏 😍