MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.42 (Ayo kita mencoba satu kali lagi)


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh malam, Luna meninggalkan apartement Jessy. Bukan rasa tenang yang ia dapatkan setelah semua yang telah terselesaikan. Hati dan logikanya kembali beradu. Ucapan Jessy terus terngiang-ngiang.


Waktu berjalan begitu lambat, mengiring ia dalam persimpangan masa silam yang membuatnya kehilangan arah. Adrian dengan cinta yang di tawarkan, membuat cahaya hati yang dulu redup perlahan kembali menyala.


Luna terus mencoba melawan rasa getir yang terus menghujam, meresap kerelung hatinya. Namun ia tak juga bisa menghindari satu perasaan yang hanya ia dapat dari satu orang, baik itu dulu maupun sekarang. Tak ada satupun orang yang bisa menggantikan posisi Adrian di hatinya.


Apa aku boleh mencobanya, setidaknya aku tidak ingin menyesal karena membiarkan dia pergi lagi dariku, batin Adrian.


...**...


Di lain tempat, Adrian yang sedang sibuk di belakang meja kerja, terlihat gelisah. Sudah seharian ini Luna tak membalas satu pun pesan darinya. Jika menelisik kebelakang, ia dan sang mantan pernah melewati masa-masa indah dengan saling menyapa lewat telepon di masa SMA. Indah pada waktunya, berlalu seiring masa, itulah yang terjadi.


Namun hari ini, semangatnya kembali goyah karena saat ia sedang berjuang, Luna terus menghindar, seolah mengatakan menyerah lah tak ada jalan untuk memperbaiki semuanya.


Malam-malam yang terlewati terasa begitu semu. Rembulan yang menemani telah berlalu, bahagia yang dulu terasa nyata kini senyap, menghilang bagaikan di telan pekatnya malam.


Adrian meraih ponselnya yang ia letakkan di samping laptop. Raut wajahnya masih begitu sendu, saat sebuah foto dari masalalu ternyata tersimpan rapi di galeri ponselnya. Yang indah hanyalah sementara namun yang abadi adalah kenangan, rasa ikhlas yang dulu pernah terucap hanya bibir, namun hati dan sanubari bergejolak tak terkendali.


Tiba-tiba saja Adrian merasa rindu. Setidaknya mendengar suara Luna ia akan kembali tenang. Di alihkan-nya galery ponsel ke panggilan telepon. Akhirnya pangilan masuk namun tak ada jawaban, ia tetap menunggu dan mungkin akan mencoba lagi dan lagi sampai panggilan telepon itu di terima.


~

__ADS_1


Masih dalam perjalanan menuju Apartement. Dering ponsel mengalihkan fokus Luna, ia melirik ponselnya yang tertera nama Adrian. Kebetulan atau memang takdir, saat ia memikirkan sang mantan suami, bertepatan dengan itu juga telepon itu masuk. Sempat ragu, hingga akhirnya ia meraih ponselnya dan menerima panggilan telepon itu.


[Kamu sudah tidur?]


Mendengar suara Adrian di saat hati sedang bergejolak, membuat matanya Luna kembali memanas, ia ingin tetap diam namun lagi-lagi ia tak bisa menahannya, "Aku sedang dalam perjalanan pulang."


[Maaf karena aku menelpon malam-malam seperti ini ... aku merindukan mu, hanya ingin mendengar suaramu sebentar saja.]


Akhirnya air mata mengalir dari sudut mata Luna, diam tanpa suara. Tak bisa mendustai hati, ia juga merindukan masa-masa saat semua tanpa jarak, ia bisa dengan leluasa menghirup aroma nafas tubuh sang mantan. Dulu ia tak perlu tersiksa karena rindu, namun semua itu dulu sebelum prahara, memutuskan segalanya.


[Kamu baik-baik saja? Apa aku mengganggu perjalanan mu ... baiklah, aku akan menutup teleponnya sekarang, sampai jumpa besok.]


"Bisakah kita bertemu, sekarang?"


[Tentu saja, kamu ingin bertemu dimana?]


"Taman kota, aku tunggu kamu di sana."


Luna mematikan panggilan telepon itu. Ia menarik napas panjang, ini saatnya memperjelas semua yang membuat hatinya gelisah sekian lama.


~

__ADS_1


Di sebuah bangku taman. Luna menunggu seraya terus merenung. Jujur ia masih bertanya-tanya, apa keputusannya ini sudah tepat, apa kedepannya ia tidak akan terluka dan masih banyak hal lainnya.


Lagi-lagi hati ku menang melawan logika yang sejak awal meragukan, batin Luna.


"Luna!" seru Adrian seraya melambaikan tangan dari jarak dua puluh meter, dimana ia memarkirkan mobilnya.


Luna memandangi Adrian seraya tersenyum tipis. Ia senang melihat rona bahagia yang terpancar dari mantan suaminya itu, andai sejak awal mereka tak berpisah pasti ceritanya akan berbeda, mungkin mereka sudah mempunyai buah hati dan hidup bahagia.


Adrian berlari menghampiri Luna. Ia sangat senang karena di tengah rasa rindu yang menderanya, sang mantan meminta untuk bertemu. "Apa kamu sudah menunggu lama?" Adrian terlihat ngos-ngosan karena berlari tadi.


Luna berdiri dari posisinya, "Kenapa kamu berlari? Berjalan biasa saja."


"Aku senang karena kamu mengajakku bertemu." Adrian masih berusaha mengatur napasnya.


Luna menatap Adrian sejenak. Ya, hatinya tak salah, ia menginginkan cinta itu kembali, meski jalan untuk bersama selamanya masih tertutup kabut restu kedua keluaga. "Baiklah ... ayo kita coba, akhirnya aku tau jalan mana yang akan aku tempuh, momen bahagia akan cepat berlalu, mungkin nanti kamu akan bosan dengan ku, menganggap aku menyebalkan seperti dulu tapi setidaknya aku ingin bersamamu sekali lagi."


Adrian tak bisa berkata-kata, ia langsung mengambil langkah cepat dan langsung memeluk Luna. "Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan pernah bosan dengan mu dan kamu bukan wanita yang menyebalkan, percayalah aku bukan Adrian yang dulu ... aku berjanji restu itu akan kembali kita dapatkan."


Bertemu kembali di saat usia yang lebih dewasa, pikiran yang matang dan cinta yang lebih kuat. Akankah mereka kembali mendapatkan restu yang menjadi penghalang terbesar? Biarkan semua mengalir seiring waktu, biarkan takdir memulai perannya. Yang perlu mereka siapkan hanyalah mental untuk kemungkinan terburuk.


"Ya, baiklah biarkan aku percaya padamu kali ini."

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊


__ADS_2