
Sesampainya di rumah sakit, Luna melangkah dengan cepat menuju ruang kerja Mishel. Ia mendapat laporan dari salah satu pelayan club yang memang ia bayar untuk memberinya informasi kalau saja Mishel kembali mabuk-mabukan.
Klek.
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Mishel sedang duduk di kursi kebesarannya seraya memijat-mijat kepala yang terasa pusing karena malam tadi ia terlalu banyak minum. Ia melihat Luna dengan malas.
"Malam tadi kamu ke club lagi?" tanya Luna yang sudah duduk di hadapan Mishel.
"Kalau iya kenapa, apa peduli mu," ucap Mishel lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Luna menghela nafas berat. Bagaimana tidak, jika sampai orang tua Mishel tahu, yang terkena masalah bukan hanya sahabatnya itu tapi dirinya juga. Ya, kedua orang tua Mishel meminta Luna untuk menjaga Mishel agar tidak salah pergaulan apalagi sampai mabuk-mabukan lagi.
"Kamu bukan anak kecil lagi, apa kamu tidak lelah bermain-main seperti ini, kemarin kamu membatalkan acara amal lalu kamu pergi ke club untuk mabuk-mabukan ... Mishel come on sampai kapan akan membuat orang tua mu khwatir, kamu tahu Papa mu akan marah besar jika mengetahui semua ulah mu itu."
"Ya! Ini semua juga gara-gara kamu, kamu bermain di belakang ku, Papa ku akan lebih marah saat mengetahui kamu merebut Adrian dariku ... anyway it's my life, not you! Apa kamu sudah merasa hebat sekarang? Hey kamu tidak akan sampai ke titik ini kalau bukan karena keluaga ku."
Luna mencengkram erat kedua tangannya. Memang benar ia bisa bersekolah karena besiswa dari yayasan keluaga Mishel, namun ia berusaha sampai bisa menyandang gelar lulusan terbaik atas kerja kerasnya belajar siang malam, "Kau jahat sekali."
Mishel berdiri dari posisinya seraya menunjuk kearah Luna, "Be-beraninya kamu ... kau lupa aku siapa?"
"Kamu adalah anak pemilik yayasan, jadi bersikaplah seperti itu. Kamu sengaja membuat ulah agar aku di marahi Papamu? kamu tahu sikapmu sekarang benar-benar sangat kejam dan menyedihkan." Luna langsung berbalik pergi meninggalkan ruang kerja Mishel.
Mishel yang masih berdiri dari posisinya terperanga tak percaya. Ia memang kesal kepada Luna tapi ia tak menyangka dampaknya akan berkelanjutan seperti ini, dia yang memulai dan ia yang bingung bagaimana mengatasinya.
"Wahh, kenapa aku selalu kalah saat berdebat dengannya."
...**...
Jam praktek sudah selesai. Mika melangkah mendekati Luna yang duduk termenung di belakang meja kerjanya. Ya, Mika merasa jika sang atasan sedang tidak fokus hari ini. Beberapa kali Luna melamun saat pasien sedang berkonsultasi.
"Dokter lagi sakit ya?" tanya Mika saat duduk di hadapan Luna.
Luna menatap Mika seraya menghembuskan nafas panjang, "Tidak, aku hanya sedang banyak fikiran."
Mika bisa menebak jika Luna sedang memikirkan masalah yang kemarin. Ia tahu Mishel dan Luna sangat dekat dan baru kali ini keduanya bertengkar, entah apa sebabnya Mika tak ingin ikut campur terlalu dalam, "Dok, makan siang di kantin yuk."
Tiba-tiba saja Luna ingat, nasi goreng yang di berikan oleh Adrian. Ia berdiri dari posisinya, lalu mengambil sebuah food jar yang ia letakkan di atas nakas yang ada di samping jendela.
__ADS_1
"Dokter bawa bekal dari rumah?" tanya Mika saat Luna meletakkan food jar itu di atas meja.
"Bukan, ini di berikan oleh seseorang," jawabnya seraya membuka food jar itu.
"Wuw dari orang sepesial ya? Biar saya tebak ... itu dari sang mantan kan," tanya Mika.
Luna kembali menatap Mika yang duduk di hadapannya, "Kok kamu bisa tahu?"
"Ya tahu lah, dari ekspresi wajah yang tiba-tiba saja berbunga-bunga dan senyum yang mengembang sempurna."
"Lebay kamu."
"Haha, ngomong-ngomong udah balikan ya?"
"Hus ngomong apa sih ... bukan balikan tapi baikan, kami hanya berteman."
"Dok, jujur deh ... dokter masih punya perasaan dengan dia kan?"
Luna yang baru saja menelan makanannya, langsung meminum air putih lalu kembali menatap Mika, "Untuk apa lagi, semuanya hanya masalalu kalaupun ada rasa untuk apa? Kamu tidak tahu saja, penghalangnya banyak sekali."
"Dok, kalau memang masih suka, masih cinta jujur saja ... ini adalah hidup dokter, berat ataupun tidak kalian lewati bersama, mungkin tuhan mempertemukan dokter dan mantan, itu adalah pertanda bahwa kisah kalian belum selesai."
...**...
Sekitar pukul lima sore Luna dan Mika baru saja selesai melakukan tindakan operasi seorang pasien geger otak. Nampaknya hari ini Luna harus bekerja lembur lagi karena masih ada dua pasien lainnya yang harus ia tangani malam nanti.
"Luna!"
Luna dan Mika menghentikan langkahnya, mereka berbalik kearah sumber suara, "Kak Hendry," ucap Luna saat melihat Hendry melangkah kearahnya seraya tersenyum lebar.
"Dok, saya duluan ya," pamit Mika yang langsung melangkah pergi dengan cepat.
"Kamu ada waktu?" tanya Hendry.
"Ya aku baru saja selesai." Luna melihat jam di tangannya, "Aku punya waktu sekitar dua jam, sebelum operasi selanjutnya."
"Baguslah, ayo temani aku ke lokasi proyek pembangunan, di belakang rumah sakit ini," ajak Hendry.
__ADS_1
"Untuk apa? Aku tidak ada urusan apapun disana," ujar Luna.
"Tentu saja ada, aku ingin memperlihatkan kamu sesuatu," ucap Hendry.
"Ya, baiklah."
...***...
Luna dan Hendry akhirnya sampai di lokasi proyek. Belum ada pembangunan apapun tapi, bahan-bahan bangunan mulai berdatangan. Mereka kesana dengan berjalan kaki, karena jarak gedung rumah sakit dan lokasi pembangunan gedung baru hanya berjarak tiga puluh meter saja.
"Kamu lelah?" tanya Hendry.
"Ah tidak kak," jawab Luna.
"Kamu lihat disana, aku membujuk papa ku untuk menjadikan gedung yang ada di sana nanti sebagai pusat kesehatan untuk penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus, nanti disana mereka akan mendapatkan perawatan medis dan juga bimbingan."
"Benarkah? Wah aku sangat senang sekali, kemarin aku baru saja dari panti, dan mereka mengeluhkan fasilitas yang kurang memadai dan juga fasilitas kesehatan yang masih minim, jika semua benar-benar terwujud, aku akan membawa mereka kemari."
"Untuk itulah aku mengajakmu kemari, karena jika bangunan itu selesai, aku ingin kamu mengurus semuanya ... ini memang bukan bidang ku, tapi semenjak Papa mempercayakan proyek ini kepada aku dan Mishel, aku jadi memikirkan banyak hal yang ingin aku wujudkan."
Luna menoleh kearah Hendry yang berdiri di sampingnya, Kenapa Kak Hendry berbeda sekali dari Mishel, batin Luna.
"Ayo kita makan, aku belum makan siang saat kemari," ajak Mishel.
"Apa! Ini sudah sore dan kak Hendry belum makan siang," ucap Luna dengan kedua mata membulat sempurna.
"Iya, aku ingin makan bersama mu, ayo," ucap Hendry yang tiba-tiba saja reflek menarik tangan Luna agar berjalan mengikutinya.
Namun tiba-tiba saja langkah keduanya terhenti saat sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Seorang pria berkacamata hitam keluar dalam mobil.
Ya, orang itu adalah Adrian.
Adrian membuka kacamatanya, sorot matanya begitu tajam, ia fokus melihat tangan Luna yang di genggam oleh Hendry.
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊
__ADS_1
Di usahakan malam nanti ya, insyaallah kalau gk ngantuk 🤭