MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.50 (Tabu)


__ADS_3

...Ingin ku berlari menjauh.Tapi wajahmu menghalangi...


...Langkahku pun terhenti untuk padamu...


...Tabu tak mungkin kita lawan namun ku tetap mau kamu....


...(Lirik di ambil dari lagu berjudul Tabu yang di populerkan oleh Brisia Jodie)...


.


.


.


Malam semakin pekat. Pesta sudah selesai di gelar. Di sebuah sudut ruangan yang cukup sepi, Mishel dan Joni sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius. Bisa di pastikan alur pembicaraan mereka adalah tentang ulah Mishel di pesta tadi.


"Kenapa kamu bilang kita pacaran?" Joni menatap serius, Mishel yang sedang berdiri di hadapannya.


"Aku tidak punya pilihan lain, hanya ada kamu di sana. Lagi pula ini hanya sandiwara." Mishel mengubah posisinya menjadi menghadap jendela, memandangi langit malam yang malam ini sepi tanpa bintang.


Joni menghela napas panjang. "Jadi ini hanya sandiwara, tapi untuk apa?"


"Ini demi Luna dan Adrian. Aku ingin mereka bersatu dan langkah pertama yang harus di lewati adalah menghentikan perjodohan ku dengannya. Kalau kamu memang menganggap Adrian sahabat mu, ikuti saja cara ku."


"Baiklah aku setuju, tapi ini hanya sampai mereka bersatu. Jujur aku takut melihat wajah Papa kamu saat pingsan tadi." Joni kembali menghela napas berat seraya menarik rambutnya ke belakang.


Mishel menoleh kearah Joni seraya mengulurkan tangan. "Oke, tenang saja ayo kita kerja sama.


Joni meraih uluran tangan Mishel. Akhirnya meski terasa berat ia menerima tawaran Mishel.


...**...


Di lain tempat, Luna dan Ibu sedang duduk di kursi meja makan seraya menikmati secangkir teh. Sebenarnya Luna ingin tidur di kamar tapi Ibu meminta bicara padanya. Ibu terlihat beberapa kali menghela napas saat menatap wajah Luna.


"Ibu mau bicara apa? Sejak tadi Ibu hanya memandangi ku saja," ujar Luna tiba-tiba.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu harus memulai dari mana, Ibu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu menjalin hubungan lagi dengan Adrian," tutur Ibu lalu memijat keningnya yang terasa pusing.


"Selama bertahun-tahun, aku berusaha melupakan dia Bu. Aku melakukan semua kesibukan yang menyita waktu ku. Aku pikir aku akan baik-baik saja setelah kepergian dia tapi ternyata aku salah, aku masih mencintai dia ... aku harus bagaimana Bu," beber Luna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia pikir ini saatnya untuk ia mengatakan semuanya kepada Ibu.


"Luna dengar Ibu baik-baik, kamu akan menyesal dan sakit seperti dulu. Masalalu tidak perlu di bawa ke masa sekarang. Ibu mau kamu melupakan dia nak, ingat pesan bapak kamu sayang," tutur Ibu.


"Kami sedang berjuang untuk bersama kembali Bu, aku harap Ibu merestui. Kami bukan anak remaja lagi seperti sembilan tahun yang lalu sekarang kamu sudah sama-sama dewasa," ujar Luna.


"Oke anggap saja Ibu mengerti situasi kamu. Tapi bagaimana dengan keluarga Adrian? Kamu tidak lihat bagaimana cara Mamanya m menatap kamu ... jika kamu tetap bersikeras, ibu akan merestui kalian hanya jika Mama dan Papa Adrian juga merestui dan meminta maaf atas apa yang sudah mereka lakukan pada keluarga kita di masalalu," tutur Ibu lalu melangkah pergi meninggalkan Luna sendirian.


Luna menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia masih belum mengerti, bagaimana ia bisa membuat orang tua adrian menuruti semua permintaan Ibu, saat ini ia hanya berharap Adrian bisa membujuk orang tuanya. Jika tidak, ia lebih baik mundur dari sekarang.


Dreettt dreettt.


Ponselnya tiba-tiba saja berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap layar ponselnya dan ternyata panggilan telepon itu dari Adrian.


"Ya, kenapa?"


[Aku di taman, turun lah sebentar aku ingin bicara.]


~


Sesampainya di taman yang ada di kawasan gedung apartemen. Luna menghela napas panjang saat melihat Adrian sedang duduk di sebuah kursi taman tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melangkah dengan cepat menghampiri mantan suaminya itu.


"Ini sudah jam sepuluh malam, kenapa mengajak ku keluar," ucap Luna saat sampai di hadapan Adrian.


Melihat kedatangan Luna, Adrian berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk Luna. Perjuangan baru saja di mulai dan ia kekuatannya hanya ada pada Luna, meski terasa berat tapi ia yakin bisa melewati semuanya dan mendapatkan restu itu kembali.


"Aku hanya ingin memelukmu, aku harap kamu tidak akan goyah karena ucapan Mama," ucap Adrian yang masih memeluk Luna.


Luna menggerakkan tangannya, menepuk-nepuk punggung Adrian perlahan. "Ya, aku tidak akan goyah ... jika pada akhirnya kita tidak di takdirkan bersama, aku sudah menyiapkan mental ku untuk itu."


Adrian melepaskan pelukannya dan langsung menatap Luna dengan serius. "Jangan pernah berpikir ini tidak akan berhasil. Percaya padaku, apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama. Ada atau tidak restu dari mereka."


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku hanya kembali padamu jika kedua orang tua kita merestui. Apa kamu tidak belajar dari pengalaman masalalu, cobalah berpikir realistis, kebahagiaan hanya akan menjadi milik kita jika mereka meretui."

__ADS_1


"Bu-bukan begitu maksud ku, aku hanya--"


"Stop! Aku butuh waktu untuk sendiri sekarang, aku tidak marah tapi perasaan dan pikiran ku sedang kacau, masuklah ini sudah malam," ucap Luna lalu melangkah pergi meninggalkan Adrian sendiri.


Adrian tak bisa melakukan apapun. Ia sadar ia salah dan mulai bersikap egois tapi ia benar-benar takut Luna akan pergi lagi darinya.


~


Sesampainya di dalam kamar Luna melepaskan jaketnya, menutup pintu lalu duduk bersandar di pinggir ranjang. Jika ada kesempatan ia ingin bicara dengan mantan mertuanya itu, ia ingin menanyakan apa sebenarnya yang kurang pada dirinya yang harus ia perbaiki.


Air matanya kembali mengalir saat berpikir keras namun tak menemukan jawaban apapun. Seolah kembali ke masalalu, ia merasa kembali ke sosok dirinya yang dulu, begitu naif dan hanya bisa meratapi keadaan.


~


Adrian kembali ke unit apartment miliknya. Ia terduduk lemas di sofa ruang tamu dan langsung di hampiri oleh Joni.


"Bagaimana, kamu sudah bertemu Luna?"


"Sudah tapi dia malah salah paham karena ucapan ku ... kenapa keadaannya harus seperti ini, sial!"


"Sabar saja, Luna pasti juga sedang banyak pikiran. Biarkan dia sendiri dulu agar pikirannya tenang."


"Ya, kamu benar."


Aaakkkkk!!!


Tiba-tiba saja ada suara teriakan. Joni dan Adrian menoleh kearah pintu kamar Mama saat mendengar suara teriakan. Tanpa membuang waktu mereka beranjak pergi menuju kamar.


Sesampainya di dalam, Adrian menoleh ke kanan kiri dan tidak menemukan sang Mama. Ia pun segera melangkah menuju kamar mandi.


"Ma..mama di dalam," panggil Adrian yang mulai terlihat panik.


"Aku yakin Mama kamu di dalam, lebih baik kita dobrak saja pintunya," ujar Joni.


Tanpa basa-basi Adrian dan Joni mulai mendobrak pintu kamar mandi. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya pintu itu terbuka, Adrian dan Joni sangat kaget saat melihat Mama sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan kepala berlumuran darah.

__ADS_1


Bersambung 💓


__ADS_2