
...Aku bukan aku yang dulu, namun cintaku seperti dulu. Merelakan mu aku merasa bagai bulan di kekang malam....
...Mencintaimu sebagai bagian terindah di hidupku, tak akan ku biarkan kau tak bahagia....
...(Lirik di ambil dari lagu berjudul bulan di kekang malam yang di populerkan oleh Rossa)...
.
.
.
Menjelang malam di sebuah restaurant bintang. Mishel mencengkram erat kedua tangannya saat melihat seorang pria yang saat ini sedang melambaikan tangan kepadanya. Ia melangkah menghampiri pria itu.
Setelah sekian lama akhirnya pria brensek itu kembali. Sialnya pria itu datang untuk memoroti uang dari wanita yang pernah ia jebak. "Akhirnya kamu datang juga sayang," ucap pria itu yang saat ini sudah berdiri dari posisinya untuk menyambut kedatangan Mishel.
Mishel langsung duduk tanpa menunggu di persilahkan oleh pria itu. "Jangan banyak berbasa-basi, kamu memanggil ku untuk uang kan? Aku sudah bawa uang yang kamu minta."
"Kamu tidak merindukan ku? Aku saja sangat merindukan pergelutan panas kita."
Tangan Mishel tercengkram erat, ia benar-benar kesal, marah namun ia menahan semuanya. "Diam kamu, seharusnya aku melaporkan kamu ke polisi karena tindak pemerkosaan."
"Coba saja sayang, saat kamu melaporkan aku maka foto-foto itu juga akan tersebar ke media sosial. Artikel online akan memuat berita bahwa Foto panas seorang putri tunggal pemilik yayasan kesehatan ternama menggemparkan semua orang, hahaha."
"Dasar bajingan!" pekik Mishel tanpa sadar.
"Berikan uang yang aku minta setelah itu kamu boleh pergi," ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya.
"Aku akan memberikan uang ini dengan satu syarat. Aku mau kamu berikan semua file foto itu kepada ku."
"Hahaha, kamu pikir aku sebodoh itu? Kalau aku memberikannya padamu, itu berarti aku tidak bisa lagi meminta uang pada mu. Tugas mu hanya memberikan uang padaku dan foto-foto itu akan aman bersama ku."
"Kamu licik sekali, aku menyesal pernah mengenal pria seperti kamu!"
"Ahk banyak ngomong kamu, sini uangnya cepat." Pria itu berdiri dari posisinya dan langsung merebut tas Mishel. Ia tersenyum saat mendapatkan uanga yang ia inginkan. Ia melempar tas itu ke pada Mishel lalu melangkah pergi.
Kini tinggallah Mishel sendiri, ia menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tak menyangka hidupnya akan hancur seperti sekarang hanya karena satu kesalahan.
~
__ADS_1
Rumah sakit X.
Luna menghela napas lalu tersenyum kepada Adrian yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya. Tadinya ia akan makan malam bersama Mikha setelah operasi selesai, namun sepertinya rencananya tidak bisa terealisasi.
"Mikha, maaf ya sepertinya kita tidak bisa makan malam bersama," ucap Luna saat menoleh ke samping di mana Mikha berdiri.
"Iya Dok tidak apa-apa. Tuh pangerannya udah nungguin di depan pintu, hehe," ucap Mika.
"Kamu apaan sih, ya sudah aku kesana dulu ya," ucap Luna.
"Oke Dok."
Luna melangkah menghampiri Adrian.
"kamu sudah lama menunggu?" tanya Luna saat sampai ke hadapan Adrian.
"Tidak juga, kamu baru selesai operasi?"
"Iya baru selesai, aku berencana untuk pulang."
"Sebelum pulang, ayo makan bersama, aku sudah membeli makanan untuk kita berdua." Adrian memperlihatkan paper bag yang ada di tangannya.
Sesampainya di dalam, Luna segera menghidupkan lampu. Ia mempersilahkan Adrian untuk duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Sementara Luna membuka bungkusan makanan itu, Adrian malah sibuk menggedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Kamu sedang lihat apa sih?" tanya Luna.
"Aku hanya kagum melihat piala dan piagam penghargaan kamu yang hampir memenuhi dinding yang ada di ruangan ini," ujar Adrian.
"Itu bagian dari perjuangan. Kadang aku merasa bersyukur karena pernah terpuruk setelah perceraian kita, karena sejak itu tekat ku untuk bersekolah lagi jadi semakin kuat."
"Maaf, lagi-lagi kamu membuat aku menyesal karena membiarkan mu terpuruk sendiri," ucap Adrian sambil mengusap pucuk kepala Luna perlahan.
"Apa sih tiba-tiba, ayo makan sepertinya makanya enak," ucap Luna dan langsung menyantap makanan di hadapannya. Sebenarnya ia merasa gugup saat Adrian mengusap kepalanya.
"Sepertinya Papa menyukai kamu, dia terus bertanya tentang kehidupan kamu selama sembilan tahun belakangan," ujar Adrian tiba-tiba.
"Oh ya, aku masih tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi, kalau memang kita berjodoh lagi, cepat atau lambat semua akan sampai ke akhirnya."
Adrian tak tahu harus berkata apa. Ia memilih untuk menyantap makanannya. Sejenak ia berpikir, langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya, apa ia harus tetap diam dan mengikuti arus, atau mulai mengambil langkah cepat, agar tidak terombang ambing dalam ketidak pastian seperti saat ini.
__ADS_1
Makanan di hadapannya sudah hampir habis, ia menegapkan kepala untuk menatap Luna yang sejak tadi hening. "Melepaskan kamu adalah ketidakmungkinan dan membahagiakan kamu adalah bagian dari mimpi yang ingin aku wujudkan, jadi tunggu lah sebentar lagi, sejarah kelam itu tidak akan terulang karena aku bukan Adrian yang dulu."
Adrian kembali menghabiskan makanan yang tersisa. Sementara mata Luna mulai berkaca-kaca. "Ya, berusahalah. Aku akan tetap menunggu kamu."
Dua insan itu kembali hening hingga makan malam itu selesai sebagaimana mestinya.
~
Di dalam ruang perawatan. Papa sedang duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit. Di tatapnya wajah Mama yang sudah tertidur lelap. Ia mulai mengkhawatirkan nasib putranya, yang masih mencintai wanita yang sama setelah sembilan tahun.
Sejenak Papa berpikir, kejadian di masalalu sebenarnya adalah kesalahan pahaman yang memburuk karena ke egoisan. Di umur yang kian tua, penyesalan mulai berdatangan saat kembali melihat mantan menantu yang ternyata hidup sangat baik walau pernah ia caci maki.
"Ma, kenapa dia masih menghormati Papa setelah apa yang sudah kita katakan padanya dulu? Kenapa kita bisa seegois itu, secara tidak langsung kita sudah membuat Adrian kehilangan cinta sejatinya," gumam Papa, seraya memandangi wajah Mama.
Klek.
Pintu ruangan itu terbuka, Papa menoleh dan langsung tersenyum saat melihat kedatangan sang putra.
"Kenapa Papa belum tidur?"
"Papa tidak bisa tidur ... kamu dari mana?"
"Oh itu ... aku dari--
"Dari menememui Luna?" sambung Papa.
"Em iya Pa."
"Kamu seperti anak kucing yang baru saja ketahuan nyolong ikan saja ... kalian bukan lagi anak kecil, kenapa harus takut. Kalau boleh jujur, sebenarnya Papa bukan tidak ingin merestui kalian, tapi setiap Papa melihat Luna, bayangan-bayangan konflik di masalalu, itu seperti terulang terus."
"Kalau begitu, kita hanya perlu minta maaf dan memperbaiki semuanya."
Papa kembali menatap Adrian dengan serius. "Apa kamu pikir semudah itu?"
"Adrian mohon Pa, sekali ini saja."
Papa hanya menghela napas berat tanpa mengucapkan apapun. Semua hanya mudah di ucapkan namun untuk mengatakan kata 'MAAF' tidaklah semudah yang di bayangkan.
Bersambung 💓
__ADS_1