MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.13 (Tercengang)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah saatnya ia pulang. Meski ia tak tahu apa malam ini bisa tidur dengan nyenyak atau tidak. Wajah sang mantan yang tiba-tiba saja datang dengan pengakuan cinta, membuat ia terjebak di persimpangan dilema.


Semua terasa begitu tidak mungkin untuk kembali bersama. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana kedua orang tua menentang hubungan mereka dan sekarang di tambah lagi dengan perjodohan antara Adrian dan Mishel yang kemungkinan akan terus berlanjut.


Luna menghentikan langkahnya sejenak, menatap keluar jendela besar yang mengarah langsung ke halaman depan rumah sakit. Ia menatap nanar seraya berpangku tangan. Ia merasa lelah karena harus bergelut dengan hati dan pikiran yang tak mau sejalan.


Aku selalu menampar diri sendiri agar cepat kembali tersadar dan merupakan semua, namun bayangan mu tak mau pergi. Kesendirian ini menyiksa diriku pelahan, kita di pisahkan kenyataan dan keadaan yang tak terelakkan, batin Luna.


Setelah beberapa saat terpaku dalam keheningan. Ia baru ingat belum menjenguk bapak yang hampir ia tabrak pagi tadi. Langsung saja ia kembali melangkah menuju ruang rawat inap.


~


Klek.


Luna masuk kedalam ruang perawatan. Ia bisa melihat bapak itu sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Ia merasa lega karena bapak itu akhirnya sadar juga dan nampak lebih baik walau wajahnya masih pucat.


"Bapak belum tidur?" tanya Luna yang terus melangkah mendekat lalu duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang.


Bapak itu tersenyum kepada Luna, "Ternyata kamu seorang dokter?"


"Iya pak, masalah siang tadi saya benar-benar minta maaf."


"Tidak apa-apa ... Bapak memang tidak ada harapan hidup lagi, anak bapak juga sudah pergi untuk selamanya jadi bertahan hidup pun tiada guna."


Luna terlihat berkaca-kaca, rasa keputusasaan Bapak ini, mengingat ia pada dirinya sendiri sembilan tahun yang lalu, "Bapak tidak boleh berkata seperti itu, bapak pasti sembuh."

__ADS_1


Bapak itu kembali menoleh kearah Luna, "Kamu baik sekali, orangtua kamu pasti sangat bangga."


"Bapak saya sudah lama meninggal, saya menjadi seorang dokter karena permintaan beliau. Sekarang saya hanya punya Ibu."


"Kamu belum menikah?"


Luna tertegun sesaat, pertanyaan yang begitu membingungkan baginya, "Dulu saya pernah menikah di usia muda ... tapi kami berpisah."


"Kamu masih muda dan cantik, bapak doakan kamu mendapatkan pria yang baik."


"Terimakasih pak. Jujur saat pertama kali melihat bapak, saya seperti melihat bapak saya sendiri ... kalau begitu saya pulang dulu. Bapak silahkan istirahat." Luna berdiri dari posisinya, hendak berbalik pergi, namun bapak itu kembali memanggilnya.


"Iya kenapa pak?"


Luna tersenyum kepada bapak itu, "Iya sama-sama pak."


~


"Apa benar dokter i-itu mantan istri kamu(?)"


Joni nampak tak percaya dengan pernyataan Adrian. Ia sudah penasaran sejak pagi tadi, setelah mendesak, akhirnya Adrian menceritakan semuanya. Ia memang hanya menceritakan jika pernah menikah di usia muda, tapi ia memang tidak pernah menunjukkan foto atau sekedar menyebut nama.


"Kau tidak percaya?"


"Bukan begitu ... aku hanya tidak menyangka, dia cantik sekali." Joni mulai menggerutuki diri sendiri karena pernah berucap, bahwa sekarang mantan istri Adrian pasti sudah menikah, badannya sudah melebar dan punya tiga anak.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. Kini ia mulai paham, wajar saja selama ini Adrian belum pernah mempunyai dan mencintai wanita lain karena sang mantan yang begitu cantik dan mempesona selalu menghantui, hingga cinta itu tak pernah hilang meski tergerus ombak perpisahan selama kurang lebih sembilan tahun lamanya.


"Jadi sekarang kamu menyesal karena menceraikan dia?"


"Lebih dari itu ... sejak awal perpisahan bukanlah keinginan ku, tapi di paksa oleh keadaan." Adrian mengingat bagaimana cara Luna menatapnya, tatapan penuh kebencian yang seolah menyeret untuk kembali ke masa-masa kelam rumah tangga mereka.


Joni mengusap wajahnya dengan kasar kemudian meraih toples berisi keripik kentang. Mendengar cerita Adrian ia jadi ikut stres dan tiba-tiba menjadi lapar, "Kalaupun kamu ingin memperbaiki semuanya, bagaimana dengan kedua orang tua kamu yang jelas-jelas tidak menyukai Luna."


"Akan ku urus nanti ... setidaknya setelah dia bisa tersenyum kepada ku lagi." Adrian menatap layar ponsel di mana sebuah foto usang yang di potret ulang, tersimpan di galeri. Hanya itu satu-satunya kenangan yang ia punya.


~


Di dalam perjalanan menuju apartement. Luna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas saat suara getar terdengar. Ia mengerutkan keningnya saat melihat layar ponsel yang tertera nama Mika. dirinya memang pulang lebih dulu dari asistennya itu. Tanpa menunda waktu, ia menerima panggilan telepon itu.


"Ya, hallo?"


[Dok, pasien yang dokter bawa pagi tadi sekarang dalam kondisi kritis, beliau di pindahkan ke ruang ICU.]


"A-apa! Baiklah saya segera kesana."


Luna memutar arah lalu menginjak pedal gas lebih dalam. Meski pria tua itu orang asing. Namun ia seoalah menemukan sosok Bapaknya, yang sama-sama mengalami penyakit komplikasi. Sekarang seolah tak ingin terulang Ia ingin pria tua itu tetap hidup.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2