
Cahaya matahari kembali menyapa seorang wanita cantik yang baru saja mengerjapkan mata saat Ibu menyibak tirai jendela kamarnya. Ia bangun terbangun dan langsung beranjak dari tempat tidur.
"Hari ini kamu kerja?" tanya Ibu.
"Iya Bu, Ibu tidak apa-apa disini sendiri?" tanya Luna balik.
"Hari ini Ibu mau pergi sama Mamanya Mishel kok, mau jalan-jalan ke Mall," ucap Ibu yang terlihat sangat senang.
"Sejak kapan Ibu akrab sekali sama, tante Manika?" tanya Luna.
"Sudah sejak lama kok, setelah kamu masuk universitas. Kamu saja tidak sadar ... cepat mandi dan bersiap-siap, Ibu sudah masak sarapan," ucap Ibu lalu melangkah keluar dari kamar Luna.
Luna hanya tersenyum seraya memandangi kepegian Ibu sampai menghilang dari balik pintu. Ia hendak melangkah menuju toilet namun tiba-tiba ponselnya berdering tanda telepon masuk. Luna melangkah dengan cepat menuju nakas yang dan langsung meraih ponselnya.
"Jesi, tumben sekali." Luna melangkah menuju balkon seraya menerima panggilan telepon itu.
"Hallo jes tumben sekali kamu menelpon?"
[Aku akan pulang hari ini, jemput aku di bandara sore ini.]
"Pulang, bukannya kamu bekerja di rumah sakit ternama disana, bagaimana dengan jack ... Jes, are you okey?"
[Ya, aku berharap aku baik-baik saja. Jemput aku dan nanti akan ku ceritakan semuanya, jangan lupa juga katakan pada Mishel untuk menjemput ku.]
__ADS_1
"Baiklah, aku pasti datang."
Luna mematikan panggilan telepon itu. Jesika atau lebih akrab di sapa Jessy adalah sahabat satu kampusnya bersama Mishel. Setelah lulus, Jessy menikah dengan seorang pria bule dan tinggal di negara A.
Selain Mishel, Jessy adalah teman yang paling mengerti dirinya, ia merasa kehilangan saat Jessy itu memutuskan untuk pergi dan sekarang temannnyaitu akan kembali namun entah kenapa perasaan Luna menjadi gelisah, ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Jessy.
~
Setelah selesai sarapan, Luna pamit kepada sang Ibu. Ia melangkah menuju pintu bersama ibunya. Bertepatan dengan itu bel pintu tiba-tiba saja berbunyi, Luna yang melihat terlebih dahulu, sontak membulatkan mata saat dari layar monitor terlihat Adrian sedang berdiri di depan pintunya. Dengan gerakan cepat, ia menutup layar monitor itu dengan punggungnya.
"Siapa yang datang?" tanya Ibu.
"Petugas keamanan Bu ... ehm, sepertinya ada bau hangus dari dapur," ucap Luna terbatabata.
"Coba periksa dulu Bu, siapa tau saja Ibu memanaskan sesuatu tapi lupa mematikan kompor," ujar Luna yang semakin panik.
"Ya sudah Ibu lihat dulu." Ibu berbalik, melangkah menuju dapur.
Setelah Ibu bergerak semakin jauh, buru-buru Luna berbalik membuka pintu dan langsung keluar untuk menemui Adrian. Sesampainya di luar, ia segera menarik tangan mantan suaminya itu agar menjauh dari sana.
Luna menghentikan langkahnya saat mereka sampai di balik sebuah tembok besar yang cukup jauh dari unit apartement miliknya. Adrian yang masih nampak bingung langsung mendekati Luna.
"Sebenarnya ada apa? Aku ingin mengajak kamu sarapan bersama." Adrian mengarahkan kantong plastik berisi dua box sandwich ke hadapan Luna.
__ADS_1
Luna yang masih mencoba mengatur napas, mengangkat kepalanya untuk menatap Adrian, "Jangan ke pernah kerumahku untuk beberapa hari kedepan."
"Kenapa? Kamu sudah janji tidak akan menjauhi ku."
"Bukan begitu ... Ibu ku datang, dia sedang ada disini."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menyapa Ibu mu sebentar." Adrian hendak melangkah pergi, namun Luna langsung mencegah.
"Hey, kamu gila ya? Jangan kesana ... Kamu tau sendiri bagaimana hubungan antara kedua keluarga kita yang kurang baik." Luna melepaskan tangannya dari lengan Adrian.
Adrian menghela napas berat, ia ingin sekali bicara langsung dengan Ibu Luna untuk meminta maaf dan memperjuangkan restu itu kembali namun melihat Luna seperti sekarang ia tak bisa berbuat banyak. Ia tahu mantan istri itu masih takut dan belum yakin dengan dirinya.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, tapi apa bisa kita sarapan bersama?"
"Aku sudah sarapan, aku harus berangkat ke rumah sakit sekarang, permisi." Luna melangkah melewati Adrian begitu saja.
Dua hati yang sama-sama ingin melangkah maju namun mereka seolah menemukan jalan buntu. Jika pun harus mundur, bagaimana dengan rasa yang telah tumbuh. Kembali terpisah hanya akan melukai hati mereka untuk kesekian kalinya.
Jika ego dan perasaan keluarga adalah penghalang terbesar ... hanya takdir yang mampu berbicara, karena seberat apapun cobaannya, jika di takdirkan bersama, maka mereka akan kembali bersatu, bagaimanapun caranya.
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1