MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.8 (Pertanyaan yang akhirnya tersampaikan)


__ADS_3

Suasana terasa begitu hening. Hanya suara denting dari sendok dan garpu yang mendominasi. Adrian tak henti-hentinya memperhatikan Luna yang saat ini duduk di hadapannya. Sementara Luna lebih memilih fokus pada makanan yang terlihat begitu lezat.


Apa selain menjadi dokter, dia juga berkeja paruh waktu sebagai pemeran pengganti, kenapa dia mau menggatikan temannya? Terlalu banyak misteri dalam dirinya yang membuat ku bertanya-tanya, batin Adrian.


"Bagaimana menurutmu, kita sudah bertemu tiga kali selama dua hari belakangan, apa ini hanya kebetulan?" tanya Adrian tiba-tiba.


Luna menghentikan aktivitasnya, kemudian menegapkan kepala menatap Adrian, "Aku di sini bukan karena aku ingin ... tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak pernah berpikir jika akan bertemu kamu lagi."


Luna meraih tas tangan yang ia bawa kemudian beranjak dari tempat duduknya, "Aku rasa ini sudah cukup, aku harus pulang sekarang, permisi."


"Kamu belum menyicipi hidangan penutupnya," sahut Adrian tiba-tiba.


"Aku tidak suka hidangan manis, silahkan nikmati sendiri." Luna melanjutkan langkahnya hendak keluar dari ruangan itu, namun lagi-lagi dengan cepat Adrian menghadang langkahnya.


"Awas, aku mau keluar!" hardik Luna.


Bukannya bergeser. Adrian malah mendorong tubuh Luna hingga membentur tembok. Jarak mereka hanya beberapa centimeter saja. Deru nafas Luna yang terdengar memburu, menerpa kulit wajah Adrian. Entah apa yang sedang merasukinya, namun hasratnya kembali muncul setelah sekian lama.


Adrian sempat berpikir jangan-jangan ia tak lagi menyukai wanita. Tapi setelah kembali bertemu Luna, akhirnya ia mengerti bahwa hanya Luna yang bisa membuatnya menggila dan membuat naluri lelakinya bangkit. Tatapan mata Adrian tiba-tiba saja fokus ke bibir merah muda yang membuat ia menelan salivanya berkali-kali.


Namun saat melihat ekspresi wajah ketakutan Luna. Perlahan ia merenggangkan cengkraman tangan di lengan mantan istrinya itu. Ia sadar jika sudah keluar batas, untuk pertemuan setelah sembilan tahun, untuk masalalu yang begitu kelam Adrian terlalu lancang untuk melewati batas wajarnya.


Adrian mundur dua langkah dari posisinya, "Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin kamu tidak pergi dalam keadaan marah."


Luna menghela nafas yang cukup berat, "Menyingkirlah, aku sedang tidak ingin berdebat."


Luna melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Sementara Adrian masih berdiri di tempatnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah beberapa saat ia menyusul keluar. Adrian menggedarkan pandanganya seraya terus berjalan keluar. Ia tak bisa membiarkan Luna pergi begitu saja.


Saat matanya menangkap sosok wanita yang ia cari sejak tadi, langsung saja ia berlari mengejar sebelum Luna masuk kedalam mobil. Adrian mendekat dari arah belakang, saat Luna mengeluarkan kunci mobilnya, dengan cepat Adrian mengambil alih kunci mobil itu.

__ADS_1


"Berikan kunci mobil ku!"


"Mobil ku masih di bengkel jadi kamu harus memberiku tumpangan, anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab kamu karena sudah merusak mobil ku."


Tanpa membuang waktu, Adrian melangkah masuk ke bagian kursi kemudi. Sementara Luna masih diam di posisinya seraya terus mengumpat dalam hati, mulutnya pun berkomat-kamit tidak jelas. Karena tak ada pergerakan, Adrian membuka kaca jendela mobil untuk memanggil Luna.


"Apa kamu akan terus berdiri di situ, malam akan semakin larut!"


Dengan langkah yang tersentak-sentak, Luna masuk dan langsung duduk di samping Adrian. Wajahnya terlihat sangat kesal namun ia malas terus berdebat. Luna hanya diam saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman restaurant. Matanya fokus menatap keluar jendela seraya berpangku tangan.


Sesekali Adrian melirik kesamping. Ia mengerti pasti Luna sangat kesal sekarang. Tapi ia tak perduli, asal ia bisa terus berada di samping Luna selama beberapa menit kedepan, laju mobil pun sengaja ia buat lebih pelan agar waktu perjalanan pulang lebih lama.


~


Di tempat yang berbeda. Seorang laki-laki yang memakai jaket kulit hitam sedang membopong tubuh wanita masuk kedalam sebuah kamar hotel. Terlihat wanita itu dalam kondisi setengah sadar saat tubuhnya di hempaskan ke atas ranjang. Pria itu membuka sepatu high heels yang di pakai wanita yang saat ini terlihat sangat lemah.


Pria itu membuka sepatunya dan ikut naik di atas ranjang dan memposisikan diri di atas tubuh Mishel. Tangannya mulai bergerak perlahan membuka satu persatu kancing mini dres itu. Sementara bibir pria itu tak henti-hentinya menciumi bagian leher hingga menelusup ke bagian dada dan mulai bermain di sana.


"Ahkkk, hentikan." Suara Mishel terdengar lemah dan ia pun tak punya tenaga untuk melawan.


"Diam dan nikmati saja, akan ku tunjukkan apa itu surga dunia." Bisikkan pria itu membuat sekujur tubuh Mishel merinding.


Tanpa basa-basi pria itu mulai melucuti pakaiannya dan juga pakain Mishel hingga tak tersisa sehelai benang pun. Lekuk tubuh yang terpampang nyata membuat senyum menyeringai dan penuh hasrat terpancar jelas di wajah pria asing yang akan segera mengambil hal paling berharga dari dirinya.


Serangan kembali pria itu berikan hingga membuat Mishel me*gerang hebat. Tangan lemah itu mencengkram erat pundak kokoh yang mulai menegang. Dari ujung kepala hingga akhirnya sampai ke bagian bawah perut. Pria itu meregangkan paha hingga akhirnya melihat surga dunia yang sudah biasa ia lihat dari begitu banyak wanita yang menghabiskan malam panas dengannya.


Tanpa pikir panjang ia menenggelamkan wajahnya di sana. Pria itu terlihat begitu mahir hingga membuat kenikmatan yang begitu nyata di rasakan oleh Mishel. Setelah beberapa saat ia menegapkan kepala dan mulai mengarahkan pusakanya ke bagian yang sudah sangat basah. Namun sebelum pertempuran di mulai, pria itu meraih kemejanya dan mengambil sesuatu dari dalam saku.


Sebuah alat pengaman berbahan lateks tipis sudah ia siapkan sebelumnya. Karena sebagai seorang maniak ia hanya ingin menikmatan tanpa meninggalkan jejak. Setelah selesai terpasang, tanpa basa-basi ia menghentakkan pusakanya hingga beberapa kali sampai akhirnya--

__ADS_1


"Ahhhhkk!" Air mata Mishel keluar dari sudut mata, saat rasa perih mulai terasa. Ia menggigit bibir bawahnya yang terasa keluh.


Seolah tak punya hati nurani, pria itu tak perduli dengan tangis Mishel dan terus menyalurkan hasrat yang harus segera tertuntaskan. Malam itu adalah malam paling buruk untuk seorang wanita dengan gelar dokter dan juga putri dari seorang konglomerat. Yakinlah setelah bangun nanti, ia pasti menyesal karena tak pernah mendengarkan ucapan sang sahabat, Luna.


~


Adrian memarkirkan mobil di basement apartement. Setelah mobil berhenti, tanpa basa-basi, Luna langsung beranjak keluar. Dengan cepat ia menyusul Luna keluar.


"Berikan kunci mobil ku," ucap Luna seraya mengulurkan telapak tangannya.


Adrian meletakkan kunci mobil itu di telapak tangan Luna, "Terimakasih untuk tumpangannya ... aku tinggal di unit satu satu satu enam."


"Aku tidak bertanya."


"Aku hanya ingin kamu tahu ... aku tidak menyangka ternyata kita satu apartement."


"Aku lelah, permisi."


Adrian kembali menahan lengan Luna, "Aku ingin bertanya satu hal ... apa sembilan tahun belakangan ini, kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan yang selalu menghantuinya sekian lama, akhirnya tersampaikan juga. Rasa yang telah tekubur dalam kenangan seolah kembali, membawa harapan yang dulu pupus untuk hubungan rapuh yang berakhir dramatis dan tragis. Mereka masih begitu muda di masa yang seharusnya mental di pelukan untuk sebuah pernikahan.


Adrian bisa merasakan jika apa yang ia punya untuk Luna bukan hanya rasa bersalah, namun juga cinta. Meski masih terasa Samar-samar, namun detakkan yang menghujam terasa begitu nyata. Ia berharap mendapatkan jawaban bahwa Luna baik-baik saja dan melewati sembilan tahun ini dengan bahagia. Tapi tatapan mata Luna membuat rasa percaya dirinya perlahan menyusut.


"Apa menurutmu aku baik-baik saja?"


Bersambung 💓


Jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap babnya. Jika berkenan berikan Vote dan hadiah sebagai penyemangat author 🙏

__ADS_1


__ADS_2