MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.17 (Dilematika kehidupan)


__ADS_3

Hari ini kita jadi ke yayasan panti jompo Dok?" tanya Mika sesaat setelah kedatangan Luna.


"Iya jadi, siang ini kita kesana setelah jadwal konsultasi selesai," jawabnya.


Setiap satu bulan sekali ia dan beberapa dokter lainnya di tugaskan untuk pergi ke panti jompo. Panti dan rumah sakit tempat ia bekerja sekarang adalah milik Johan Hudson. Saat semua dokter berkontribusi dengan jadwal yang di tentukan, Mishel bisa bebas tidak datang, wajar saja karena ia putri dari pemilik yayasan.


Klek.


Pintu ruangan itu terbuka, Luna dan Mika menoleh kearah pintu. Ternyata orang yang datang adalah Mishel. Dengan langkah cepat ia langsung menghampiri sahabatnya itu.


"Selamat pagi Dokter Mishel," sapa Mika.


"Oh iya, selamat pagi Mika," jawabnya dengan wajah sumbringah.


"Kalau begitu saya keluar dulu, permisi." Mika melangkah keluar dari dalam ruangan itu.


"Kamu senang sekali hari ini, kenapa?" tanya Luna saat Mishel sudah duduk di hadapannya.


"Kamu tahu saja ... aku ingin menceritakan sesuatu," ucap Mishel dengan sangat antusias.


"Cerita apa?" tanya Luna.


"Aku rasa aku sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya," ucap Mishel lalu menyondongkan tubuhnya ke depan, "Aku menerima perjodohan yang Papa atur untuk ku."


Deg.


Lagi-lagi Luna tersentak kaget karena mendengar kata perjodohan. Seakan harapan untuk kembali bersama sudah tidak terlihat, terhalang kabut yang membuatnya kehilangan arah untuk pulang ke tempat yang sudah lama ia tinggalkan yaitu, Adrian.

__ADS_1


Luna memang sudah memprediksi ini akan terjadi. Untuk itulah sebisa mungkin ia menjauhkan diri. Namun saat ia mundur dua langkah, Adrian maju tiga langkah, membuat ia kian goyah dan menyiksa diri sendiri dengan ketidakmungkinan.


"Luna, kok malah bengong," ucap Mishel seraya melambaikan tangan kedepan wajah sahabatnya.


"Oh iya ... baguslah, aku ikut senang," ucapanya dengan senyum yang di paksakan.


"Aku tidak tahu dia itu orang yang bagaimana, aku ingin mengenalnya lebih dekat ... apa malam itu dia memberi tahu alamat rumah atau tempat kerjanya kepada kamu?" tanya Mishel.


"A-apa ... tidak, aku hanya benar-benar makan lalu pergi jadi kami tidak banyak mengobrol," jawabnya.


"Ya sayang sekali," ucap Mishel dengan wajah kecewa lalu berdiri dari posisinya, "Oh iya malam ini Papa mengudang kamu untuk makan malam bersama di rumah, jangan lupa datang."


"Makan malam, ada acara apa?"


"Acara makan-makan saja, untuk menyambut kedatangan kakak ku," jawabnya.


"Oh begitu, baiklah."


Setelah kepegian Mishel. Luna menyadarkan tubuhnya di kursi. pikirannya semakin bercabang-cabang. Semua terlalu rumit saat rasa yang telah lama mati suri pelahan kembali di saat yang tidak tepat.


...**...


Akhirnya Mika dan Luna sampai ke panti jompo untuk kunjungan rutin. Mereka datang kesana untuk memeriksa kondisi kesehatan penghuni panti. Luna sudah terbiasa, ia suka karena hanya di tempat itu ia bisa melupakan sejenak masalah hidup yang membebani.


Saat masuk ke area panti , mereka berjalan ke sebuah ruangan. Hanya saja saat mereka masuk ada yang berbeda kali ini, karena di antara nenek-nenek dan kakek-kakek, ada seorang pria yang duduk seraya mengobrol dengan salah seorang penghuni panti.


"Kak Hendri," ucap Luna.

__ADS_1


Mika pun nampak terpana, ia mendekati Luna untuk membisikkan sesuatu, "Itu bukannya kakak Dokter Mishel?"


"Iya, baru saja datang kemarin," bisik Luna kepada Mika.


Luna dan Mika melanjutkan langkah mereka, mendekat ke tempat para penghuni panti itu sedang berkumpul. Hendri berdiri dari posisinya saat menyadari kedatangan dua wanita yang melangkah semakin mendekat.


"Selamat siang semuanya," sapa Luna.


"Selamat siang juga dokter cantik," ucap para penghuni panti secara bersamaan. Ya, orang-orang yang ada di sana memanggilnya dengan sebutan Dokter cantik.


Hendri melangkah mendekat Luna dengan senyum lebar yang tak mau surut, "Ternyata hari ini giliran kamu, pantas saja aku kebingungan saat mereka bilang hari ini dokter cantik mau datang."


"Oh itu, kakek dan nenek yang ada disini memang memanggil ku seperti itu."


Mika merasa seperti obat nyamuk yang tak d anggap, ia bisa melihat tatapan mata yang tak biasa dari Hendri saat menatap Luna.


"Dokter! mana coklatnya," sahut salah seorang penghuni panti.


Tiba-tiba saja ekspresi wajah Luna berubah, ia lupa bulan lalu ia berjanji untuk membawa coklat rendah gula untuk penghuni panti.


"Maaf Nek, saya lupa ... tapi tenang saja, saya aka pergi membelinya sebentar," ucap Luna kemudian menoleh kearah Mika, "Kamu periksa tekanan darah mereka dulu, aku akan ke supermarket sebentar."


"Aku ikut," sahut Hendri tiba-tiba.


Sontak Luna langsung menoleh kearah Hendri, "Kakak mau ikut?"


"Iya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga dengan mu," jawabnya.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2