MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.15 (Bersandarlah hanya kepada ku)


__ADS_3

Luna mengerjapkan matanya perlahan. Matahari sudah hampir tenggelam, cahaya jingga mulai menembus kaca jendela yang tak tertutup tirai. Semuanya terasa sepi hanya pikirannya saja yang ramai. Ia tak hentinya mengutuki diri karena tak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah alur kisah.


Ternyata rela tak semudah kata. Ia masih terbawa suasana ketika kehilangan Bapak untuk selamanya. Malam tadi ia seolah kembali ke sosok dirinya yang dulu. Ia kembali terpuruk, ingin rasanya menelpon Ibu, tapi ia tak ingin membagi bebannya, ia ingin Ibu menikmati masa tua dengan bahagia.


Ting...Tong.


Suara bel pintu tiba-tiba saja berbunyi. Perlahan ia bangkit, berjalan keluar dari kamar dengan langkah lemah. Sesampainya di depan pintu, ia terdiam sesaat, karena dari layar monitor kecil yang terletak di samping pintu, sosok laki-laki yang sangat familiar sedang berdiri diluar sana. Siapa lagi kalau bukan, Adrian.


Bel itu terus berbunyi tanpa henti. Rasanya ia belum siap untuk bertemu dengan siapapun. Tapi jika tidak di buka, ia yakin mantan suaminya itu pasti tidak akan pergi dan akan terus menekan bel.


Klek.


Pintu itu akhirnya di buka juga. Ia menatap Adrian sesaat sebelum akhirnya beralih ke paper bag yang ada di tangan kanan dan kiri mantan suaminya.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Luna yang terdengar lemah.


Ingin rasanya Adrian langsung memeluk Luna, tapi ia menahan semuanya, terburu-buru hanya akan membuat Luna tidak nyaman, "Tadi aku kerumah sakit untuk menemui kamu, ternyata kamu tidak masuk, aku membawakan makanan untuk mu."


"Aku sedang tidak ingin apapun sekarang, jadi lebih baik kamu pulang," ujar Luna yang hendak menutup pintu, namun ia kalah cepat karena Adrian langsung menyelonong masuk.

__ADS_1


Luna menghela nafas berat kemudian mengikuti Adrian yang sudah masuk lebih dulu.


"Wah tempat ini bagus juga, kamu memang selalu menyukai warna seperti ini," ucap Adrian seraya meletakkan paper bag di atas meja ruang tamu.


"Aku ingin sendiri sekarang, apa kamu bisa pergi? Aku sedang tidak ingin berdebat," ucap Luna yang saat ini berdiri di belakang Adrian.


Mendengar hal itu Adrian membalik posisinya menghadap Luna. Dari mata yang bengkak dan wajah pucat, bagaimana ia bisa pergi jika melihat Luna yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Adrian hanya diam tanpa menimpali ucapan Luna. Di raihnya tangan mungil itu lalu menuntunnya duduk di sofa. Luna masih membisu, sungguh ia tidak punya kekuatan untuk menolak atau berteriak. Langkah Adrian berlanjut ke dapur untuk mengambil piring dan sendok. Lalu kembali keruang tamu.


"Tadi aku mampir ke toko kue, aku masih ingat kamu sangat menyukai cake cokelat," ucap Adrian seraya memotong cake itu lalu di letakkan ke atas piring.


Adrian tak ingin memaksa dan meletakkan piring itu ke atas meja lalu duduk di sebuah sofa bulat di hadapan Luna. Ia melepaskan dasi yang melingkar di lehernya, perlahan tangannya bergerak, menelusup masuk ke ceruk leher mantan istrinya itu.


Tangannya merapikan rambut panjang yang tadi nampak berantakan lalu mulai mengikat rambut Luna dengan dasi yang ia pakai tadi. Tubuh Luna terasa kaku, karena sentuhan Adrian yang selalu berhasil melumpuhkannya.


"Aku sangat suka saat rambut mu terikat," ucap Adrian seraya terus melakukan aktivitasnya mengikat rapi rambut panjang itu.


Kenapa aku tidak bisa menolak? apa pada akhirnya aku akan runtuh lagi, batin Luna.

__ADS_1


Setelah selesai, Adrian kembali ke posisinya, ia tersenyum kepada Luna namun sedetik kemudian senyum itu mengerucut saat ia ingat maksud dan tujuannya kemari. Di raihnya tangan mungil itu lalu di genggam dengan erat.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu jika kamu melalui masa-masa sulit karena kehilangan Bapak," ujar Adrian, membuat kepala Luna yang tadi tertunduk kini perlahan kembali tegap.


"Dari mana kamu tahu tentang hal ini?"


"Asisten kamu menceritakan semuanya, termasuk kejadian malam tadi ... Luna mulai sekarang bersandarlah kepada ku, jangan berpura-pura kuat saat kamu tidak bisa menopang semuanya sendiri," ucap Adrian.


Luna tak bisa membohongi diri, ia rindu bersandar di pundak sang mantan. Setidaknya sekali saja sebelum akhirnya kembali kepada kenyataan yang membatasi, bahwa tak ada jalan untuk kembali bersatu meskipun mereka, ingin.


Setidaknya sekali saja, aku ingin melupakan kenyataan jika kita adalah sesuatu yang tidak mungkin menyatu, batin Luna.


Perlahan tangan Luna bergerak, menyentuh wajah pria yang selalu ia rindukan keberadaannya. Bertepatan dengan itu juga air matanya keluar membasahi pipi. Ia menjatuhkan kepala ke pundak kokoh itu dan mulai menangis tersedu-sedu. Seolah menumpahkan semua gejolak yang tertahan dan menyesakkan dada.


Hembusan nafas Adrian terasa bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengumpat dirinya sendiri karena baru menemukan Luna sekarang. Melihat Luna kembali menangis di pundaknya setelah sekian lama, ia semakin yakin jika cinta itu masih ada. Hanya perlu di tempa kembali agar kokoh seperti semula.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2