MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.18 (Sebuah awal)


__ADS_3


..."Salah satu penyesalan terbesar ku, saat kita di pisahkan oleh keadaan dan di halangi oleh kenyataan. Hingga bertemu kembali dengan situasi yang memberatkan. Apapun keputusan semesta untuk kita, intinya aku tidak mau kamu di miliki orang lain."...


...~Adrian Wijaya~...


.


.


.


.


Hendry mengemudikan mobilnya menuju sebuah supermarket yang berjarak beberapa kilometer dari panti. Luna dan hendry terlihat sangat akrab, Hendry memang orang yang humoris hingga bisa membuat wanita yang duduk di sampingnya tertawa lepas sejak tadi.


"Wah, kak hendry memang lebih cocok menjadi seorang pelawak dari pada pengusaha."


"Benarkah, aku juga ingin begitu tapi wajah tampan ku akan menjadi percuma."


"Anda sangat narsis ternyata ... tapi tidak apa-apa, aku senang melihat kakak sudah kembali seperti dulu, kak helen pasti sudah tenang dan bahagia melihat kak Hendry yang sekarang."


Hendry melirik Luna yang duduk di sampingnya. Perasaan aneh itu kembali ia rasakan, ia semakin yakin jika rasa itu benar-benar ada untuk seorang wanita selain mendiang istrinya, Helena.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Hendry tiba-tiba.


"Pacar? ... Aku belum berpikir untuk itu, aku sedang menikmati masa-masa kesendirian, bergelut dengan pekerjaan yang memberatkan tapi sangat menyenangkan," tutur Luna seraya melihat kearah Hendry.


Hendry melirik kearah Luna. Ia hanya tersenyum tanpa menimpali. Namun dalam hati ia berkata, ternyata dia belum punya pacar, apa aku bisa lebih dekat dengannya. Lima tahun meyakinkan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk merangkak perlahan keluar dari bayang-bayang masa lalu.


"Oh iya, tadi Kak Hendry bilang mau membicarakan sesuatu, apa?"

__ADS_1


Hendry terdiam sesaat. Sebenarnya itu hanyalah sebuah alasan agar ia bisa lebih dekat, sekaligus ingin memastikan perasaan apa yang ia punya untuk sahabat adiknya itu. Sejauh ini ia merasa nyaman, karena mereka memiliki pola pikir yang sama.


"Tidak ada, aku hanya mencari alasan agar bisa ikut dengan mu."


Perlahan senyum Luna memudar. Ia bisa merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Hendry. Akhirnya situasi kembali menjadi canggung, Luna memilih menatap keluar jendela sementara Hendry fokus menyetir mobilnya.


~


Di tempat berbeda, Joni dan Adrian baru saja selesai menyusun sketsa untuk gedung di sebelah utara di lokasi. Setelah semua final, ia meminta Joni untuk mendiskusikannya kepada kepala proyek. Sebagai seorang arsitek, ia ingin apa yang ia bangun memiliki nilai seni tersendiri.


Hingga kelak bangunan yang ia rancang tak mudah di lupakan. Adrian memandangi para pekerja yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Tiba-tiba saja ia mengingat satu keinginannya yang sampai saat ini belum juga tercapai yaitu, membangun rumah impian sang mantan istri, Luna.


Dulu sekali, di saat pernikahannya belum di guncang prahara. Sebuah mimpi untuk memiliki hunian nyaman pernah ia janjikan untuk Luna. Namun mimpi itu seolah pupus, bersamaan dengan pernikahan yang hancur dan berakhir pada perpisahan.


Flashback on.


"Kamu sedang menggambar apa?" tanya Luna yang datang menghampiri sang suami dengan dua cangkir kopi di tangannya.


Adrian memperlihatkan hasil corat-coretnya sejak siang tadi. Ya, ia menggambar sebuah desain rumah impian yang ingin ia bangun untuk keluarga kecilnya kelak.


Luna meraih buku gambar itu agar bisa melihatnya dengan lebih jelas, " Ini bagus, hanya saja ada yang kurang."


"Apa yang kurang?"


Luna beranjak dari posisinya dan duduk di samping sang suami, " Aku ingin kamar mandi yang luas dan ada televisinya, dapur juga harus luas karena aku suka memasak. Kamar kita tidak perlu terlalu besar tapi untuk kamar yang ini aku mau di buat lebih luas untuk anak-anak kita bermain juga," jelas Luna seraya menunjuk setiap ruangan yang ada di gambar Adrian.


Adrian tersenyum-senyum sendiri saat Luna menyebutkan kata anak, "Anak ... kamu mau anak berapa?"


"Emm ... dua saja cukup satu laki-laki dan satu perempuan."


Perlahan Adrian merangkul pundak lalu mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri, "Bagaimana kalau kita buat dari sekarang, siapa tau jadi."

__ADS_1


Wajah Luna tiba-tiba saja bersemu merah, kata-kata itu membuat bulu kuduknya merinding. Karena sang istri hanya membisu, tanpa pikir panjang ia menggedong Luna ala bridal style.


"Aku jadi semangat untuk membuat anak, ayo kita berkerjasama."


"A-apa, tapi aku harus memasak makan malam sekarang."


"Nanti saja, aku ingin memakan kamu."


"Kamu nakal sekali!"


Adrian tak bergeming dan langsung membawa sang istri masuk kedalam kamar. Pertempuran pun tak terelakkan. Menikmati surga dunia di usia muda ketika sudah menikah memang lebih baik ketimbang melakukan semuanya di luar pernikahan.


Tapi jangan hanya karena rasa cinta dan keinginan dunia semua jadi di lupakan, bahwa penikahan bukan hanya untuk memuaskan hasrat namun juga bagaimana menopang satu tanggung jawab.


Flashback off.


"Maaf Pak Adrian, ada seseorang yang mencari anda," ucap seorang pekerja saat menghampiri Adrian.


"Siapa yang mencari saya?"


"Saya kurang tahu pak, orangnya ada di depan pagar."


"Oh iya, terimakasih."


Adrian melangkah ke depan pagar pembatas, ia penasaran siapa yang mencarinya sampai datang ke lokasi proyek. Setelah sampai, ia menghentikan langkahnya saat seorang pria paru baya dengan kaca mata hitam yang sedang berjalan menghampirinya.


"Selamat sore Adrian, perkenalkan saya Johan Hudson, teman Papa kamu."


Bersambung 💓


Maaf karena hanya bisa slow up selama satu minggu kedepan. Karena harus menyelesaikan misi dari editor. terimakasih atas dukungannya kakak semua 🙏

__ADS_1


Oh iya, author menyelipkan visual Adrian, maaf jika tidak sesuai ekspektasi kakak-kakak semua 😊


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2