MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.57 (Menahan diri)


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Joni memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe. Pagi-pagi sekali Mishel sudah menelponnya untuk meminta bertemu. "Setelah kemarin tidak pernah menghubungi ku, sekarang dia malah minta bertemu." Joni menghela napas panjang kemudian kembali melanjutkan langkahnya masuk ke area dalam cafe.


Sesampainya di dalam ia mengeryitkan keningnya saat melihat Mishel sedang duduk di kursi dekat jendela dengan mengenakan kacamata hitam dan juga Hoodie tebal. Ia melangkah mendekat, untuk memastikan tidak salah orang.


"Mishel, kamu Mishel kan?"


Mishel mendongakan kepalanya, untuk melihat Joni. "Ya iyalah siapa lagi, duduk lah kenapa melihat ku seperti itu."


Joni melangkah duduk di hadapan Mishel. "Aku hanya heran, sejak kemarin kamu tidak pernah muncul di rumah sakit dan tidak pernah menghubungi ku, sekarang kamu ingin bertemu dan berpenampilan aneh seperti ini."


"Aku sedang sakit, kamu juga tidak menghubungi ku. Apa aku harus mehubungi kamu lebih dulu? Huh dasar laki-laki tidak peka."


"Ya maaf, tapi kenapa kamu memakai kacamata hitam seperti itu bukalah apa tidak gelap." Joni sibuk memperhatikan Mishel yang menurutnya bertingkah sangat aneh.


Mishel mulai membuka kacamata hitam yang melekat di bagian wajahnya. Joni kaget karena melihat mata panda Mishel dari balik kacamata itu.


"Apa yang terjadi dengan matamu, kamu tidak pernah tidur ya?" tanya Joni yang terlihat kaget.


Mishel mulai tertunduk lemas di hadapan Joni. "Untuk itulah aku memanggil kamu ke sini. Aku mau kamu membantu ku."


Joni bisa melihat jika Mishel benar-benar sedang tidak baik-baik saja. "Bantuan apa? Kamu ada masalah kenapa tidak pernah cerita."


"Kamu ingatkan aku pernah cerita kalau aku pernah di perkosa dengan seseorang ... pria itu datang lagi dan mengancam jika aku tidak memberinya uang."


"Wah laki-laki brensek itu beraninya datang lagi, kita harus laporkan ini ke polisi, kalau kamu tidak bisa, biar aku yang laporkan." Joni hendak berdiri dari duduknya dan langsung di cegah oleh Mishel.


"Jangan, aku tidak mau membuat nama baik keluarga ku tercemar. Dia menyimpan foto-foto kami saat malam itu, jadi aku tidak bisa bertindak sembarangan."


Joni kembali duduk di hadapan Mishel. "Terus apa rencana kamu?"


"Malam tadi dia meminta aku untuk menemuinya lagi hari ini di apartemennya. Aku akan kesana dan aku mau kamu membantu ku untuk mengambil file-file foto-foto itu darinya."

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya?"


Mishel mulai menceritakan rencana yang akan mereka realisasikan hari ini. Semoga saja rencana Mishel berhasil dan terbebas dari belenggu laki-laki berensek itu.


...**...


Luna diam terpaku di ambang pintu saat melihat pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria itu adalah Adrian, ia datang hanya untuk sarapan bersama dengan kekasihnya.


"Kenapa kamu disini, yang jaga Mama kamu siapa?" tanya Luna.


"Kan ada Papa, sudah lama kita tidak sarapan bersama. Apa aku tidak boleh masuk?" tanyanya balik.


"Oh iya masuklah." Luna melangkah masuk kedalam bersama Adrian.


Sesampainya di dalam Adrian langsung menarik tangan Luna agar duduk di kursi ruang tamu. Ia menjatuhkan tubuhnya dan membaringkan kepalanya di pangkuan Luna.


"Kamu sebenarnya kenapa, pagi-pagi sudah seperti ini?" tanya Luna yang merasa gugup.


"Aku merindukan kamu, sudah beberapa hari ini kita hanya bertemu sebentar saja." Adrian memejamkan mulai matanya, rasanya begitu nyaman hingga ia merasa sangat mengantuk.


"Sebentar saja, rasanya sangat nyaman saat berbaring di pangkuan mu, sudah sangat lama kita tidak seperti ini ... tenang saja, aku tidak akan keluar batas," ucap Adrian dengan mata yang masih setia terpejam.


Akhirnya Luna memilih mengalah. Ia membiarkan Adrian tertidur di pangkuannya, sejenak matanya tertuju pada wajah tampan sang mantan suami yang kian hari kian berkarisma. "Sekarang aku tidak takut lagi, tidak ragu lagi saat akan melalui hari bersama kamu. Kalau di pikir-pikir wajah mu semakin hari semakin tampan saja. Apa kamu yakin tidak akan berpaling? Sekarang ini sedang musim sekali pelakor yang menyeramkan."


"Kamu meragukan aku?" Tiba-tiba saja Adrian bersuara dengan mata yang masih terpejam.


"Kamu tidak tidur? Ahk aku tertipu, ya aku meragukan mu karena di luar sana banyak perempuan cantik yang kapan saja bisa merebut kamu dariku, apa lagi kamu bekerja dari satu kota ke kota yang lain."


Adrian membuka mata dan bangkit dari posisi berbaringnya. Saat ini ia duduk di samping Luna dan menatapnya lekat. "Aku suka saat kamu cerewet dan cemburu seperti ini." Adrian memldekat dan langsung memeluk Luna.


"Kamu bilang tidak akan keluar batas, kenapa memeluk ku seperti ini." Entah kenapa Luna takut Adrian tidak bisa menahan diri. Karena di sini mereka hanya berdua saja.


"Huhft, sepertinya aku mulai tergoda. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu sebelum kita menikah."

__ADS_1


Luna melepaskan pelukan Adrian darinya. "Menikah?" Ia terlihat kaget saat mendengar ucapan itu.


"Iya menikah, kenapa kamu tidak mau menikah dengan ku?" tanya Adrian memastikan.


"Bukan begitu ... kamu tiba-tiba saja mengatakannya jadi aku kaget."


Adrian kembali membaringkan tubuhnya di atas pangkuan Luna. Ia memejamkan mata namun tak henti-hentinya terseyum.


"Hey, kenapa tidur lagi ... kita harus segera sarapan lalu ke rumah sakit." Luna menghela napas panjang saat Adrian tak menggubris ucapanya. Tiba-tiba saja ia ingat cara membagunkan Adrian saat mereka masih menikah dulu.


Apa mungkin dia mau ... ahk dasar dia masih saja seperti dulu, batin Luna.


Awalnya Luna nampak ragu, namun setelah berpikir dan melihat jam ditangannya, akhirnya ia membungkukkan tubuhnya perlahan dan--


Cup.


Satu kecupan singkat mendarat mulus di bibir Adrian.


Adrian membuka mata saat merasakan kecupan singkat itu di bibirnya. Ia tersenyum sumbringah dan langsung bangkit dari posisinya. "Ayo kita sarapan." Adrian menarik Luna menuju dapur. Pagi yang manis untuk dua orang yang baru saja menikmati masa-masa indah tanpa beban restu seperti dulu.


~


"Akhirnya kamu datang juga." Pria brensek itu tersenyum saat melihat kedatangan Mishel. Namun senyumnya itu pudar seketika saat seseorang muncul dan berdiri di samping Mishel.


"Siapa dia?" tanya pria itu kepada Mishel.


"Aku adalah pacarnya," sahut Joni.


Pria itu terlihat kaget, ia bergerak cepat untuk menutup pintu itu kembali namun usahanya sia-sia karena Joni dan Mishel langsung menerobos masuk. Mishel langsung bergerak cepat mengunci pintu, sementara Joni melangkah menghampiri pria itu.


"Keluar kamu dari sini!" teriak pria itu saat mulai merasa terpojok.


Bug.

__ADS_1


Joni mendaratkan satu tendangan ke bagian vital pria itu. Ia cukup kaget karena pria itu langsung pingsan. "Hah, dia pingsan? Wah laki-laki ini cemen sekali."


Bersambung 💓


__ADS_2