MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.24 (Joni oh Joni)


__ADS_3

Luna masih berada di pelukan Adrian. Tak menolak apalagi berusaha melepaskan diri, ia seolah lupa dengan pendiriannya. Begitu juga Adrian ia tanpa sadar mencium puncuk kepala sang mantan istri. Namun kebahagiaan itu harus berakhir karena--


Klek.


"Ini obatnya sudah ...." Joni tak bisa melanjutkan kata-katanya karena melihat adegan yang tak seharusnya di lihat oleh seorang pria single abadi sepertinya.


Jangan tanya bagaimana Adrian dan Luna saat Joni tiba-tiba saja datang. Mereka melepaskan pelukan, hingga Luna berdiri dari posisinya.


"Ehm, sepertinya aku mengganggu ya? Haha ... kalau begitu aku keluar ya, silahkan di lanjutkan." Joni hendak beranjak pergi, namun segera di cegah oleh Luna.


"Kamu tetap disini, aku yang akan pulang," ucapnya pada Joni kemudian beralih menatap Adrian, "Jangan lupa makan obatnya, permisi." Dengan cepat ia meraih tasnya dan keluar dari kamar itu, Adrian bahkan tak sempat berterimakasih.


Setelah kepegian Luna, kini tinggallah Adrian dan Joni di dalam kamar itu. Joni memicingkan matanya seraya tersenyum penuh arti kepada Adrian, "Enak ya di peluk?"


"Kau gila ... gara-gara rencana mu aku hampir celaka," ucap Adrian.


Joni melangkah duduk di tepi ranjang, "Hahaha, Bro, kalau bukan karena rencana ku, momen seperti tadi tidak akan terjadi."


Ya semuanya adalah rencana Joni, penyakit maag Adrian memang kambuh gara memakan makanan pedas, tapi bisa-bisanya Joni terpikir untuk memanggil Luna.


Flashback on.


"Adrian kamu kenapa?" tanya Joni saat melihat Adrian menahan sakit seraya memegangi perutnya.


"Sepertinya aku salah makan, maag ku kambuh cepat ambilkan obat ku di kulkas," pinta Adrian.


"Oh oke, tunggu sebentar." Joni hendak melangkah keluar kamar, namun tiba-tiba saja ia memiliki sebuah ide.


Joni kembali berbalik, melangkah menuju adrian yang meringkuk di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Bagaimana kalau panggil Dokter Luna saja?"


"Hey, kau gila perutku sakit sekali, a-ambilkan saja obatku cepat." Adrian menatap kesal Joni dengan wajah yang sudah berkeringat dingin.


"Tidak akan lama, aku akan segera kembali."


Joni berlari keluar dari dalam kamar.


"Hey jangan pergi! Ahkk sakit sekali."


Tak bisa berbuat banyak, Adrian hanya bisa terus berbaring seraya menahan sakit di bagian perutnya. Sementara Joni melanjutkan misinya untuk menyatukan kembali dua hati yang sempat terpisah.


Flashback off.


Adrian yang tadi terlihat kesal dengan Joni kini malah tersenyum-senyum sendiri. Ia mengingat saat-saat dimana Luna berada di dalam dekapannya, walau terasa begitu singkat namun sangat bermakna. Semangat yang awalnya mulai surut kini memuncah kembali, ia semakin yakin bisa mendapatkan hati sang mantan istri kembali.


"Tuh kan senyum-senyum sendiri," ucap Joni.


Joni menyodorkan kantong berisi obat yang ia beli di apotik, "Jangan lupa minum obat ini, ingat pesan mantan istri tercinta."


"Ck, terimakasih Bro ... aku bahkan lupa kalau sedang sakit." Adrian meraih kantong itu dari tangan Joni.


~


Di lain tempat, berbeda dengan Adrian yang sedang berbahagia. Mishel sedang duduk di hadapan Papanya dengan raut wajah kesal. Johan Hudson pun terlihat kesal saat mendengar cerita dari Mishel.


"Aku merasa tidak punya harga diri di hadapannya Pa, dia menolak ku secara langsung."


"Ini baru awal, kamu harus sabar."

__ADS_1


"Sabar bagaimana lagi Pa ... memangnya Papa punya rencana?"


"Tentu saja, kamu ingat proyek pembangunan gedung baru di rumah sakit kita?"


"Iya ingat, terus?"


"Nah, Papa akan meminta Adrian untuk menjadi arsiteknya, tugas kamu hanya terus mendekati dia selama pekerjaan proyek itu, Papa yakin dia akan lunak dengan sendirinya, Papa dan kedua orangtuanya juga akan membuat dia menyukai kamu."


Wajah Mishel yang awalnya terlihat kesal kini mulai tersenyum. Ide sang Papa ada benarnya, ini baru awal dan tak harusnya dia menyerah begitu cepat.


"Apa harus dengan cara seperti itu untuk mendapatkan orang yang di idamkan?" Sahut Hendry yang tiba-tiba saja datang menghampiri adik dan Papanya.


"Kak Hendry buat kaget saja," ucap Mishel seraya memasang wajah cemberutnya.


Hendry melangkah duduk di samping Mishel, "Kakak hanya bertanya, kenapa kamu kesal."


"Kamu sendiri bagaimana? Papa tahu kamu memiliki perasaan khusus kepada Luna." ujar Johan Hudson seraya menatap tajam kearah Hendry.


"Pa, kalau jodoh tidak akan kemana, kalau memang Luna di takdirkan untuk ku, maka dia akan menjadi milikku ... aku akan mendekatinya dengan caraku sendiri," ujar Hendry seraya melirik kearah Mishel.


"Kaka nyindir aku ya?" tanya Mishel yang terlihat semakin kesal.


"Hah, tidak kamu merasa itu salah mu sendiri," ucap Hendry lalu melangkah pergi meninggalkan Adik dan Papanya.


"Pa! Lihat kak Hendry, suka sekali meledek ku."


"Biarkan saja, kakak kamu memang selalu seperti itu."


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊


__ADS_2