Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Wanita lain


__ADS_3

Jumat


Siang yang selalu cerah, karena musim hujan yang belum kunjung datang. Aku dan Gisna dan beberapa staf di klinikku sedang makan siang bersama.


Hitungannya baru hampir tiga bulan aku membuka klinik di sini. Tapi pasienku sudah bisa dibilang cukup banyak. Karena Dokter kandungan di daerah ini hanya aku dan aku berusaha memberi pelayanan sebaik mungkin.


Di sini tujuanku bukan hanya untuk mencari uang dengan keahlianku, tapi aku juga mempunyai tujuan untuk memberi perlindungan untuk para wanita yang sedang hamil di sini.


Karena wanita hamil adalah wanita yang paling lemah dalam hal kondisi kesehatan. Mereka mungkin terlihat kuat, tapi di dalam tubuh wanita hamil dia menanggung nyawa lain selain nyawanya sendiri.


Perasaan dan imun wanita menjadi sangat sensitif ketika hamil. Tapi semua orang menganggap hal itu wajar, karena wanita memang dilahirkan untuk hamil dan melahirkan. Jadi jika ada wanita yang tak bisa hamil dan melahirkan akan dianggap cacat.


Itu adalah pendapat yang salah, hamil adalah hal yang berat. Wanita harus mempersiapkan diri dulu sebelum hamil, itu yang dikatakan ilmu kedokteran. Karena hamil akan merubah semua yang wanita itu miliki.


Perubahan tubuh dan pisikis yang ekstrem mungkin tak bisa ditanggung oleh beberapa wanita. Jadi hamil itu adalah pilihan bukan kewajiban.


Tapi mematahkan persepsi masyarakat yang sudah terlanjur kuat itu tidak-lah semudah membalikkan telapak tangan. Jadi aku hanya bisa melindungi para wanita hamil yang membutuhkan pertolonganku di desa yang luas tapi terpencil ini.


Ketika mereka dulu hanya mengandalkan dukun bayi yang entah dari mana kelilmuan mereka berkiblat. Kini mereka bisa mencari tau apa yang ingin mereka tau dari keadaan diri dan bayi mereka melalui bantuanku. Yang akan memberi fakta yang seakurat mungkin.


.


Siang ini kami menikmati mie ayam Pak Santoso yang diantar Susi, tapi bocil SMP itu malah numpang bikin vidio tiktok dan bocah cungkring bermakeup tebal itu tengah menari-nari di depan kami.


Ingin ku usir, tapi Susi mana mau pergi. Aku hanya bisa menahan amarah sambil melihati jogetannya Susi yang kaku.


"Lihat ini!" kata Gisna, tapi layar ponselnya yang menyala sangat terang kayak ponsel milik bapak-bapak itu sudah terpampang di depan mataku.


"Apa sihhhh!" jawabku malas.


"Mas Wakil jalan sama cewek," kata Gisna.


Dengan secepat kilatan petir yang menyambar, segera ku ambil ponsel Gisna.


Kuperhatiakan layar ponsel Gisna lekat-lekat tapi tak sampai menempel. kuperbesar gambar potret itu, yapppp benar lelaki itu Zidane dan seorang gadis manis sedang berdiri di dekat lelaki itu.


Mereka terlihat begitu akrab dan sangat dekat. Wanita berambut pendek itu juga tampak seperti gadis yang terpelajar dan pasti bukan dari sekitar sini. Gadis itu tak lebih muda dariku tapi wajahnya manis dengan perawakan mungil.

__ADS_1


Lelaki itu sama saja, siapa bilang beda. Jika ada celah sedikit saja untuk mendekati perempuan, dengan tampa ragu-ragu seorang lelaki pasti akan masuk kecelah itu. Meski sempit, celah itu pasti akan diterobosnya.


Kuberikan lagi ponsel Gisna pada pemiliknya.


"Kamu nggak papa?" tanya Gisna yang langsung merasa iba.


"Emang aku harus kenapa-napa?!" tanyaku kesal.


Tapi Gisna hanya tersenyum mengejekku.


"Kenapa aku harus sakit, Zidane bukan siapa-siapa ku kan?" aku mulai berkilah.


Yaaa hatiku sakit ketika melihat itu, tapi aku masih bisa bertahan kok....aku akan bertahan dengan sekuat tenagaku.


"Sekarang mereka jalan-jalan di pantai, mungkin sebentar lagi akan ada acara kejar-kejaran dan bermain air laut...!" ujar Gisna, tapi belum selesai aku sudah berteriak keras.


"Mana biar kubanting ponselmu!!!" teriakku. "Kurang kerjaan banget, ikut grup rempong gibah begitu!".


Karena aku sudah terlalu muak, tak kuhabiskan mie ayam ku. Kutinggalkan mereka semua dan kembali masuk ke ruanganku. Dan aku mulai menyesal pindah ke tempat ini hanya karena keberadaan Zidane di sekitarku.


.


.


"Bukankah itu Mas Wakil dan gadis yang di foto?!" Gisna menunjuk salah satu restoran di area pasar, dan kedua sejoli itu duduk di dekat jendela.


Apa biar semua tau kalau kau sudah punya pacar, pamer sekali. Kau pikir hanya kamu yang bisa punya pacar???


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku pada Gisna yang sedang asik menjepretkan kamera ponselnya ke arah dimana Zidane dan gadisnya duduk.


"Di kirim ke grup, kenapa?" tanya Gisna polos.


"Apa kau tau itu menyalahi undang-undang, jika Zidane atau gadis itu tak suka kau bisa di penjara!" nasehatku.


"Mereka berdua sedang makan di restoran, dan Nesa...!" Gisna sama sekali tak mendengarku dan malah mengatakan apa yang dia tulis di grup sialan itu.


"Jangan bawa-bawa namaku!" kataku kesal.

__ADS_1


Malam itu aku tidur dini hari, padahal besok aku harus ikut kerja bakti. Karena Gisna akan pergi lagi ke Jakarta untuk menemui kekasih Pilotnya.


Tok-Tok-Tok


Mataku terbuka seketika, aku segera bangun dari tempat tidurku. Aku tak boleh tak kerja bakti, meski aku tak menyukai semua kegiatan itu. Demi kerukunan....benar demi kerukunan bersama.


Selama ini Gisna yang selalu pergi kerja bakti, ini pertama kali bagiku setelah lulus kuliah bangun pagi di hari minggu untuk kerja bakti.


"Gisna!" teriak suara seorang lelaki, aku menebak pasti Zidane.


Tebakanku sama sekali tak meleset pria itu sudah berdiri tegak di depan pintu rumahku saat aku membuka pintu.


"Kemana Gisna?" tanya Zidane padaku, wajahnya tersirat rasa khawatir.


"Ke Jakarta!" jawabku singkat.


Kami berjalan berdua menuju pantai bersama, Zidane sama sekali tak bicara padaku. Karena aku sudah diserbu oleh ibu-ibu.


"Biasanya yang kerja bakti Mbak Gisna! Kemana Mbak Gisnanya?" tanya Ibu Winda si ketua grup WA rempong.


Penampilannya berkiblat pada penyanyi tahun 90 an dengan syal kecil di lehernya. Aku juga pernah melihat Ibu Winda memakai topi baret yang membuat dia terlihat seperti pengamen yang kehilangan gitarnya.


Rambutnya yang dikriting rewok-rewok, sangat mirip dengan Ari kriting untung kulit Ibu Winda cerah jika tidak yaaa mirip banget sama si Ari kriting yang di TV.


"Dia pulang kampung Bu!" jawabku sopan.


"Ke Bandung?" tanyanya lagi.


"Iya!" aku hanya menjawab seadanya karena aku malas ngobrol dengan dia.


"Kemarin Si Nina keguguran!" kata Bu Winda.


"Auhhh kasian banget...!" Ibu lainnya menyahut.


"Mana anak pertama! Dasar Nina-nya dibilangin susah bener!" Ibu Winda mulai mengarang cerita.


Aku mencoba tak mendengar apa pun dari pembicaraan ibu-ibu itu, jadi aku memperlambat langkahku. Tapi akhirnya aku berjalan berdampingan lagi dengan Zidane.

__ADS_1


__ADS_2