
Tak semua bunga tumbuh dan mekar bersama. Ada yang sudah mulai mekar, ada yang masih kuncup dan ada yang sudah gugur. Begitu pun juga hidup, ada yang sedang bahagia, ada yang mulai bahagia dan ada yang sedang bersedih.
Maka jangan kau sia-sia--kan hidupmu, carilah kebahagiaanmu, dan hiduplah sebahagia mungkin.
Meski letak kebahagiaan setiap orang berbeda, tapi yakinlah. Semua orang pantas bahagia, seberapa buruk dirimu. Kau masih pantas untuk bahagia di dunia yang amat luas ini.
.
.
.
.
Zidane terbangun lagi karena mimpi buruk yang sama, nafasnya masih tersengal tak beraturan. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin, dia melihat jam dinding dan waktu masih menunjukkan jam 04:00 dini hari.
Mimpi yang hampir tiap malam dia dapatkan, mimpi yang sama.
Mimpi tentang ruangan gelap dan tangan-tangan berdarah yang berusaha meraih tubuhnya.
Setelah mimpi seperti itu Zidane tak akan bisa tidur lagi, dia akan sibuk dengan banyak hal. Tapi dini haru ini dia ingat dengan Nesa yang ternyata mudah sekali kaget.
Lelaki yang hati dan pikirannya sudah mulai tenang itu pun, berjalan ke arah sebuah area di dalam rumah kunonya yang indah. Dia memilah beberapa herbal, untuk Nesa.
Kunyit yang sudah diiris tipis-tipis dan dikeringkan, kayu manis dan daun rosemery. Bawang putih kering dan beberapa yang lain.
Dia tampak mahir dan tau apa saja kegunaan helbal-herbal di dalam ruangan itu.
Senyum selalu mengembang di wajah Zidane, dia bahagia. Bahagia karena...
"Aku pasti sudah gila. Mau dia kaget, serangan jantung, pingsan. Apa urusanku?" tanya Zidane penuh emosi kepada dirinya sendiri.
"Aku tak harus seperhatian ini, dia bisa GR lagi!" ujar Zidane.
Dia berdiri dari kursinya dan pergi ke dapur, dia masak air dan menyeduh teh melati yang harum.
Kenapa dia mau repot-repot melakukan ini, kenapa dia khawatir pada keadaan Dokter sombong itu.
"Tapi Nesa sangat penting bagi warga Ngobaran!
"Aku melakukannya untuk warga, bukan untuk dia!" Zidane mulai mencari pembelaan.
"Mau dia GR atau salah sangka, itu terserah dia. Aku hanya mau dia sehat, dan bisa menolong banyak warga yang sakit!" kata Zidane.
Akhirnya dia membuat ramuan herbal untuk Nesa.
Pria itu membuat idiologinya sendiri tanpa memedulikan jika perlahan-lahan, hatinya yang tertutup kabut hitam itu mulai terikat sebuah perasaan.
Perasaan yang tak bisa kau dapatkan meski kau ingin, dan perasaan itu hanya takdir yang bisa menyuguhkan. Mengetarkan hati setiap insan, menyatukan benang merah di antara mereka.
.
__ADS_1
.
.
.
"Jadi kita akan syuting di sini?" tanya Karis.
Artis paling tampan, paling terkenal, dan paling digemari saat ini. Dia adalah jebolan sebuah acara pencarian bakat masak di TV, tapi sekarang dia mau mencoba menjadi bintang utama di acara yang di buat oleh Felix.
"Gimana indah bukan?" tanya Felix pada Karis.
Lelaki tampan berkulit putih itu sangat kagum dengan keindahan pantai di Desa itu.
"Ini indah banget Sutradara!" ujar Karis, terkagum-kagum.
"Aku bilang juga apa, kau pasti akan senang!" kata Felix dengan penuh semangat.
"Tapi untuk apa anda membawaku subuh-subuh begini ke sini?" Kata Karis bingung.
Hari masih gelap, bahkan panggilan Adzan Subuh belum terdengar saat ini. Hanya ada suara deru ombak yang sayup-sayup membelah keheningan jam 04:00 pagi itu.
"Aku hanya tak sabar untuk segera sampai ke sini," ujar Felix tak enak hati.
"Apa kau pernah melihat matahari terbit???
"Kudengar matahari terbit di sini sangat indah. Kita bisa menikmati itu!" kata Felix mencoba membuat Karis tak terlalu kecewa.
Kepala Karis yang kecil mulai berfikir, apa dia akan bersama dengan sutradara aneh ini selama sebulan di sini. Bekerja bersama, makan bersama, dia pasti bisa depresi setelah suting selesai.
"Bukankah harusnya anda membuat bintang-bintang di langit itu sebagai alasan, itu lebih masuk akal dari matahari terbit!" ujar Karis.
Felix pun melihat ke langit, Karis benar pemandagan langit malam khatulistiwa di musim panas adalah yang terindah. Milyaran bintang berkelip ria, membuat semua orang iri akan cahayanya yang tak pernah pudar.
.
.
.
.
Mobil mini produksi Jepang berwarna putih milik Pak Polisi Irwan terus melaju ke arah Desa Ngobaran. Dengan kecepatan sedang pria kelahiran 1995 itu menyetir dengan sangat fokus.
Mata tajamnya hanya memandang ke arah depan, tanpa menoleh ke samping. Padahal di sampingnya, seorang wanita cantik dan bertalenta sedang memandangi pria bertubuh tegap dengan wajah yang tegas tapi mengayomi itu.
"Apa ini yang dibilang orang, 'mati satu tumbuh lagi'!" tanya Gisna pada dirinya sendiri.
"Mati satu tumbuh seribu!
"Maaf Nona, tapi yang benar itu!" ujar Pak Polisi muda itu.
__ADS_1
"Seribu terlalu banyak, satu saja sudah cukup kok untukku!" kata Gisna malah tersipu-sipu tak jelas.
"Maksut Bu Gisna?" tanya Irwan.
"Nggak, maksut saya....," Gisna tampak gugup. Dia tak mungkin bilang, suka pada Pak Polisi. Padahal dia baru saja curhat tentang mamtan calon suaminnya tadi.
"Anda tadi bilang, pernah ke klinik bersalin Intan tiga kali!
"Anda sudah menikah?" Gisna baru sadar akan ucapan Pak Polisi muda itu. Apa dia baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama dengan suami orang.
"Belum, saya belum menikah!
"Yang pertama saya mengantar kakak saya yang hamil.
"Yang kedua saya ke sana karena Klinik itu di rampok, anda bahkan bersaksi--kan waktu itu?"
"Iya!" jawab Gisna faham.
"Dan yang ketiga, saya mengantar seorang ibu-ibu yang akan segera melahirkan!" lanjut Irwan.
"Kenapa aku tak sadar dengan sinar ini sebelumnya?" tanya Gisna.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Irwan bingung.
"Sinar apa yaaa Bu Gisna!" tanya Irwan bingung.
"Sinar yang anda pancarkan. Maksut saya, aura anda. Apa yaaaa?!
"Anda tampak berbeda, yaaa cukup berbeda!" kataku.
Pak Polisi Irwan hanya memasang wajah datarnya yang bingung. Tapi fokusnya saat menyetir sepertinya tak turun. Meski mendengar ocehan Gisna yang tak masuk di akal sehalnya, yang kuno.
Sementara Gisna mencoba menutupi wajahnya yang manis tapi bengkak. Dia benar-benad malu, kenapa dia bisa langsung salting di hadapan seorang pria. Bukankah dia sudah pacaran puluhan kali, kenapa dia bisa sebodoh ini.
Berkali-kali dia jatuh cinta. Tapi dia tak pernah melakukan kebodohan semacam tadi. Dia tak pernah merayu pria duluan, tapi ada apa dengannya. Kenapa dia bisa segitu gilanya.
Cinta pada pandangan pertama, tentu bukan. Ini jatuh cinta yang diakibatkan karena Gisna butuh pelampiasan. Pasti itu...
Saat dia jatuh ke lubang paling dasar, dia ditarik oleh pria muda yang tampan. Siapa pun pasti akan jatuh cinta.
Benar tak hanya Gisna, semua orang pasti suka dengan Irwan. Dia baik, tampan, dan punya pekerjaan tetap.
"Anda terlihat lelah, sebaiknya anda tidur," usul Irawan.
"Akhhhhh ya, iya!" jawab Gisna.
Dia hanya bisa merasakan rasa perih di matanya, mana mungkin dia bisa tidur. Dia baru saja patah hati, lalu langsung jatuh cinta.
Bagaimana dia bisa tidur dengan nyaman saat kondisi jiwa dan hatinya sedang eror. Tapi dia paksakan untuk memejamkan matanya.
___________BERSAMBUNG___________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤