Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Asal Uang Irwan


__ADS_3

"Ada perlu apa kalian ke sini?" tanya Bu Tari pada Gisna dan Irwan.


"Gisna ingin mengunjungi keluargaku. Dan cuma tante satu-satunya keluarga terdekatku, yang kupunya saat ini!" jawab Irwan blak-blakan.


"Kalau begitu, silahkan duduk!" Bu Tari mempersilahkan mereka berdua duduk di ruang tamu sederhananya.


Gisna yang mendengar pengakuan Irwan yang amat sangat blak-blakan itu menjadi malu sendiri. Irwan memang benar, Gisna memang minta diajak pergi ke rumah keluarganya untuk dikenalkan. Tapi masa iya apa iya harus dikatakan secara gamblang seperti itu.


"Sebentar ya, tante buatin teh dulu!" kata Bu Tari.


Wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam rumahnya. Bu Kades itu sebenarnya punya dua orang putra, tapi mereka semua sedang berkuliah di luar kota. Jadi wanita yang sudah mengusir pergi suaminya itu kini hanya tinggal sendirian saja.


"Nggak usah repot-repot, Tante!" ujar Gisna.


"Nggak kok!" ujar Bu Tari.


Setelah wanita itu tak kelihatan lagi, Gisna segera menyodok pinggang Irwan dengan siku tangannya. Pemuda yang duduk sebelah Gisna itu segera memandang ke arah pacarnya itu. Karena sodokan yang dilayangkan oleh Gisna penuh cinta, jadi Irwan tak merasa sakit sama sekali.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau Bu Tari adalah keluargamu?" tanya Gisna dengan suara tertahan.


"Sweety tak pernah tanya!" jawab Irwan.


Tentu saja Gisna langsung kesal dengan jawaban yang dia dapat dari Irwan.


"Lain kali, apa pun yang terjadi. Kamu harus ceritakan padaku, tanpa harus kutanya!" ujar Gisna.


"Bolehkah?" tanya Irwan, lelaki itu menyeimbangkan nada suaranya dengan nada suara Gisna yang setengah berbisik.


"Boleh! Dan harus!" tekan Gisna.


Bu Tari sudah kembali dengan membawa tiga cangkir teh dan beberapa cemilan manis.


"Kau pasti kaget?" tanya Bu Tari pada Gisna.


Bidan cantik itu hanya tersenyum ke arah Bu Tari.


"Lain kali jangan sembunyikan apa pun, dari orang yang kau cintai Wan!" ujar Bu Tari.


Wanita yang amat bijaksana itu menasehati keponakannnya, di depan pacar keponakannya itu. Bu Tari adalah wanita yang pernah dihianati, dia pasti tau rasanya dibohongi oleh orang terdekat kita sendiri.


"Baik Tante!" ucap Irwan dengan nada tegas.


"Ternyata selera Mbak Gisna unik Juga?!" ujar Bu Tari.


Bahkan tante Irwan saja merasa pria ini amat unik.


"Saya suka Irwan apa adanya tante, dan saya akan menyukai Irwan apa pun yang terjadi!" kata Gisna.


Tentu saja Irwan tersipu malu, mendengar ucapan Gisna itu. Sementara senyum bahagia sudah mengembang diwajah paruh baya Bu Tari.


"Ternyata kau berkencan dengan wanita yang baik, Wan! Tante jadi bisa merasa tenang!" kata Bu Tari.


"Jika kalian sudah benar-benar yakin mau menjalani hubungan kalian dengan serius?" tanya Bu Tari.


"Iya Bu, perlahan-lahan kami akan mempersiapkan pernikahan kami. Dan masa depan kami!" ujar Gisna.


Irwan tampak terharu dengan perkataan Gisna barusan. Wanita di sampingnya ini bahkan tak tau siapa dirinya yang sebenarnya, tapi dengan gamblang mengatakan semua itu di depan tantenya.


"Ceritakan semua apa kekuarangan dan kelebihanmu pada Gisna, Wan!


"Karena menyembunyikan sesuatu dari pasangan kita, itu berarti kita tak menyayanginya dengan setulus hati.


"Entah itu baik apa buruk, kau harus menceritakan semuanya pada pasanganmu!" nasehat Bu Tari lagi.


"Baik tante!" ujar Irwan.

__ADS_1


Pacar Gisna itu pasti adalah lelaki yang penurut dan patuh. Dilihat bagaimana Bu Tari begitu santai menasihati keponakannya itu.


.


.


"Ini rumahmu?" tanya Gisna pada Irwan.


"Iya!" jawab Polisi muda itu.


Rumah itu tak besar tapi cukup luas, besarnya mungkin separuh rumah yang disewa Nesa dari Bu Tari.


"Aku menjual rumah peninggalan orang tuaku, karena sangat besar.


"Tante Tari tak mau tinggal di sana lagi, jadi kujual!


"Aku tak sanggup merawatnya!" kata Irwan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Irwan, tak luas tapi rapi. Diruang tamu petak kecil itu hanya ada satu set sofa yang kulit dan lemari kaca pajangan koleksi sejata mainan punya Irwan.


Gisna sempat berpikir, jika rumah ini terlalu kecil meski terletak di pinggir jalan raya.


"Apa kau nyaman tinggal di sini?" tanya Gisna.


"Kalau aku sendirian nyaman, tapi kita akan mencari rumah yang lebih besar. Jika akan menikah!" kata Irwan.


"Tapi tabunganku, sedang merintih-rintih!" kata Gisna.


"Aku yang akan beli rumah, untuk kita!" kata Irwan.


"Apa kau punya uang?" tanya Gisna.


"Sebentar!" kata Irwan.


Lelaki bertubuh tegap itu seketika menghilang ke dalam kamar satu-satunya di rumah kecil itu.


Tanpa tau harga dan kegunanaanya, Gisna merasa hobi Irwan cukup keren.


"Ini!" kata Irwan.


Lelaki itu memberikan sebuah buku tabungan ke pada Gisna. Gisna hanya bisa terpaku, bagaimana bisa seorang lelaki memberikan buku tabungannya pada pacarnya yang baru dia pacari kurang dari sebulan.


"Boleh kulihat?" tanya Gisna.


"Silahkan!" Irwan duduk di depan Gisna.


Halaman pertama tak ada yang istimewa, lalu halaman ke dua. Ada angka yang cukup mencengangkan, angka tiga dengan sembilan nol di belakangnya.


"Kenapa nolnya banyak sekali?" tanya Gisna banyak sekali.


"Itu hasil penjualan rumah orang tuaku yang ada di dekat kantor pemerintahan!" jelas Irwan.


'Tiga Milyar, apa aku tak salah lihat?' pekik Gisna di dalam hati nuraninya.


Uang itu cukup sering diambil dalam jumlah yang cukup besar.


"Kau ternyata banyak kebutuhan juga?!" tanya Gisna, agak kecewa.


"Itu untuk donasi!" kata Irwan.


"Donasi?" tanya Gisna, dia langsung merasa tubuh Irwan bersinar bak malaikat.


"Untuk beberapa panti asuhan, aku dari kecil sudah ditinggal kedua orang tuaku.


"Jadi aku merasa harus membantu anak-anak yang mengalami nasib sepertiku!" kata Irwan.

__ADS_1


Gisna membuka halaman lain lagi, dan ada dua tambahan uang yang tak kalah besar dari jumlah penjualan rumah orang tua Irwan.


"Tanah yang di ujung jalan, belum lama ini dibeli oleh orang dari kota!" ujar Irwan.


Gisna tertawa tak percaya.


"Mas Irwan, kenapa kau ini?


"Kenapa kau ini sempurna sekali? Hehhhhh!!!


"Kau dermawan, dan kau juga pekerja keras.


"Lihat kau bekerja keras untuk jadi polisi, padahal warisanmu tak akan habis tujuh turunan!" kata Gisna


"Kau tau, kau membuatku tak percaya pada mata ku sendiri.


"Bahwa aku bisa menemukan berlian mentah sepertimu.


"Kurasa mataku ini sakti nggak sih, karena bisa menemukanmu?!" Gisna bicara girang sekali.


.


.


.


.


Matahari amat menyengat hari ini, tak ada bau pantai dan angin yang segar. Karena kami sekarang ada di dalam mobil, aku dan Zidane sedang diperjalanan pulang ke Ngobaran.


"Trimakasih!" kataku.


Kutatap penuh perasaan wajah pacarku yang sedang fokus mengemudi di sebelahku.


"Untuk apa?" tanyanya, dia menoleh ke arahku sebentar lalu fokus lagi ke arah jalanan.


"Untuk senyumanmu!" ujarku, dengan tersenyum bahagia.


Dia tertawa terkekeh, kurasa dia mulai salting karena perkataananku.


"Teruslah tersenyum!


"Apa pun yang terjadi, baik atau buruk. Usahakan tetap tersenyum!


"Kau harus selalu bahagia!


"Jangan pedulikan apa pun, kau harus terus tersenyum dan bahagia seperti itu!" kataku.


Dia makin tertawa, tapi kini tawanya adalah tawa haru.


"Aku akan terus tersenyum untukmu!" jawabnya.


Aku senang bukan kepalang, karena bagiku senyum Zidane adalah segala-galanya. Senyum manisnya, tawa recehnya, kata-kata nakalnya yang romantis. Semua itu adalah kesukaanku, dan aku tak ingin semua itu hilang untuk selama-lamanya.


"Aku ingin bilang sesuatu!" kataku.


"Apa, katakan saja!" kata Zidane.


"Sebenarnya...!" aku tak bisa meneruskan apa yang ingin kukatakan.


"Aku akan berusaha berlapang dada seperti kamu, katakan saja! Akan kuterima semua apa yang akan kau katakan!


"Jadi katakan saja!" ujar Zidane.


"Aku mendapat tawaran, untuk mengajar di ITB!" kata Nesa.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2