Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Kelegaan


__ADS_3

Sebuah restoran yang cukup mewah di kota Jogjakarta dipilih oleh Marwan untuk menemui selingkuhannya Ratih.


Wanita itu berdandan secantik mungkin, dia memakai baju yang cukup minim agar Marwan tergoda lagi dengan kecantikanya.


Dia tak akan melepaskan Marwan hanya karena ancaman istrinya itu. Ratih sudah terlanjur malu, dan guru muda itu beranggapan. Dia telah terlanjur basah, jadi kenapa tidak berenang sekalian.


"Udah lama Mas?" tanya Ratih pada Marwan.


Dia berusaha semanis mungkin.


"Lumayan, pesanlah!" suruh Marwan.


Ratih pun melambaikan salah satu tangannya untuk memanggil pelayan restoran itu.


Tak seperti biasanya, Ratih memesan makanan yang murah. Gadis muda yang suka bergaya seperti Ratih, biasanya akan memesan makanan yang mahal dan mengunggahnya di akun media sosialnya.


"Kamu hanya pesan itu?" tanya Marwan bingung, biasnya Ratih akan pesan banyak makanan meski tak memakannya.


"Aku lagi diet Mas!" ujar Ratih manja.


"Gitu yaaa, ya udah makanlah!" suruh Marwan.


Lelaki itu hanya memesan segelas kopi hitam, dia tak ingin berlama-lama bersama Ratih di tempat itu.


Karena tujuannya mengajak Ratih bertemu di sini adalah untuk memutuskan hubungan terlarang mereka.


Tujuan kedua insan yang awalnya saling mencintai itu akhirnya berbeda.


Perselingkuhan yang berakhir dengan kehancuran, Marwan tak ingin sehancur itu. Dia ingin kembali pada Tari yang kasar dan kurang cantik.


Karena meski Tari punya kekurangan seperti itu, tapi wanita itu bisa mendukung karir politik Marwan.


Baginya Ratih hanyalah mainan, yang jika bosan dan menyusahkan bisa dia buang tanpa pikir panjang. Seperti sekarang ini.


"Mari kita akhiri ini!" kata Marwan tanpa keraguan.


"Kenapa?" tanya Ratih, dia pura-pura kaget.


"Aku tak akan menceraikan istriku, dan aku tak akan mau diceraikan olehnya.


"Jika kita putus maka Tari tak punya alasan untuk bercerai dariku!" jelas Marwan.


"Lalu aku bagaimana Mas, kau melupakan janji-janjimu padaku!" Ratih mulai meninggikan suaranya.


"Kau itu hanya mainan bagiku, janji?


"Janji apa? Janji yang keluar dari mulutku hanyalah omong kosong!" akui Marwan.


Ratih meraih gelas jus mangganya, dia sudah sangat emosi. Ternyata selama ini dia hanya di bohongi oleh politikus ini.


"Rupanya begitu!" kata Ratih.


Marwan sudah mau bergeser dia takut jus mangga itu akan tumpah di kepalanya.


"Jadi jangan menemuiku lagi, jangan meminta bantuanku lagi!" meski ketakutan disiram dengan jus mangga.


Marwan masih kekeh untuk putus, pria paruh baya itu tampaknya sudah siap disiram apa pun. Meski kuah sup yang masih panas sekali pun.


Orang nomor satu se--Ngobaran itu tau dia memang sudah keterlaluan pada Ratih.


"Bantuan?


"Bantuan apa yang kau maksut?!" teriak Ratih, dia tak malu lagi.


Meski resto itu sedang ramai oleh pengunjung.


"Mungkin kau akam dikeluarkan dari SDN 1 Ngobaran!" ujar Pak Kades itu dengan nada bangga.

__ADS_1


"Kau pikir aku menjadi guru, karena mau kau tiduri saja!


"Aku kuliah, dan aku mampu mengajar murit-muritku! Aku punya kemampuan!!!


"Karena itu aku menjadi guru!" kata Ratih dengan wajah garangnya.


"Bagus kalau begitu!" ujar Marwan.


Ratih mengenggam gelas jusnya semakin erat, dia mengangkatnya ke udara. Dan....


Ternyata terkaan Pak Kades Desa Ngobaran itu salah, jus mangga itu ditumpahkan Ratih ke atas kepalanya sendiri.


"Kau sudah gila?" tanya Pak Kades.


"Aku pantas mendapatkan ini!


"Karena aku sangat bodoh!!!


"Mau-maunya diriku yang berpendidikan ini, di ajak selingkuh pria pecundang sepertimu!" kata Ratih.


Jus mangga itu sudah membasahi rambut, wajah dan tubuhnya, yang dibalut oleh mini dress putih yang indah.


Guru muda itu bangkit dari kursinya dan berjalan santai keluar dari resto itu. Dia berjalan seolah tak terjadi apa pun.


Meski dia akan hancur berkeping-keping nantinya, tapi Ratih merasa lega. Dia sudah membuang sampah yang salama ini dia pungut dari selokan.


.


.


.


.


"Kenapa kau cemberut begitu?" tanyaku pada Gisna yang baru saja pulang dari kerja bakti.


"Apa dia menyinggungmu?" tanyaku.


"Enggak, dia menyinggungmu. Dan entah kenapa aku jadi emosi!" kata Gisna.


"Kau, sihhhh. Emosian!" kataku.


"Dibelain juga!" nada bicara Gisna mulai nyolot.


"Siapa suruh," ujarku.


Aku ke dapur untuk mengambil minum.


"Sekalian buat aku, Nes" perintahnya.


Aku dengan senang hati membawakan dia sebotol air putih dingin. Aku tau Gisna sedang kelelahan dan kepanasan, setelah kerja bakti.


"Bu Winda itu ternyata punya anak lho!" ujar Gisna.


"Kok, aku nggak pernah lihat?" tanyaku.


"Karena putrinya sudah meninggal, sekitar tiga tahun yang lalu!" jelas Gisna.


"Benarkah, aku sama sekali nggak dengar soal itu!" kataku terkejut.


Aku tak menyangka jika atmin lambe turah Desa Ngobaran, punya riwayat yang amat menyedihkan.


"Aku aja baru tau, putri Ibu Winda meninggal karena leokimia!" ujar Gisna.


"Apa?" aku tambah terkejut mendengar berita yang hampir tak masuk akal itu.


"Kamu harus minta maaf sama Bu Winda!" desakku.

__ADS_1


"Kenapa, apa yang kukatakan tadi itu benar. Kenapa aku harus minta maaf?!" Gisna tersulut emosi lagi.


"Mungkin dia begitu agar lupa dengan kesedihannya sendiri!" ujarku.


"Nggak ahhhh, males aku!" Gisna masih saja tak mau melunak.


"Kutemenin dech, kita harus jadi warga yang baik di sini, Gis.


"Kan kamu sendiri yang pernah bilang begitu dulu!" ungkitku.


Aku mencoba meredakan emosi Gisna, aku tau bagaimana Gisna kalau sudah melabrak orang. Semua binatang yang sudah punah pun dia absen, Bu Winda pasti tersinggung dengan perkataan Gisna.


"Emang sih, setelah tau kenyataan pahitnya. Aku juga merasa bersalah.


"Dia pergi dari Balai Desa dengan wajah merah dan hampir memagis!" kata Gisna.


"Ayo kerumahnya, kita harus membawakan dia buah!


"Kita beli di toko Ibu Nia aja!" ideku.


Mau tak mau Gisna harus menuruti pendapatku, demi keberlangsungan laju roda klinik Intan. Kami harus melupakan dendam dan ketidak adilan. Kami harus baik pada orang lain, meski kita tak mau melakukannya.


.


.


Sebuah rumah yang indah, bergaya minimalis moderen. Rumah Ibu Winda yang tampak bersih rapi dan indah, dengan banyak bunga bermekaran di pekarangannya. Sangat indah, sangat kontras dengan sifat pemiliknya yang suka buat gara-gara.


Tok...Tok...Tok...


Kuketuk pintu berbahan kayu di depanku.


"Siapa?" suara cempreng yang khas itu menyapa dari dalam rumah Ibu Winda.


Aku tak menjawab, aku takut jika aku mengatakan kedatanganku. Ibu Winda mungkin tak akan mau membukakan pintu rumahnya untuk kami.


Tak lama pintu itu terbuka, nongollah si empunya rumah yang somgong abis.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada super ketus.


"Boleh kami masuk, Bu?" tanyaku dengan lembut dan sopan.


"Silahkan!" nada yang dibuat menyambut kami pun terdengar kasar.


"Mau lama apa bentar di sini, kalo lama saya buatin teh!" kata Ibu Winda.


Padahal kita baru datang, tapi arah bicaranya sudah mau mengusir kami saja.


"Enggak usah repot-repot Bu Winda!


"Kedatangan kami kemari, karena ingin minta maaf soal apa yang dilakukan Gisna di tempat kerja bakti tadi!" kataku.


"Iya Bu, saya minta maaf. Harusnya saya tak membahasnya di depan orang banyak.


"Tadi saya juga ngebentak Ibu Winda, jadi saya merasa saya benar-benar kurang ajar!" lanjut Gisna.


"Saya juga salah kok, harusnya saya tak mempublikasikan rahasia orang.


"Orang lain jadi salah faham dengan Bu Dokter karena saya.


"Saya juga minta maaf Bu Dokter!" kata Ibu Winda.


Nada bicaranya menjadi ramah kembali.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2