
Nesa pulang hari jumat malam, dan dia langsung punya pasien paginya. Jadi hari itu Nesa cukup sibuk di klinik, hingga tengah malam. Nesa hanya menghubungi Zidane melalui panggilan ponsel, padahal Dokter kandungan itu sudah sangat merindukan pacarnya. Tapi lagi-lagi mereka disibukkan dengan urusan masing-masing.
Nesa merasa dia harus melakukan sesuatu, gadis itu merasa ini sudah waktunya.
"Jadi kau akan melamar Mas Wakil?" tanya Gisna.
"Iya, menurutmu paling bagus pake cara yang gimana?" tanya Nesa pada Gisna.
Mereka sedang di ruang periksa Nesa, wanita itu sedang santai dan memanggil temannya untuk ke ruangannya. Agar pembicaraan rahasia ini tak bocor.
"Emang dia bakal mau nikah sama kamu?" tanya Gisna.
"Aku nggak mikir bakal ditolak!" ujar Nesa.
"Gimana kalau Mas Wakil nolak?" tanya Gisna.
"Nggak bakal lah!" Nesa sangat yakin.
"Yaaaa harus yakin sihh, kau harus diterima kan?" ujar Gisna.
"Bener!
"Aku lagi mikir cara yang tak bisa dilupakan oleh dia, tapi semakin banyak aku berpikir. Aku nggak menemukan apa pun!" ujar Nesa.
"Itulah kelemahan sistem sekolah di negara kita, kita diajari cara berkembang biak. Tapi tak diajari bagaimana cara melamar calon suami!" ujar Gisna.
Karena setuju dengan ungkapan Gisna, Nesa segera mengajak sahabatnya itu untuk tos.
"Kenapa kamu buru-buru, kamu hamil?" tanya Gisna.
"Itulah kelemahan daya pikir masyarakat kita! Apa kalau mau nikah harus hamil duluan!" ujar Nesa kesal.
"Biasanya,"
Kedua sahabat itu ngakak bersama, seolah hal itu lucu. Banyak kasus hamil duluan yang mereka tangani, ada yang memaksa pengen aborsi. Ada yang curhat panjang lebar. Begitulah.
"Coba cari cara sederhana dan berkesan, Mas Wakil kan suka kesederhanaan!" ujar Gisna.
"Kau benar, sederhana tapi berkesan!" kata Nesa.
Bu Dokter itu tersenyum lebar, sebuah tanda dia menemukan cara untuk melamar Zidane.
.
.
Pantai tempat mereka pertama kali bertemu menjadi pilihan Nesa. Nesa mengenakan sepatu heels merah yang pernah dipunggutkan oleh Zidane saat itu.
Nesa sudah memasang tikar, dan dia duduk di atas tikar itu. Pandangannya lurus ke pantai, dia membayangkan pertemuan mereka hari itu.
Betapa lucunya, mereka yang selalu berdebat dan marahan. Siapa yang menyangka jika mereka akan menjadi kekasih seperti hari ini. Dan akan menikah pula.
"Kau sudah sampai?" tanya Zidane, lelaki tampan itu duduk di samping Nesa.
__ADS_1
Nesa hanya tersenyum membayangkan akan reaksi Zidane nanti, saat dia melamar pacarnya itu.
"Ada apa, kau bilang ada yang penting?" Zidane kini fokus pada wajah manis nan cantik Nesa.
"Kau masih ingat sepatuku ini?" tanya Zidane.
Zidane melihat ke arah sepatu Heels merah Nesa.
"Tentu saja!" kata Zidane.
"Bukankah lucu, hari itu kau sangat kasar. Kau mencuri makananku saat pertama kali bertemu!" ujar Nesa dengan senyum yang terus mengembang di wajah cantiknya.
"Makanan?" Zidane bingung.
"Nasi bancaan di rumah Bu Tari!" Nesa menginggatkan pacarnya itu.
"Kau tak mau makan saat kutawari," timpal Zidane.
Nesa ingin marah, tapi dia ingat tujuannya ke sini bukan untuk gelut dengan Zidane. Tujuannya ke sini adalah untuk melamar kekasihnya itu.
"Siapa yang menyangka jika kita akan pacaran?" tanya Nesa.
Nesa mengeluarkan sepatu lelaki baru, ukurannya tepat seperti ukuran kaki Zidane. Bu Dokter itu menyandingkan sepatu besar itu di sebelah heels merahnya.
"Aku ingin sepatu kita bersanding di depan rumahmu, selamanya!
"Zidane, maukah kau menikahiku?" tanya Nesa.
"Enggak!" ujar Zidane sepontan.
"Bukan begitu!" Zidane tampak bingung.
Dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi, tapi dia memperlihatkan kotak hitam pada Nesa.
"Apa itu?" tanya Nesa.
"Aku juga ingin melamarmu hari ini! Kenapa malah kau duluin?
"Heisttttt ngeselin tau!" Zidane malah merajuk.
"Ya udahhh, mulai aja!" ujar Nesa.
"Mana bisa, kau udah duluin. Nanti jadinya akan aneh!" Zidane masih marah.
"Anggap saja aku nggak bilang apa-apa! Sepatumu aku umpetin!
"Dahhhhh!" ujar Nesa.
Seakan bisa direplay, kejadian yang amat indah dan romantis itu hancur karena vieling mereka sama.
"Kita harus ke atas bukit, aku akan melamarmu di sana!" ujar Zidane.
"Aku males jalan!" kata Nesa kesal.
__ADS_1
Hari ini dia bawa sepatu heels yang tingginya minta ampun. Mana mungkin dia bisa menaiki bukit terjal itu tanpa terluka.
"Aku gendong deh!" ujar Zidane.
"Nggak usah, dari pada besok kamu encok!" ujar Nesa.
Akhirnya Bu Dokter memakai sepatu Zidane yang baru akan dia berikan pada kekasihnya tadi, tapu malah nggak jadi.
.
.
"Astaga!" Nesa kaget sekali
Dia tak menyangka akan melihat kapal itu di atas bukit ini.
"Kau gila?" tanya Nesa pada Zidane.
"Iya, aku tergila-gila padamu!" ujar Zidane.
Nesa hanya bisa tersenyum manis ke arah pacarnya itu.
"Sejak pertama kali aku melihatmu duduk seorang diri di tepi pantai, dengan pandangan yang sedih.
"Aku bertanya, apa yang terjadi padamu saat itu...
"Pandanganmu begitu kosong dan putus asa!" kata Zidane.
"Semenjak saat itu, wajah manismu selalu memenuhi pikiranku. Dan tak mau hilang!
"Meski akhirnya kita akan berdebat dan marahan, aku selalu ingin bertemu denganmu.
"Menggodamu dan dekat denganmu!" ujar Zidane.
"Jadi..., karena aku sudah membawa kapal ini ke sini!
"Turuti janjimu, menikahlah denganku!" kata Zidane.
Akhirnya kotak itu dibuka oleh Zidane, seuntai kalung berlian. Hal itu menbuat Nesa terbelalak kaget, dia tak pernah berpikir lamarannya akan se indah ini.
Dia dulu berpikir, lamarannya akan berada di restoran mewah atau tempat tertutup yang elit. Tapi ini luar biasa, ini jauh lebih romantis dari apa pun.
"Mari kita menikah!" ujar Nesa.
___________TAMAT_________
Gini nihhh kalau penulis crime, horor, tlailer disuruh nulis nopel romance...
Lumayan lahhh yaaa....Bisa meski acak-acakan🤣🤣🤣
Yang sabar kawan, hanya orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata yang bisa faham sama alur Nopel gue😁😁😁
Moga gaya nulis aku yang Movie banget kagak bikin kalian pusing. Soalnya ini pertama kalinya aku nulis Nopel Romansa Komedi.
__ADS_1
Harap maklom