
Zidane kembali membuka halaman lain dan mulai membaca untuk Nesa lagi.
"Cinta itu tentang rasa, rasa indah yang tak akan habis. Jika kau menodai dengan gairah bercinta sebelum cinta itu disatukan.
"Itu akan menjadi bencana!" baca Zidane
Zidane berhenti sejenak.
"Kemana pun kau pergi, kemana pun kau menghilang.
"Aku akan mengejarmu sampai titik penghabisanku.
"Karena aku mencintaimu, bukan karena ***** bercinta. Tapi aku benar-benar mencintaimu sepenuh hatiku!" Zidane membaca bagian lain lagi.
"Buku ini cukup menarik!" kata Zidane.
Matanya yang masih jernih itu memandang ke arah Nesa yang sudah terlelap menikmati alam bawah sadarnya.
Lagi-lagi senyum Zidane mengembang indah saat menatap Nesa.
.
.
.
.
Seperti hari-hari biasanya, aku saat ini duduk di balik meja kerjaku. Aku sedang membaca lagi beberapa data tentang pasienku.
Dretttttttt, Dretttttttt, Drettttttttt
Ponselku bergetar, dan itu panggilan dari nomor yang tak dikenal. Tapi aku mengangkatnya.
"Hallo!" kata suara perempuan dibalik telepon itu.
"Hallo," jawabku datar.
"Ini Vanesa Intan--kan?" tanya wanita itu.
"Iya, ini siapa ya?" aku mulai penasaran.
"Aku Laras, senior kamu di kampus!" wanita itu menyebutkan namanya.
"Kak Laras!" kataku senang.
Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Semenjak lulus aku belum pernah berjumpa dengan Lak Laras, karena dia langsung pindah ke bandung saat itu.
"Gimana kabar kamu Nes?" tanya Kak Laras di balik telfonnya.
"Aku baik-baik aja Kak!" ujarku.
Aku senang sekali bisa ngobrol lagi dengan seniorku, yang amat kukagumi ini. Dia adalah panutan, serta salah satu orang yang cukup berjasa dalam hidupku.
Kak Laras memperkenalkan aku dengan banyak siswa yang membutuhkan les pribadi. Hampir semua anak yang dikenalkan padaku waktu itu, adalah anak orang kaya. Yang orang tuanya berani membayar mahal asal anak mereka bisa pintar.
"Kudengar dari Dokter Kenma kau pindah ke Jogja?" tanya Kak Laras.
Dokter Kenma bilang ke Kak Laras, kenapa bisa begitu. Paling mereka ketemu nggak sengaja lalu Kak Laras nanya tentang aku.
Tidak akan mungkin Dokter Kenma yang sombong itu mau menanyakan tentang aku.
"Iya Kak!" jawabku biasa aja.
Entah kenapa sekarang aku tak malu lagi, mengaku sebagai Dokter di pinggiran pesisir begini. Aku malah merasa bangga dan bahagia sekarang.
"Sebenarnya sekitar sebulan lalu, Dokter Kenma menelfonku.
"Dia bertanya tentang lowongan mengajar di Universitas Kedokteran di Bandung.
__ADS_1
"Dia merekomendasikan kamu, Nes. Jadi aku mencarikan lowongan itu.
"Di ITB, ada lowongan. Jika kau mau aku akan membuat surat rekomendasi pada rektor di sana!
"Aku kenal Rektornya dengan sangat baik!" kata Kak Laras.
Yaaaa aku tersentak karena kaget. Bagaimana bisa Dokter Kenma sampai menghubungi Kak Laras dan meminta pekerjaan untukku.
"Ohhhhh, bukannya aku nggak mau Kak!
"Tapi aku harus mengurus banyak hal sebelum pindah, jadi akan kupikirkan lagi!" kataku.
Aku tak mungkin menolak penawaran sebagus itu, menjadi dosen di universitas bergengsi seperti itu sangatlah sulit. Tapi aku mendapatkan kesempatan itu tanpa bekerja keras.
"Pikirkan--lah Nes! ini kesempatan yang sangat langka!" kata Kak Laras.
"Trimakasih yaaa Kak, aku akan mengabari kakak secepatnya!" kataku.
"Baiklah, jangan membuatku menunggu lama-lama cantik!" ujar Kak Laras.
Seniorku itu selalu memanggilku begitu. Nesa Cantik.
Setelah menutup panggilan itu aku termenung di ruanganku. Manik mataku tertuju pada ombak yang mengulung di laut. Tapi pikiranku ada di tempat lain.
Pikiranku ada di Dokter Kenma. Kenapa pria itu sampai mengemis ke Kak Laras, untuk mencarikanku pekerjaan.
Bagaimana dia bisa membuatku bimbang begini.
Apa aku harus tanya langsung apa alasannya, tapi tak mungkin aku ke Jakarta tanpa Zidane.
Tapi jika aku tak menanayakannya, aku akan merasa bingung dan bimbang.
Meski saat ini hatiku sudah sepenuhnya milik Zidane. Tapi hal janggal yang dilakukan Dokter Kenma ini membuatku penasaran.
Padahal aku bisa langsung menyimpulkan. Dokter Kenma melakukan itu, pasti karena merasa bersalah padaku, dia membuangku tanpa menoleh.
Dia pasti sengsara saat ini, karena aku yakin kondisi rumah sakit sedang kacau.
Kenapa aku jadi memikirkan hal aneh itu.
Sebaiknya aku fokus ke pacarku, dari pada memikirkan tunangan orang lain.
Tapi saat aku mau menekan nama 'Pacarku' di layar ponselku. Aku mendapat sebuah pesan teks...
'Tiga hari lagi ulang tahun ayahmu, apa kau bisa pulang'
Itu adalah pesan yang dikirim oleh ibu tiriku. Wanita itu adalah ibu yang baik, dia perhatian dengan ayahku dan juga cukup mencintaiku. Dia tak pernah mengganguku saat aku ingin sendiri, dia selalu sabar dan menerima apa pun yang kulakukan.
Meski kelakuanku pasti amat menyebalkan.
Hari ulang tahun ayahku, bagaimana jika aku mengajak Zidane ke rumah orang tuaku.
Apa ini terlalu cepat???
Zidane mau nggak yaaaa?
Gimana kalau ayah malah meminta pernikahan, tapi aku mau mengajak Zidane ke sana!
Yaaaa Tuhan, ini pertama kalinya aku akan membawa lelaki ke rumah. Ternyata rasanya setegang ini???
"Tapi aku harus diskusi dulu dengan Zidane, gimana kalau dia belom siap untuk bertemu kedua orang tuaku?" desahku panjang.
.
.
"Aku akan ikut denganmu, aku akan minta libur ke Sutradara Felix!" kata Zidane.
Aku tak menyangka jika Zidane akan menyetujui hal itu dengan cepat.
__ADS_1
Saking bahagianya aku memeluk tubuhnya dari belakang. Karena dia sedang menyiapkan makan malam kami di dapur rumahnya.
Aku sengaja menunggunya pulang di rumahnya. Sebenarnya aku yang ingin memasak, tapi Zidane bahkan tak menijinkanku untuk sekedar membantu memcuci sayuran.
"Apa kau sebahagia itu?" tanyanya.
"Tentu saja, pacarku memasak untukku, pacarku juga mau kuajak ke rumah orang tuaku meski kita belom lama pacaran.
"Dan pacarku sangat manis sekali!" kataku.
Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaanku pada Zidane.
"Benarkah?" tanyanya.
Dia berbalik ke arahku, dan memelukku dari depan.
"Apa pun akan aku lakukan untukmu, Nesa!" katanya.
"Serius, jika kusuruh masuk sumur kau mau?" tanyaku pada Zidane.
"Aku akan bawa alat pengaman!" katanya.
"Jika kusuruh terjun ke lautan?" tanyaku.
"Aku pandai berenang, dan aku punya lisensi memyelam juga!" jawabnya.
"Jika kusuruh mendaki gunung?" tanyaku.
"Aku bisa!" katanya.
"Apa yang enggak bisa kau lakukan? Kau bisa semua!" kataku.
Kami selalu berakhir dengan tersenyum sersama.
"Apa yang kau takuti?" tanyanya padaku.
"Aku takut kehilangan kamu!" jawabku jujur.
Zidane malah tersenyum tertahan dan wajahnya memerah.
"Telur gorengnya bisa gosong, lepaskan aku!" katanya.
"Tidak mau, mulai hari ini kau adalah tawananku!
"Jika kau tak bisa kujangkau, mati kau!" gerutuku.
Dia berbalik lagi kearah kompor dan melanjutkan aktifitas memasaknya. Sementara aku yaaa gelendotan pada tubuhnya, emang aku bisa melakukan apa lagi...
.
.
Kegiyataan malam itu kita sambung dengan makan berdua di teras belakang rumah Zidane.
"Enak sekali!" kataku, setelah kumasukkan satu suapan besar kedalam mulutku.
Dia memasak menu yang cukup susah yaitu ayam kecap. Bagiku susah entah bagi ibu-ibu yang baca😁.
Di lengkapi dengan tumis sawi manis, telor dan tempe goreng. Sederhana memang, tapi jika yang masak mamas ganteng Zidane dijamin rasanya tak ada tandingannya.
"Apa kau tak lelah?
"Kau bekerja seharian, pulang-pulang langsung masak dan mendengar ocehanku?" tanyaku.
"Ocehan dan senyummu membuatku langsung lupa rasa capekku!" katanya.
"Benarkah, lihat lima tahun yang akan datang! Kau pasti bilang ocehanku membuatmu bosan!" kataku.
"Aku ingin mendengar ocehanmu seumur hidupku! Apa kau bisa terus mengoceh untukku!" pinta Zidane.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤