
Semenjak aku mengajak Zidane ke rumah orang tuaku, ayah dan ibu jadi sering menanyakannya.
Aku tak berharap banyak, tapi tampaknya kedua orang tuaku sangat menyukai Zidnae. Sama seperti aku menyukai pria itu.
Jadi hari itu aku menunggu Zidane di rumahnya, dia bilang masih harus bekerja sore itu. Jadi aku menunggu dia di dalam rumahnya yang rapi dan wangi.
Zidane pulang cukup malam hari ini, tapi semangatku tak surut untuk mengajaknya melakukan sesuatu. Sesuatu yang amat penting bagi pasangan seperti kami.
Sesuatu yang bisa membuat kita lebih dekat dan saling percaya tentunya.
"Kau pulang malam sekali!" ujarku.
"Akhhhh ada pengambilan gambar tambahan tadi!" kata Zidane yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
"Cepat mandilah!" suruhku.
"Mandi?" tanya Zidane bingung.
"Cepat mandi sana!" aku mendorong tubuh tegapnya ke arah kamar mandi.
"Ok, aku akan mandi. Jangan pergi!" katanya.
Wajahnya yang tadinya lelah jadi semangat lagi.
"Makanya cepet!" ujarku.
Kenapa dia bahagia sekali, padahal aku hanya menyuruhnya mandi. Yaaaa ampun Zidane.
Tak sampai 10 menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan sehelai handuk yang dilitkan dipinggang datarnya.
Aku bisa melihat otot-otot indah di tubuh bagian atasnya.
Kutelan saliva di seluruh area mulutku, aku tak mau jika cairan itu menetes jika aku terlalu bengong.
Tubuh pacarku, kenapa bisa terlihat se--hot itu.
"Kita akan melakukannya di mana?" tanyanya.
Aku pun baru sadar dari lamunanku, dan baru menyadari suara maskulin Zidane yang mengajukan pertanyaan.
"Di sini!" jawabku langsung.
"Di ruang tamu?" tanyanya, dia sedikit salah tingkah.
"Emang mau di mana?" tanyaku.
"Kamarku cukup luas!" katanya.
"Di ruang tamu saja!" aku kekeh.
Dia menghela napasnya panjang dan malah berjalan ke arahku yang duduk di salah satu sofa di ruang tamunya.
"Kalau begitu ayo lakukan! Mau di ruang tamu, di dapur. Atau di halaman sekali pun. Aku akan setuju saja!" kata Zidane.
Pacarku itu malah duduk dekatku. Padahal dia masih telanjang dada dan hanya mengenakan sehelai handuk untuk menyembunyikan burung tanpa sangkarnya.
Mata kami saling bertemu, tapi hanya ada pandangan saling bertanya.
"Cepat pake bajumu, kenapa malah duduk di sini!" teriakku.
Kedua tinjuku segera menghantam cepat dada bidangnya.
"Ok-ok, handukku melorot nihhh!" ujarnya.
Kutarik tinjuku dan kubuat kedua telapak tanganku untuk menutup kedua mataku.
"Akkkkkk, cepat ganti baju sanaaaaa!" aku semakin berteriak.
Tapi sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku. Aku segera ingin membuka telapak tanganku, tapi dicegah oleh cengkeraman tangan Zidane.
Alhasil aku menikmati, kecupan-kecupan hangat bibir Zidane dengan menutup mataku dengan kedua tanganku sendiri.
Entah kenapa rasa kecupannya lebih nikmat dan manis, aku tentu saja juga membalas kecupan hangatnya. Aku berusaha mengimbangi kecupannya yang makin intens, tapi di saat lagi hot-hotnya dia melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Kenapa?" tanyaku langsung.
Aku ingin menurunkan tanganku dari kelopak mataku, tapi lagi-lagi ditahan oleh Zidane.
__ADS_1
"Jangan dibuka dulu!" aku hanya bisa mendengar suaranya tampak gugup.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ada yang berdiri!" katanya.
"Jangan turunkan dulu, aku akan ke kamar. Awas kau sampai lihat!" katanya.
Aku tak bisa, tak tertawa. Kenapa dia konyol sekali, dia malu karena sesuatu dalam dirinya berdiri. Astagaaaaaa.
.
.
"Akkkkkkkkkkk! Pelan-pelan saja!" teriak Zidane dengan nada tertahan.
"Ini udah pelan-pelan, sedikit lagi!" kataku.
"Auhhhhhh, upsttttttt, akhhhhhhhhhhhh. Udahhhhh!" dia tak bisa menahan teriakannya lagi.
"Aku menyerah!" katanya, sambil menepuk-nepukkan tangannya ke lantai.
"Tubuhmu kaku sekali!" kataku.
"Bukankah aneh, melakukan ini di tengah malam begini?" tanya Zidane.
"Apanya yang aneh? Biasa aja!" kataku.
"Bagaimana jika tetangga mendengar teriakkan kita?" tanya Zidane.
"Emang aku teriak, kamu tuhhh yang teriak dari tadi!" desahku kesal.
"Gimana kalau gaya yang lain yang lebih simple!" pintanya.
"Awas jika kau teriak lagi, ini gerakan paling simple lho!" kataku.
"Enggak, aku nggak akan teriak!" dia berjanji.
"Jadi begini!" kataku.
"Harus mepet begini!" kataku.
"Begitu yaaaaa!" dia berusaha melakukan apa yang kuarahkan.
"Akhhhhhhhh!" teriakknya tertahan.
"Sakit, nessss, ampun sakit!" katanya lagi.
"Rewel banget sihhhhh!" kataku.
"Emang sakit lhooo!" katanya.
"Kalau gitu kita meditasi saja!" kataku.
Aku pun membenarkan posisi kakiku dan bersila di depannya. Kami baru saja mencoba beberapa gerakan Yoga.
Apa ada yang mengira kita melakukan adegan tak senonoh???
Zidane memang manusia biasa, dia bahkan tak bisa melakukan posisi meditasi Yoga dengan benar.
"Begini--kan?" tanyanya, dia mencoba bersila mengikuti caraku.
"Letakkan kedua tanganmu di masing-masing dengkulmu!" arahanku.
"Ok!" katanya bersemangat.
"Pejamkan matamu, dan atur pernapasanmu!" kataku.
"Uhhhhh, manis sekali!" katanya.
Aku pun membuka mataku, dan melihat ke arah wajahnya yang berada tepat dihadapanku.
"Manis apanya?" tanyaku.
"Pacarku, manis sekali!" ujarnya.
"Fokuslah!" bentakku.
__ADS_1
"Pejamkan matamu, ayooo!" pintaku.
Tapi Zidane tak mau menurut, dia malah memandangku semakin tajam.
"Aku nggak mau memjamkan mataku, ketika kau di depanku!" katanya.
Aku hanya bisa tertawa, mendengar gombalan anehnya.
"Manis, cantik, dan lucu!
"Bagaimana aku rela memejamkan mataku!" katanya.
Dia malah mengelus-elus pipiku. Dan hal yang dia lakukan itu tentu saja langsung membangunkan jiwa bucinku juga.
"Kau juga manis!" kataku.
Aku juga mengelus pipinya dengan lembut.
"Tapi kau lebih manis!" katanya.
Telapak tangannya tak mau lepas dari pipiku.
"Aku semanis apa?" tanyaku.
"Kucing, kamu mirip kucing!" katanya.
"Kalau kau, mirip anak anjing...lucu sekali!" kataku.
Tapi dia terdiam.
"Kenapa? Aku lebih suka anjing dari pada kucing!" kataku.
Aku lupa dia beragama Islam dan aku Nasrani.
"Akhhhhhh, kau tak mirip anjing...!" aku mencoba meralat ucapanku.
"Kauuuuuu mirip....apa yaaa?! Kambing?" tanyaku.
Aku bahkan bingung mau bilang Zidnae mirip apa. Karena aku tak bisa membayangkan dia mirip hewan apa pun, selain anak anjing.
"Embekkkkkk!" dia malah menirukan suara kambing.
Aku pun tertawa dibuatnya, dia tak marah meski kukatai seperti anjing dan kambing.
"Meonggggg!" aku tak mau kalah, aku pun menirukan suara kucing.
"Yaaa ampun, manis bangettt sihhhh!" katanya.
Dia lalu memelukku dan membenamkan wajahku di dada bidangnya.
Cinta bukan masalah perbedaan, tapi rasa. Ketika rasa sudah merasuk ke dalam hati, apa perbedaan berarti???
Kami mengalahkan akan apa pun, termasuk perbedaan agama kami. Bagi kami itu bukan masalah yang besar.
Karena perbedaan bisa menjadi sebuah batu sandungan, tapi juga bisa menjadi batu pondasi yang kuat.
Tergantung bagaimana kita menyikapi, perbedaan keyakinan bukan suatu hal yang buruk.
Yang terpenting Aku dan Zidane tak berbeda rasa, kami saling mencintai dan saling pengertian. Kami saling tau, dan peduli. Perbedaan agama kami menjadi sebuah warna sendiri yang tak dimiliki hubungan lain.
Ketika dia harus berhenti di rest area untuk ibadah, aku menunggunya dengan melihatinya dari jendela Mushola.
Saat aku pergi ke Gereja di hari minggu dia menjemput dan mengantarku. Meski dia harus menunggu di mobil dia bilang dia suka melakukan itu.
Ketika makan kami melafalkan doa yang berbeda di dalam hati.
Katika kita bersyukur kita mengucapkan kata yang berbeda tapi intinya sama.
Perbedaan Agama kami tak menyurutkan rasa bahagia kami. Karena kami yakin Agama bukan sebuah penghalang kita untuk bahagia, tapi Agama adalah sebuah keyakinan yang bisa membuat kita lebih bahagia.
Jangan membuat Agama menjadi tameng untuk merendahkan orang lain. Karena aku yakin Agama diturunkan oleh Tuhan bukan untuk alasan perpecahan tapi persatuan.
Tak ada yang lebih baik, atau buruk. Setiap Agama punya nilai yang setara. Karena saling menghormati akan melahirkan banyak kebahagiaan.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1