
Sore itu mataku dimanjakan dengan pemandangan langit sore yang indah di Desa Ngobaran ini.
Warna jingga kemerahan mendominasi di setiap titik, angin sepoy-sepoy dan suara burung yang bersahutan mengiringi perpindahan kekuasaan. Kekusaan sang surya yang diambil alih oleh sang rembulan.
Alunan musik rege yang sahdu diputar setelah Adzan Isya berkumandang. Suasana menjadi sedikit riuh karena banyak orang yang mulai berdatangan.
"Aku nggak percaya bisa ketemu kakak di sini!" kataku jujur.
Tak pernah terbesit atau terbayangkan bahwa aku akan bertemu salah satu temanku di sini. Pantai Ngobaraan memang indah tapi tak seterkenal pantai lain di daerah ini.
Orang luar yang berkunjung kesini, pasti akan kekusahaan untuk mencari tempat ini jika tak diantar oleh pemandu wisata.
"Sama, aku juga tak berfikir bisa bertemu denganmu di tempat yang indah ini.
"Kudengar kau bekerja di rumah sakit Hendarto tahun lalu.
"Aku selalu mencari tau kabarmu, dari teman-temanku!" kata Kak Felix.
Aku tau dia orang yang amat sibuk, tapi aku juga mendengar jika seniorku itu terus menanyakan kabarku tiap bertemu dengan teman-temannya.
Bolehkah aku menebak sesuatu, tapi aku tak mau kepedean dulu. Sifat Kak Felix itu sama dengan Zidane, dia baik pada semua orang.
Mungkin dia menanyakan kabarku, karena dia khawatir padaku. Bukan karena perasaan yang khusus.
"Aku tau, mereka memyampaikannya padaku!" jawabku malu-malu.
"Tak kusangka ternyata kau malah lebih berkembang dari aku.
"Kau mengejar cita-citamu sampai ke tempat ini.
"Kau mengambil banyak resiko untuk sampai ke tempat ini--kan?" Kak Felix selalu memujiku.
Padahal aku kesini bukan karena naluri jiwaku. Lebih ke kerpaksa.
"Aku harus berani. Jika tidak, Bagaiamna aku bisa berkembang dan mengejar ketertinggalan!" ujarku.
"Saat ini kau lebih dari sukses, lho.
"Usiamu masih muda, kau punya klinik sendiri. Kau juga mandiri, yang pasti kau cantik!" Kak Felix mengatakannya dengan nada yang amat mengebu-gebu, membuatku jadi salah tingkah.
"Aku cantik dari dulu!" sombongku.
"Tentu saja, tak ada yang bilang kau jelek!" Kak Felix masih saja memujiku.
"Bukankah menyenangkan tinggal di sini?" tanya Kak Felix.
"Benar, di sini memang menyenangkan!
"Ohhhh iya bagaimana Kakak bisa sampai ke sini?" tanyaku penasaran.
"Tiba-tiba saja aku mencari tempat ini, entahlah.
"Mungkin ini takdir agar kita bisa bertemu lagi!" ujar Kak Felix.
"Kakak benar, mungkin ini takdir untuk kita.
"Dulu sewaktu di Jakarta, kita berdekatan tapi tak pernah bisa bertemu.
"Dan tanpa sengaja kita malah bisa ngobrol panjang di tempat ini!" kataku.
"Kau benar!" mata Kak Felix memandnangku tajam.
Entah kenapa itu membuatku tak nyaman dan sedikit membuat hatiku merasa tak enak.
"Kau masih sama seperti waktu masih kuliah dulu, Nes.
"Kau baik, pekerja keras dan manis!" kata Kak Felix.
"Menurutku tidak!" kata Zidane.
Tanpa didahului gemuruh atau petir yang menyambar lelaki aneh itu malah ikut nimbrung di meja kami.
__ADS_1
"Dokter Nesa itu, galak dan susah didekati!" kata Zidane.
Dia membawa beberapa cangkir minuman berbau aneh.
"Apa ini?" tanyaku.
"Arak, yang dibuat orang sini!" kata Zidane.
"Ini memabukkan?" tanya Felix.
"Tidak, minuman ini menghangatkan tubuh saja!" kata Zidane.
"Aku tak percaya padamu!" kataku, karena kulihat ekspresi wajah Zidnae agak sedikit aneh.
"Kalau nggak mau biar kami yang minum!" kata Zidane.
"Kau sudah memberikannya, jadi tak baik diambil kembali!" ujarku.
"Ini bau alkohol!" kata Felix.
"Apa kau tak bisa minum alkohol Sutradara?" tanya Zidane.
"Kau pikir aku anak TK, bahkan anak SMA sekarang banyak yang minum-minum!" kata Felix.
"Kau benar, pergaulan jaman sekarang memang terlalu bebas!" ujarku.
"Sepertimu, pergaulanmu pasti juga bebas!" ejek Zidane padaku.
"Dia hanya tau belajar dan mengajar les, dia bahkan tak punya pacar sewaktu kuliah.
"Banyak cowok yang Nesa tolak dengan alasan, dia ingin fokus belajar!" jelas Felix.
Zidane tampak masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Kak Felix tentangku.
"Aku harus mencari uang untuk diriku sendiri, dan terus mengejar beasiswa.
"Hingga aku tak bisa pacaran.
"Saat itu kupikir pacaran hanya mengganggu kosentrasi belajarku!" jelasku.
Aku hanya tertawa, aku tak bisa mengatakan apa pun. Aku tak pernah pacaran, dan aku malu untuk mengatakan hal itu.
"Kudengar kau pernah suka dengan Dokter Kenma Kazume!" ujar Kak Felix.
Bagaimana dia tau aku pernah naksir sama setan gentayangan itu.
"Akhhhhh tidak, aku hanya kagum saja!" kataku.
"Syukurlah!" ujar Kak Felix.
"Kazume Kenma, apa dia orang Jepang?!" tanya Zidane.
"Ibunya orang Jepang. Dia lulusan Fakultas Kedokteran UI" ujar Felix.
Zidane terdiam, dan mulai mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kudengar kau juga lulusan UI?" tanyaku pada Zidane.
"Kak Dokter Kenma, alumni tahun berapa?" aku balik bertanya pada Kak Felix.
"Kurasa dia lulus bersamaan denganku!" kata Kak Felix.
"Harusnya kau tau Zidane, Kenma itu terkenal di kalangan mahasiswa di Jakarta saat itu!" ujarku.
Aku harus memancingnya, aku tak yakin Zidane benar-benar lulusan universitas bergengsi itu.
"Kazume Kenma, aku tau tapi tak begitu mengenalnya.
"Aku tak dijurusan Kedokteran!" Zidane mencari alasan.
"Kau mencurigakan!" kataku.
__ADS_1
"Terserah kau mau curiga atau bagaiman, aku tak peduli!" jawab Zidane dengan nada selengekan lagi.
"Kau lulusan UI, jurusan apa?" tanya Felix.
"Teknik!" jawab Zidane.
"Ohhhh, apa kau kenal dengan Bagas?" tanya Felix.
"Bagas?"
"Nama lengkapnya Bagas Santoso, dia kakak iparku!
"Tapi kurasa tidak, almarhum kakak iparku itu lulus di tahun...!" Kak Felix masih mencoba menginggat tahun kakak iparnya lulus.
"Tidak, setelah lulus aku tak pernah menghadiri reuni alumni!" kata Zidane.
"Dia ingin hidup sesuka hatinya sendiri Kak!" ujarku.
Malam itu kami mengobrol cukup lama, dan waktu sudah hampir tengah malam. Kami memutuskan untuk pulang, kepalaku agak pusing karena arak yang diberikan oleh Zidane tadi.
Kak Felix menginap di motel tempatku dulu pernah menginap jadi dia langsung pulang ke sana. Sementara aku dan Zidnae berjalan ke arah pemukiman di Desa itu.
"Apa kau mabuk?" tanyanya.
"Tidak!" jawabku, tapi aku tak bisa berjalan dengan lurus.
Sampai Zidane menangkap tubuhku yang sempoyongan.
"Naiklah kepunggungku!" perintahnya.
"Nggak mau, aku tidak mabuk!" kataku, tapi kepalaku semakin pusing.
Aku memaksakan berjalan, aku tak boleh kelihatan dekat dengan Zidnae. Meski ini tengah malam, siapa yang tau jika Bu Winda masih berkeliaran untuk mencari berita gosip.
Tapi Zidnae malah mendahului jalanku dan berjongkok didepanku.
"Cepat naik, akan kuantar sampai rumahmu!" kata Zidane.
"Nanti punggungmu sakit!" kataku.
"Cepat naik saja, jika tidak aku tak akan mengantarmu!" ancamnya.
"Apa kau ini kakek-kakek gampang sekali marah!" gumamku.
Mau tak mau aku naik kepunggung Zidane yang lebar dan hangat.
"Punggungmu nyaman sekali!" kataku.
"Benarkah?" tanyanya.
"Ini tentang Kazume Kenma, apa kau benar-benar pernah menyukainya?" tanyanya.
"Kenapa kau mengungkit dia lagi, aku sudah melupakannya!" kataku.
"Kau sudah melupakannya?" tanya Zidnae.
"Dia adalah pria terbrengsek yang pernah kutemui.
"Dia menikah karena calon istrinya adalah pemilik Hendarto Grup.
"Aku yakin Kenma keparat itu tak menyukai gadis jelek itu!" kataku.
Aku masih saja merasa emosi jika membicarakan masalah Dokter Kenma. Kelakuannya benar-benar lebih menjijikan dari pada seekor cicak.
"Nesa, bagaimana jika Kenma menyukaimu dan dia tak sebrengsek itu?" tanya Zidane.
"Kau ini bicara apa?
"Apa kau kenal Dokter Kenma itu?
"Aku yakin kau akan benci jika melihat wajahnya saja!" ujarku yakin sekali.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤