Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Selalu Bucin


__ADS_3

Lampu kerlap-kerlip dan dekorasi bunga-bunga putih menghiasi rumah duka Mbah Miyah.  Bukan tanpa alasan, ini adalah permintaan beliau. Mbah Miyah tak ingin di hari besarnya itu, rumahnya tampak kelam dan menakutkan.


Dia ingin suasana rumahnya tetap indah dan hidup, dia bilang rumahnya tak boleh terlihat seperti rumah hantu saat dia meninggal.


Zidane tampaknya mengabulkan permintaan Mbah Miyah yang nyeleneh itu. Seperti sedang ada acara ulang tahun, Mbah Miyah ingin dihari pemakamannya semua orang bahagia. Karena baginya kematian bukan untuk ditangisi tapi untuk disyukuri.


Karena dengan kematian, mereka bisa bertemu dengan penciptanya. Orang tua itu memang selalu bijaksana.


Meski begitu wajah Hartono putra semata wayang Mbah Miyah masih saja sedih dan berduka. Bagaimana pun lelaki yang berusia 50 tahun itu pasti bersedih, karena telah kehilangan ibunda tercintanya.


"Apa di akhir hidupnya, ibuku hidup dengan bahagia?" tanya Hartono pada Zidane yang duduk di sebelahnya.


Dipan yang biasa diduduki Mbah Miyah menjadi penyangga, simpuhan ratapan mereka berdua.


"Mbah Miyah bahagia sekali, dia banyak makan dan selalu tidur nyenyak saat malam.


"Dia juga bersantai dan banyak istirahat! Mbah Miyah juga sempat belajar membuat sabun!" kata Zidane jujur.


Karena setelah oprasi Mbah Miyah tampak lebih lincah dan bahagia. Orang tua itu makan segala jenis makanan dan selalu tidur dengan nyaman. Zidane juga melarang Mbah Miyah bekerja, alhasil perempuan itu diajari Zidane cara membuat sabun.


"Aku tak ingat wajah ibuku, padahal aku memandang fotonya berkali-kali. Tapi aku masib saja tak mengenalinya!" kata Hartono sedih.


"Aku anak yang durhaka bukan, harusnya aku sering ke sini meski sibuk!" wajah Hartono masih datar saja, meski raut sedih sudah terpancar di wajah tuanya.


"Aku bahkan malu untuk menangisi ibuku.


"Biyaya oprasinya, harusnya aku membiyayainya!" rintih Hartono.


Pria itu tak bisa menahan air matanya lagi, tangis penyesalannya kini pecah mengisi pelataran yang sudah sepi itu.


"Mbah Miyah menjalani oprasi itu, karena itu dia bisa makan dan tidur dengan nyaman selama enam bulan terakhir ini!" jelas Zidane.


"Kenapa aku malah mementingkan kepentingan anak-anakku saja?" sesal Hartono.


"Ibuku pasti sangat mementingkanku juga, karena aku putranya!" tangis Hartono makin menjadi.


Hanya tinggal penyesalan yang tersisa di dalam dadanya.


"Bagi Mbah Miyah, Mas Hartono itu putra yang baik. Pekerja keras dan sukses. Seorang Direktur yang kompeten.


"Dan Mbah Miyah selalu bangga dengan putra semata wayangnya!" ujar Zidane.


Ibu selalu seperti itu, seburuk apa pun. Dia akan selalu bangga pada anak-anak mereka. Meski dia dilupakan oleh anak-anaknya, tapi seorang ibu tak pernah lupa akan anak-anak mereka.


Kasih ibu bagaikan mentari yang menyinari dunia, dia tak perlu balasan. Tapi kasih ibu itu juga seperti laut, yang amat luas dan dalam.


Meski diakhir hidup kita sebagai anak hanya diisi ratapan sesaat. Orang tua kita yang telah mati juga pasti tak akan marah. Karena mereka selalu ingin anak-anak mereka bahagia, hanya itu.


.


.


SATU BULAN KEMUDIAN


Nesa sedang mengepak pakaiannya, dia harus menghadiri seminar. Sementara Zidane sudah berada di ruangan kamar Nesa.


Lelaki itu tampak cemberut, ia duduk di kursi rias Nesa.


"Apa kau mau pindah?" tanya Gisna yang berdiri di pintu.

__ADS_1


"Banyak banget, bukannya hanya tiga hari doang?" Mbak Gisna makin nerocos.


"Aku harus tampil secantik mungkin!" ujar Nesa.


"Bantuin aku donk!" ujar Nesa, dia menarik tangan pacarnya yang duduk di kursi riasnya.


"Bawa separuhnya saja!" ujar Zidane.


"Nggak, aku harus bawa semua ini!" sifat keras kepala Nesa keluar lagi.


"Aku tau kau akan bawa semua ini!" kata Zidane.


"Enggak sekalian pesen truk buat jasa pindahan?" tanya Gisna.


Nesa memasang wajah kesalnya ke arah sahabatnya itu.


"Gisna cerewet banget Zidane!" Nesa merajuk, dia mengadu pada pacarnya dengan nada yang lucu.


"Sini-sini...Cup cup cup!" Zidane segera memeluk tubuh Nesa untuk menenangkan pacarnya itu.


"Uhhhhh!" Nesa langsung meraih pelukan pacarnya itu.


Setelah selesai bersiap, Nesa diantar ke mobilnya oleh Zidane. Mereka harus melewati lorong menuju klinik Nesa, karena Nesa memarkirkan mobilnya disana. Karena jalan ke rumahnya sempit dan juga dia tak punya garasi di rumah sewaannya itu.


"Aku nggak suka ini! Aku nggak suka berpisah dari kamu!" ujar Nesa manja, pasangan itu berjalan sambil gelendotan.


"Jangan gitu, lagian cuma tiga hari doank!" ujar Zidane.


"Tiga hari terasa tiga abat tau jika jauh darimu!" Nesa semakin manja.


"Kupikir kayak 72 jam?!" goda Zidane.


"Bagaimana narasumber membatalkan seminarnya?" tanya Zidane.


"Habis aku harus berpisah darimu!


"Kamu sih nggak mau ikut aku aja!" Nesa kini cemberut.


"Aku sibuk, jadwalku padat!" kata Zidane.


"Sepadat apa?" tanya Nesa masih di mode imutnya.


"Pagi ini aku harus membantu di restoran baru Bu Tari.


"Lalu ke Restoran Pia Palen.


"Setelah itu ke Cafe Davey.


"Banyaklah pokoknya!" ujar Zidane.


"Pacarku juga sibuk banget di sini.


"Andai kau muat di koperku, bisa kubawa kau kemana-mana," ujar Nesa.


"Jika kau muat di sakuku, akan kubawa kau ke toilet juga!" ujar Zidane.


Dia ingin marah melihat tingkah manja Nesa, tapi dia juga suka kemanjaan Nesa ini. Hal ini lah yang membuat mereka langeng sampai saat ini.


"Beneran, tapi ke toilet. Kamu keterlaluan!" ujar Nesa, akhirnya Bu Dokter itu kembali ke mode normal.

__ADS_1


"Habis kamu mau masukin aku ke koper!" protes Zidane.


Nesa merebut gagang kopernya dari tangan Zidane dengan kasar.


"Kau marah?" tanya Zidane.


Nesa tak menjawab, gadis itu berjalan ke depan tanpa menoleh ke arah pacarnya lagi.


"Jangan marah! Nesaaa,Nesssss, Nesaaaa!" ujar Zidane.


"Nggak mau cium dulu?" tanya Zidane.


Nesa yang awalnya marah itu pun berbalik ke arah Zidane. Dia bahkan berlari bersama kopernya, dia peluk erat tubuh Zidane dan Nesa mengecup pipi pacarnya itu dengan mesra.


"Jaga diri baik-baik!" kata Nesa.


"Jangan makan eskrim tanpa aku, jangan melihat bintang tanpa aku.


"Selalu ingat aku!" pesan Nesa.


Zidane tak bisa tak tertawa, kenapa Nesa bisa mengatakan hal kekanakan semacam itu.


"Siap Bu Dokter!" ujar Zidane.


Tak jauh dari mereka berdua berdiri santai dua orang wanita. Bu Tari dan Bu Winda, mereka berdua tengah mengamati kemesraan Zidane dan Nesa.


"Lama-lama aku muak melihat tingkah mereka!" ujar Bu Winda.


"Kau benar!" ujar Bu Tari.


Sepeninggalan Nesa, Zidane segera berlari ke arah pantai depan rumahnya. Di sana sudah ada crawler crane yang sudah siap menunggu kedatangan Zidane.


Zidane ingin mengabulkan permintaan Nesa yang ingin memindahkan kapal nelayan milik kakeknya ke atas bukit tempat mereka pertama bertemu.


Ijin dan segala macamnya sudah dilengkapi oleh Zidane. Dia memang bukan Sangkuriang atau Bandung Bondowoso, tapi jika urusan memindahkan kapal itu kepuncak bukit. Itu adalah hal yang dapat ia lalukan...kan ada alat bantunya di jaman sekarang.


Permintaan ini mungkin berat, tapi bagi Zidane ini adalah tanda keseriusannya pada Nesa. Lelaki itu ingin melamar gadis pujaannya di atas bukit saat kapal itu sudah berhasil naik ke sana.


"Apa kau sudah gila?" tanya Mas Fahmi.


Pemilik Cafe Davey itu pasti baru mau berangkat kerja.


"Begitulah!" ujar Zidane.


"Makin hari kau makin aneh, Dan!" ujar Fahmi pada Zidane.


"Kamu makin hari makin malas, ini jam berapa Cafemu belom buka? Orang ngopi tuh pagi-pagi!


"Kamu kesiangan melulu!" oceh Zidane.


"Kampret, ini masih pagi banget anjimmm!" Fahmi mulai kesal.


"Jam berapa ini?" tanya Zidane.


"Jam 10!" ujar Fahmi.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2