
"Aku sudah peringatkan, kalau kerja yang bener donk!!!
"Udah nganternya terlambat, mana pesananku selalu aja ada yang kelupaan!" Nesa lagi-lagi marah, dia kaget karena suara Pia Palen yang baru muncul.
"Maaf Bu Dokter, ini pesanan yang ketinggalan!" kata Pia Palen.
Wanita dengan riasan menor itu tampaknya juga ketakutan saat Nesa berada di mode Sanin seperti saat ini.
"Mas Wakil nggak papa, sini saya bantu! Patah ya tulangnya?" tanya Pia Palen.
Nesa segera masuk lagi ke dalam kliniknya, tapi dia masih mengintip dari balik jendela.
"Kenapa aku malah menendangnya, gimana kalau dia cedera???
"Bego baget sihhhh aku ini!" Nesa mengerutu pada dirinya sendiri.
"Dia nggak marah--kan, bagaimana jika dia marah???
"Akhhhhhh bego!" Nesa mengacak-acak rambutnya dengan satu tangannya, karena tangan yang lainnya harus memegang plastik berisi makanan yang lupa dibawa Zidane tadi.
.
.
.
.
HARI KETIGA BACKSTREET
"Kamu dimana?" tanya Nesa pada Zidnae.
Pasangan kekasih yang sedang menjalani hubungan kucing-kucingan itu, sedang berbicara melalui konektifitas jaringan internet.
"Aku sedang ditoko Bu Nia!" kata Zidane.
Pria itu duduk di balik meja kasir dan sedang memeriksa data barang-barang di sana.
"Aku akan kesana!" kata Nesa.
"Untuk apa?" tanya Zidane.
Raut ketakutan segera menguasai wajahnya, dia tau akan terjadi hal buruk lagi jika Nesa mendekatinya di tempat umum.
"Melihat pacarku!" ujar Nesa tanpa rasa malu.
"Jangan, jangan kemari!" Zidane melarang Nesa.
Tapi namanya Nesa, mana mungkin dia mau menurut. Apa lagi rasa rindu sudah mengebu menyerang sanubarinya. Bertemu kekasih hatinya adalah obat manjur untuk gejolak bersekala rendah tapi sering itu.
Tak butuh waktu lama, Zdiane yang sedang menata produk di rak-rak toko Ibu Nia pun segera didekati oleh Nesa.
Wanita itu baru saja sampai dan celingak-celinguk memeriksa ke adaan. Setelah yakin tak ada orang barulah Nesa mendekati Zidane.
"Jangan dekat-dekat, kau hanya ingin melihatku saja--kan?!" ujar Zidane.
"Padahal sudah jauh-jauh kesini, tapi aku bahkan tak bisa menyentuh pipi manismu!" kata Nesa.
Senyum manis dan nada manja, senjata utama Nesa itu memang cukup ampuh membuat Zidane luluh dan langsung tersenyum ke arah pacarnya itu.
"Tetap jaga jarak, dua meter!" tarnyata Zidane belum luluh sepenuhnya.
"Bagiku ini dua meter!" ucap Nesa.
Wanita dengan seragam biru-biru dan kardigan merah marun itu malah mendekat selangkah lagi kearah Zidane.
"Pake sekala internasional!" kata Zidane dengan membentak, tapi dia masih tersenyum karena ulah Nesa.
Karena gadis itu berdiri tak lebih dari 30 CM dari posisi Zidane.
__ADS_1
"Segini kalau gitu!" ujar Nesa.
Bukannya mundur, Nesa malah semakin maju ke arah Zidane.
"Kita pasti ketauan!" ujar Zidane.
Dia tak mengerti lagi dengan tingkah Nesa. Yang awalnya minta backstreet adalah Nesa, tapi gadis itu seakan tak mau lepas dari Zidane sedetik saja.
"Enggak," ujar Nesa, yang sudah mengelayut mesra di salah satu lengan kekar Zidane.
Zidane berusaha menahan nafas, n.afsu, sistem reaksi, radar pantau dan masih banyak lagi. Dia harus tetap sadar, dia tak boleh melakukan hal-hal yang tak senonoh di dalam warung orang lain.
"Tak kintang-kintang kintung, anak ayah, sekarang tujuh kilo!" suara maskulin itu terdengar dan secara refleks Nesa langsung mengenali suara itu.
Suara suami Ibu Nia.
Gubrakkkkkk
Kekerasan kembali terjadi pada Zidane.
"Astaga, hidungmu Mas Wakil!" teriak Ibu Nia.
Nesa segera melihat ke arah wajah Zidane yang sudah bengong.
Nesa segera menutup mulutnya karena kaget. Di tak menyangka srudukan kepalanya ke wajah Zidane malah mebuat hidung pacarnya itu mimisan.
"Maaf!" bisik Nesa.
"Hahhhhh darah?" tanya Zidane pada Ibu Nia.
"Dokter Nesa, kau keterlaluan apa yang kau lakukan pada Mas Wakil?!
"Dokter ada dendam apa sih sama Mas Wakil, dia bisa mati kalau dekat dengan anda terus!" Ibu Nia segera menarik Nesa agar gadis itu keluar dari tokonya.
"Astaga Mas Wakil, apa sih yang kau lakukan sampai Dokter Nesa marah banget sama kamu!" Bu Nia masih nerocos setelah mengusir Nesa dari tokonya.
Ibu muda itu juga membantu Zidane mengelap darah yang mengalir dari salah satu lubang di hidung Zidane.
.
Kini mereka berdua duduk di salah satu dipan di depan toko kelontong itu.
"Aku mau pulang dulu!" ujar Zidane.
Lelaki itu sedang memikirkan banyak hal, kenapa Nesa melakukan semua ini. Sampai sejauh ini.
Apa Nesa hanya ekting, cinta sama Zidane.
Kenapa Dokter itu menjadi semakin kasar dan brutal, padahal dia--kan sudah bersetatus pacarnya.
"Yaaaaa pulang--lah, istirahat. Jangan mikir yang aneh-aneh!" nasehat suami Ibu Nia.
.
Sementara Nesa tampak sangat gelisah, pesannya sama sekali tak di baca oleh Zidane.
"Apa dia marah padaku?" tanya Nesa pada ponselnya.
"Kalau aku pasti marah!" Gisna mulai mengompori.
"Aku--kan nggak sengaja!!!" ujar Nesa.
"Sampai mimisan, masih berkilah tak sengaja!" Gisna hanya bisa mengeleng pelan.
"Jangan marah donk...Zidane!!!
"Aku nggak sengajaaaaa, akhhhhh. Gimana donkkkk ini!" Nesa merengek-rengek sendiri di atas sofa ruang tunggunya.
"Lebay banget sih kamu!!!
__ADS_1
"Belajar dari mana kau bisa sebucin itu sama Mas Wakil?
"Jangan bilang kau belajar dariku?
"Benar kau hanya melihat cara pacaranku!" kata Gisna sambil berpikir tentang dirinya ketika dia jatuh cinta.
"Apa aku separah itu saat jatuh cinta?!
"Yaaa ampun aku baru sadar!" pekik Gisna.
Sementara Nesa masih mengetik kata-kata cinta yang mesra, agar dimaafkan oleh Zidane.
Tapi tak satu pun dibalas oleh kekasihnya itu, Nesa pun semakin gelisah dan banyak berpikir.
Tindakan Nesa memang sudah keterlaluan, mana ada orang pacaran tapi suka menyiksa seperti itu.
Dia telah melakukan kekerasan dalam pacaran, karena takut dengan rumor. Tapi Nesa hanya ingin hidup bahagia dan tenang, dia nggak mau membuat Zidane juga diolok-oleh warga Desa.
Karena Nesa tau sendiri bagaimana menderitanya dia saat gosip aneh itu menerpa dirinya. Nesa pikir Zidane pasti tak akan bisa bertahan dengannya karena dikucilkan.
.
Sampai malam harinya Nesa masih belum mendapatkan pesan apa pun dari Zidane, karena dia khawatir tentang keadaan pacarnya itu. Dokter cantik itu memutuskan untuk pergi ke rumah Zidane.
Dia tak bisa tidur malam ini, jika tak melihat wajah pacarnya.
Nesa menunggu Zidane di depan rumah pacarnya itu, karena belum ada tanda-tanda pujaan hatinya itu di dalam rumah.
Tak lama Zidane sampai dirumahnya, Nesa yang sudah cemas dan sedih langsung berhambur dan memeluk pacarnya itu.
"Apa kau marah?" tanya Nesa.
Zidane yang sudah tersenyum dari tadi itu tak bisa pura-pura marah atau sekedar ngambek pada Nesa.
"Nggak, kenapa aku harus marah padamu?" tanya Zidane ke Nesa.
Pelukan pacarnya itu di balas oleh Zidane.
"Aku kangen kamu!" ujar Nesa.
"Aku juga!" kata Zidane.
"Kau sudah makan?" tanya Nesa pada Zidane.
"Sudah! Kau sendiri sudah makan?" tanya Zidane.
"Aku harus banyak makan, untuk punya tenaga agar bisa mengejarmu kesana-kemari!" kata Nesa.
"Benar, kau suka mengejarku kemana-mana!" Zidane tak bisa tak tertawa medengar ucapan Nesa yang amat manis.
"Ayo kita jalan-jalan ke pantai!" ajak Nesa.
Zidane melepas pelukan kekasihnya itu dan mengengam tangan Nesa.
Langkah kaki kedua insan, genggaman tangan yang erat. Malam yang begitu romantis, di temani dengan cahaya bintang dan rembulan yang tak mau redup.
Seolah iri dengan perasaan mengebu yang indah mereka.
"Ayo!" Zidane bersedia untuk pergi bersama Nesa.
"Aku ingin selalu begini!" kata Nesa.
"Maksutmu?" tanya Zidane.
"Mencintaimu, dan mencintaimu. Hanya kamu dan cuma kamu!" ujar Nesa.
"Kalau begitu lakukanlah!" ujar Zidane.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤