Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Lisensi


__ADS_3

Aku memang pernah ke tempat ini berkali-kali, tapi aku masih tak tau di mana letak tempat Agen Properti di desa terpencil ini. Sekarang pun aku hanya berputar-putar tak jelas di pantai, aku berharap Zidane muncul dan membantuku.


"Kenapa aku bisa berfikir tentang pria songong itu di saat seperti ini!" kataku mengingatkan diriku sendiri. "Aku pasti bisa mencari Agen Properti tanpa pria aneh itu!" tekatku.


Aku pun mulai berjalan menjauh dari pantai, ku telusuri jajaran bangunan-bagunan yang tampak kosong di pingiran jalan menuju pantai itu. Belum lama aku berjalan seseorang memaggilku.


"Bu Dokter!" pekik suara melengking yang kukenal.


"Ibu Nia!" aku hampir melompat karena kaget. Bagaimana wanita yang belum lama mengalami pendarahan malah mengendarai motor dengan banyak barang belanjaan seperti ini.


"Kupikir saya salah lihat Buk, ibu liburan lagi?" tanya Ibu Nia dengan nada sangat ramah.


Wanita yang tengah hamil besar itu tak turun dari motornya. Dia pasti akan sangat kesusahan jika turun, karena badan besarnya hampir tertimbun barang belanjaan.


Bagaimana Ibu Nia bisa memutar setir motornya yang tertutup sayuran itu. Tapi kelihatannya dia tampak sehat dan bersemangat hari ini, itu membuatku senang.


"Enggak kok Buk, saya memutuskan untuk membuka klinik di sini!" kataku, entah kenapa aku mengatakan kata-kata itu dengan sangat lancar.


"Yang bener Buk?!" kelihatanya Ibu Nia saja tak percaya dengan keputusan yang kubuat, apa lagi aku.


"Tenang Bu Dokter, ibu tunggu di sini ya! Saya akan panggil Mas Wakil untuk bantu Ibu!" kata Ibu Nia.


Tanpa persetujuan dariku, Ibu Nia langsung memuntir pedal gas di stang motor metiknya.


"Buk, tidak perlu!" kataku lirih. "Apa Zidane benar-benar bisa membantuku?" aku pun mulai bingung.


Bagaimana jika Zidane malah meledekku karena mau membuka klinik di tempat seperti ini. Lelaki songong itu...


Aku memutuskan tak menuruti kata-kata Ibu Nia untuk menunggu Zidane di tempat itu. Aku akan berjalan di pusat pertokoan di pasar, pasti letak Agen Properti ada di area semacam itu.


Tapi saat aku berputar-putar di area pertokoan di pasar aku malah bingung dan sepertinya tersesat. Betapa bodohnya aku bisa tersesat di tempat terpencil semacam ini.


Bagaimana jika aku bertemu preman dan disakiti, bagaimana jika aku dirampok. Aku mulai memperhatikan sekitarku yang sudah sangat sepi padahal hari ini masih siang.


Aku memasang telingaku untuk mendengar suara yang ramai, aku harus pergi ke tempat yang ramai sebelum sesuatu yang buruk menimpaku.


Belum juga aku melangkah pergi sebuah tangan kekar malah meremas salah satu pundakku. Tanpa banyak tanya dan berpikir aku segera memasang kuda-kudaku dan kutarik tangan kekar itu dengan teknik kuncian yang kupelajari saat SMA.


Bruakkkkkkkk


Tak ada teriakan atau balasan, tapi aku malah disuguhi dengan wajah yang tampak melongo terkejut. Meski orang itu tampak tergeletak di jalanan aspal, dia masih sempat terkejut karena keahlianku.


"Maaf, aku nggak sengaja!" kataku.

__ADS_1


"Aku tau kamu sengaja!" kata Zidane, dia segera menangkis tanganku yang hendak menolongnya.


Dengan susah payah pria berbaju kasual itu segera berdiri sambil meremas pingang bagian belakangnya.


"Sakit ya?" tanyaku, dengan rasa bersalah.


"Banget." kata Zidane. "Kata Mbak Nia, kamu mau buka klinik di sini?"


Zidane langsung menanyakan pertanyaan itu dan aku tak bisa bercanda lagi mengingat kondisinya yang hampir patah tulang karena seranganku.


"Iya!" jawabku.


"Kau mau bagunan yang sebesar apa?" tanya Zidane.


"Tolong antar aku ke Agen Properti saja!" kataku.


Dia malah merogoh kantung di dalam tas ranselnya dan memberiku sebuah kartu nama.


Di kartu berwarna putih itu tertulis bahwa Zidane Sebastian adalah Agen Properti yang berlisensi.


"Kamu kerja sebagai Agen Properti?" tanyaku, aku bertambah bingung dengan apa yang baru saja kulihat.


"Apa kau butuh baguanan yang besar untuk klinik?" tanya Zidane.


"Bagaimana kalau menyewa?" tanya Zidane.


"Ada yang bisa disewa?" tanyaku senang.


"Tentu saja!"


Ternyata bangunan dua lantai itu terletak tak jauh dari pasar, letaknya yang strategis dan parkiran yang luas. Saat aku masuk dan melihat pemandangan laut yang indah dari lantai 2 membuatku langsung memutuskan untuk mengambil tempat ini.


"Cantik sekali!" gumamku aku melihat laut yang sangat indah dihadapanku.


"Kau benar, cantik sekali!" desah Zidane.


Dia berdiri di sampingku, tapi aku tak begitu peduli dengannya saat ini. Karena perhatianku sudah tersita dengan keindahan lain.


"Kau juga pasti butuh rumah untuk tinggal!" kata Zidane.


"Tentu saja!" jawabku, aku masih tak mau berpaling dari pemandangan laut di depanku.


"Ayo kita harus cepat, aku harus bekerja di cafe!" Zidane menarik pergelangan tanganku, dan menuntunku sampai keluar dari dalam bagunan calon klinikku.

__ADS_1


"Aku tak ingin rumah yang jauh dari klinik, aku ingin berjalan kaki saat berangkat dan pulang kerja!" kataku.


"Ada rumah yang disewakan di dekat sini!" kata Zidane.


Memang tak jauh tapi jalannya yang memutar dan menanjak membuatku engos-engosan juga.


"Hanya rumah ini yang paling dekat!" kata Zidane.


Lelaki itu menunjuk sebuah rumah yang lumayan menurutku, tak begitu tua tapi juga tak begitu baru. Meski terlihat angker tapi aku yakin aku bisa menyulap rumah itu menjadi layak huni.


"Apa ini rumah angker?" tanyaku, karena semua yang ada di dalam rumah ini terasa suram.


"Penyewa sebelumnya adalah seorang biksu!" kata Zidane.


"Biksu, di tahun 2021?" tanyaku tak percaya.


"Memang kenapa?" tanyanya balik.


"Nggak papa sih!"


"Aku harus memanggil tukang dari kota untuk menyulap semua ini!" desahku.


"Aku bisa melakukannya?" kata Zidane.


"Nggak bisa sembarang orang, harus orang-orang yang berpengalaman!" jelasku.


Zidane kembali membuka salah satu reseting di tas ranselnya, dan aku sudah mulai takut dengan apa yang akan dia tunjukkan kini.


Dia mengeluarkan sebuah buku dan dia memberikan benda itu padaku.


"Wowwww!" kataku kaget. "Apa semua ini?" tanyaku.


Dia menyimpan semua lisensi yang dia punya, semua kertas berharga itu dia tata di sebuah holder book dengan sangat rapi.


"Tukang cat, tukang plafon, tukang batu, tukang kayu, gitaris, barista, pianis, scuba diving, Ketua pelelangan!" dan masih banyak yang belum kubaca, tapi dia keburu menyahut buku ajaib itu.


"Kamu yakin itu punyamu semua?" tanyaku tak percaya.


"Yakin!" jawabnya dengan wajah yang tegas.


Apa pria ini menghabiskan seluruh hidupnya untuk setiap lembar kertas itu, apa dia kolektor sertifikat lisensi. Memang ada kolektor semacam itu di dunia ini.


Aku hanya merasa benar-benar kaget, saat aku hanya punya lisensi Dokter Kandungan dia punya semua. Meski lisensi-lisensi itu tak sebanding dengan lisensiku, tapi jika digabungkan semua lisensi itu sangatlah luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2