
"Jalan pagi-pagi membuat hidupku lebih indah!" kata Ibu Winda.
Wanita paling nyinyir se--Ngobaran itu sedang berjalan santai mengitari Desa untuk olahraga.
"Ohhhhhhhh apa itu?" tanya Ibu Winda.
Dia langsung berjongkok dan menunduk. Rela dia memblusukkan wajahnya ke dalam tanaman pagar rumah Zidane. Hanya untuk bisa mengambil gambar Nesa dari belakang dengan sempurna.
"Jangan bilang itu Bu Dokter keluar dari rumah Mas Wakil?!
"Apa Bu Dokter menginap???" Ibu Winda, tampak ragu.
"Bukankah Bu Dokter suka sama Sutradara Felix, dia bahkan ke lokasi syuting setiap hari.
"Tapi saat Sutradara Felix tak ada, dia malah berduaan dengan Mas Wakil.
"Kenapa Bu Dokter murahan sekali?!
"Semua orang se--Ngobaran harus tau!" ujar Bu Winda.
Jurus pamungkas pun dia kerahkan, dengan kekuatan jari-jari dan imajinasinya dia menulis artikel di grup WA warga Ngobaran.
《Wanita yang menginap di rumah pria》
Beserta foto punggung Nesa yang keluar dari pekarangan rumah Zidane.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di rumah Zidane semalam suntuk!" cecar Gisna dengan nada tinggi, tanpa koma dan tanpa titik.
"Memang apa yang bisa kami lakukan, dia sakit jadi aku merawatnya!" jelasku.
"Lihat ini, anak gadis keluar dari rumah bujang. Mau ditaroh mana mukaku ini Nesa???
"Kau buat malu keluarga kita aja!" teriak Gisna.
Saat ini aku sedang duduk di sofa ruang tamu dan dia berdiri di balik meja dengan tangan berkecak pinggang.
"Maaf...Keluarga yang mana yaaaa?" tanyaku bingung.
"Tentu saja keluarga kita, kita berdua!" ujar Gisna.
Aku langsung berdiri dan menyentuh kedua pipi Gisna.
"Apa kau sudah mengatakan pada Irwan, bahwa kau akan menyerah?" tanyaku pada Gisna.
"Sudah!" jawabnya, wajah garangnya seketika mewek.
"Kau sudah gila?" aku pun ikut mewek.
"Kau juga gila, seberapa sukanya kau pada Mas Wakil sampai kau mau dinodai lebih dahulu?" tanya Gisna.
"Kau tau aku bisa memuntir kepalamu ini sampai copot!" ancamku.
Aku mundur lagi dan kembali duduk di sofa, Gisna tentu saja mengikuti polah tingkahku.
"Kau menginap di sanakan, semalam?" kini nada detektif mulai terdengar di kosa kata yang Gisna pakai.
"Iya!"
"Kau yakin kalian nggak ngapa-ngapain?" Gisna masih saja kepo.
"Nggak,"
"Kau bodoh, kenapa kau tak mumbuatnya bertekuk lutut di depanmu. Dan mengikat erat dirinya padamu?" tanya Gisna dengan nada yang lebay.
__ADS_1
"Caranya?" tanyaku, aku juga ingin Zidane hanya menyukaiku.
"Bercinta semalam suntuk!" kata Gisna.
Segera kulemparkan bantal sofa di dekatku ke wajah Gisna.
"Itu hal yang paling penting dalam hubungan wanita dan pria!
"Ujung-ujungnya pasti begitu!" ujar Gisna.
Tapi aku segera meninggalkannya untuk mandi.
.
.
.
.
Kerja bakti di hari minggu ini adalah menata ruang Balai Desa. Karena akan ada acara tahunan yang akan di gelar di sana, jadi semua warga membersihkan gedung besar itu.
Gisna sedang membersihkan lantai dengan sebuah sapu, tapi kesibukannya itu direcoki oleh Ibu Winda.
Si mulut monyong itu mendekati Gisna untuk mencari informasi, sekalian ngegibahin Nesa dan Zidane.
"Yaaaa ampun, nggak biasanya Mas Wakil nggak ikut kerja bakti!
"Biasanya dia yang paling rajin, sampe ngedorin rumah orang satu-satu!" ujar Ibu Winda dengan gayanya yang khas tukang rumpi.
"Zidane sakit, Win. Berhentilah ngoceh, dan buang sampah ini!" Ibu Tari melempar beberapa kardus bekas ke arah Ibu Winda.
"Sakit atau kecapekan?
"Mereka pasti melakukannya semalam suntuk dan tidak istirahat.
"Jadi tepar siangnya!" Bu Winda mulai menebar gosip lagi.
"Tapi aku punya bukti!" Ibu Winda masih saja berdalih.
"Apa Ibu Winda punya vidionya Nesa dan Mas Wakil sedang berhubungan badan?
"Nggak--kan?!
"Itu namanya pencemaran nama baik Bu!" Gisna semakin emosi.
"Semua orang...juga tauu...," Ibu Winda mulai mencari alasan.
"Tau apa?
"Nesa itu pendiam, dia orang yang tak suka keributan.
"Dia diam saja meski di bilang p.elacur, karena dia tak mau ada kegaduhan di Desa ini.
"Nesa hanya bilang jika didiamkan, semua akan berhenti membicarakannya.
"Tapi kelihatannya anda tak pernah puas menuduh Nesa!" Gisna benar-benar meledak hari ini.
"Itu...!" Bu Winda mulai bingung mau menjawab apa, kenyataannya dia memang salah selama ini.
"Bukan aku yang menuduh Dokter Nesa, semua orang yang berpikir begitu!" ternyata Ibu Winda masih punya senjata.
"Mereka berfikir begitu karena anda mengiring opini mereka!
"Apa sih untungnya bagi anda Bu Winda, menebar gosip murahan semacam itu?" tanya Gisna.
"Semua bisa dirundingkan Bu Winda, Mbak Gisna. Kita bicara baik-baik saja di tempat lain!" lerai Irwan.
Kelihatanya hanya Irwan yang berani maju, Bu Tari selaku istri Kepala Desa saja tak mau mendekat ke arah Gisna dan Ibu Winda.
"Irwan, aku tak salah kan?" Ibu Winda masih mencari pembelaan.
__ADS_1
"Ibu Winda salah, memang benar kata Mbak Gisna. Jika Bu Dokter menuntut, anda bisa...!"
"Kau membela dia, yang cuma pendatang???
"Tega kamu Irwan!" Ibu Winda merasa kecewa dan berlari pergi dari Balai Desa itu.
Gisna tampak masih kesal, dia pun segera pergi juga dan membersihkan bagian belakang gedung besar itu.
"Anda pasti kesal ya Mbak Gisna?" tanya Buk Tari.
Gisna tak menjawab pertanyaan Bu Kades itu, dia hanya tersenyum sambil menghela napasnya panjang-panjang.
"Winda memang kayak begitu orangnya. Padahal dia dulu tak seperti itu.
"Dia dulu orang yang baik, dan sangat ramah!" ujar Bu Tari.
Gisna yang diajak bicara Bu Kades pun akhirnya meninggalkan pekerjaanya.
"Dia menjadi menyebalkan dan suka bergosip setelah putrinya meninggal!" kata Ibu Tari.
Gisna tampak kaget dan tak habis pikir dengan keadaan Ibu Winda yang sebenarnya.
"Putrinya menderita kangker darah, selama hidupnya Winda hanya tau rumah sakit dan berkebun.
"Seperti itu dia dulu.
"Tapi setelah putrinya meninggal, selama setahun penuh dia hanya duduk di rumahnya dan hampir gila!" kata Bu Kades.
Ternyata rahasia Ibu Winda lebih menyedihkan darinya, Gisna jadi merasa tidak enak karena telah mengomeli Ibu Winda tadi.
"Karena itu, apa pun yang dia katakan dan sebarkan. Kami hanya diam saja.
"Kami tak ingin Winda jadi pemurung dan mengurung diri di rumahnya lagi.
"Aku minta maaf atas nama Winda, aku tau dia salah.
"Maafkan dia yaaa Mbak Gisna!" Bu Kades pun pergi setelah mengatakan rahasia menyakitkan Ibu Winda.
Gisna hanya bisa menghela napasnya lagi, dia tak tau harus bagaimana sekarang. Dia merasa bersalah, tapi dia juga tak mungkin minta maaf pada Ibu Winda.
Ibu Winda sudah keterlaluan dan semoga apa yang tadi dia sampaikan tak membuat Ibu Winda tersinggung.
Gisna merasa dia bicara sebuah kebenaran dan dia tak menyinggung Ibu Winda secara pribadi. Atau mengatainya, jadi Gisna memutuskan tak akan minta maaf pada Bu Winda.
Apa yang dia lakukan adalah hal yang benar menurutnya.
.
.
.
.
Kita tidak pernah tau apa isi hati orang lain, apa yang dia alami atau apa yang dia lakukan.
Baik atau buruk seseorang bukan kita yang harus mengecapnya.
Kita dilahirkan kedunia dalam keadaan yang sama, suci dan tanpa dosa.
Tapi dosa terukir tanpa kita sadari, menghiasi hidup kita. Kadang dosa itu menjadi petaka dan kadang dosa juga bisa menjadi keberuntungan.
Begitu juga amal yang terukir tanpa kita sadari, belum tentu hal baik itu membuat hidup kita nyaman.
Hidup di dunia memang bukan perkara yang mudah, jika kau merasa berat dan terbebani.
Coba ubah cara pandangmu, cobalah memahami sebuah masalah dari berbagai sisi. Maka di saat itu kau akan punya jalan keluar yang terbaik.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1