
Sayup-sayup udara hangat mulai menyergap, matahari mulai memperlihatkan kekuasaannya. Dan deru ombak sudah bercampur dengan suara mesin kapal-kapal para nelayan.
Felix dan Karis masih duduk terbengong-bengong dengan keindahan alam semesta di Desa pesisir ini. Pemandangan yang amat langka sudah tersuguh di depan mereka. Tanpa meminta bayaran Sang Maha Kuasa mempersembahkan pertunjukan paginya untuk dinikmati oleh setiap insan.
"Melihat keajaiban yang amat indah ini, membuatku lapar!" kata Felix.
Karis hanya tersenyum mengejek ke arah sutradara yang masih memandangi indahnya langit pesisir.
"Serah elu aja dehhhh penting elunya bahagia!" batin Karis si koki muda.
Dia tak akan berani bicara sesantai itu pada Felix, karena mereka belum lama kenal. Dan usia mereka juga terpaut cukup jauh--lah.
"Bagaimana kalau kita cari sarapan?" tanya Felix.
"Sarapan? Boleh!" ujar Karis.
Kedua lelaki itu pun segera bangkit dan menyusuri jalan menuju pasar.
"Kau tau ada makanan sejenis bubur tapi enak banget. Kau harus coba!" kata Felix.
Wajah manis tapi tegas milik sutradara itu tampak selalu sumringah jika membicarakan tentang makanan.
"Saya tau, meski abal-abal saya ini pemenang di lomba acara masak!" kata Karis, mulai agak songong.
"Kamu dibilangin! Kau pasti belum pernah coba.
"Mungkin kau pernah mencoba memasak atau memakan menu itu, tapi rasanya sangat berbeda di sini!" kata Felix dengan sombongnya.
"Dimana tempat penjualnya?" tanya Karis penasaran.
"Tidak dijual, kita makan itu lain kali saja. Bagaimana kalau kita sarapan di warung itu!" kata Felix.
"Boleh juga kelihatannya enak!" Karis mengangguk senang.
Akhirnya setelah tak bisa tidur semalam suntuk karena terlalu bersemangat, dan diterpa oleh angin pantai yang sangat sejuk. Dia bisa makan juga.
"Kau pesan saja, sekalian punyaku. Aku mau telfon seseorang dulu!" ujar Felix, dia tak jadi masuk ke warung sarapan itu.
Sutradara itu berdiri di luar dan sibuk dengan ponselnya, dia mencari nomor Zidane di dalam ponselnya. Setelah menemukannya Felix langsung menghubungi nomor tersebut, tak butuh waktu lama Felix berhasil mendengar sapaan suara Zidane dengan dialek jawa yang khas.
"Hallo!"
"Mas Wakil, kau di mana?" tanya Felix.
"Hehhhhhh!" jawab Zidane di balik panggilan ponsel Felix.
Felix bisa mendengar deru mesin kapal yang amat kencang dan suara gulungan ombak yang gemericik.
"Apa kau masih di tengah laut?!" kini Felix yang teriak-teriak tak jelas di depan warung sarapan itu.
"Aku, sedang di kapal nelayan! Kenapa!!!" teriak Zidane.
"Aku ke Desa ini lagi!!! Kapan kau pulang?!" tanya Felix masih dengan teriakan yang amat kencang.
"Satu atau dua jam lagi!!!"
__ADS_1
Pandangan mata Felix malah tersita oleh sosok wanita yang berlari pelan di seberang jalan.
"Nesa, dia Vanesa Intan--kan?!" tanya Felix pada dirinya sendiri.
"Oyyyyy Pak Food Vlogger! yaaaa!!!" seru Zidane. Tapi panggilan itu telah diputus oleh Felix.
Sutradara itu malah neninggalkan Karis di warung dan berlari mengikuti Nesa yang sedang joging.
"Nesssa! Vanesssaaa, oyyyyyy!" teriak Felix sembari mengejar Nesa.
Dokter cantik itu sama sekali tak mendengar teriakan Felix, karena kedua kupingnya sedang mendengarkan lagu-lagu yang dia sukai melalui earphone.
Sengkleknya Felix malah ikut berlari pelan mengikuti langkah lari Nesa, dia memandangi gadis itu dengan penuh penghayatan. Sambil lari tentu saja.
Angin pagi yang menerpa wajah merek berdua, semilir menyejukkkan. Detak jantung yang semakin cepat, serta perasaan yang kuat mengelitik renung hatinya. Sekali lagi Felix jatuh cinta pada orang yang sama, pria itu jatuh cinta lagi pada cinta pertamanya dengan cara yang hampir sama.
Mereka berlari cukup jauh hingga Nesa berhenti dan melepas earphonenya dia melihat ke arah laut yang amat sangat indah.
Wajah cantiknya teesenyum tanpa peduli bahwa ada mahluk lain yang sedari tadi memandanginya tanpa henti dengan perasaan berbunga-bunga.
"Vanesa Intan?" tanya Felix akhirnya.
"Kak Felix, Kak Felix Alessio!" kata Nesa
.
.
Aku tak menyangka akan bertemu dengan Kak Felix di sini, kabarnya dia menjadi sutradara yang hebat. Tapi semenjak lulus kuliah aku tak pernah sekalipun bertemu dengan senior yang paling kukagumi itu.
"Aku akan membuat acara baru, dan Desa ini sebagai seting utamanya!" jelas Kak Felix.
"Kakak benar-benar hebat!" pujiku, tentu saja aku harus memujinya karena Kak Felix memang sangat hebat dari dulu.
Paling tidak dia sangat hebat di mataku, dia senior paling luar biasa yang pernah kumiliki. Dia baik, perhatian dan sangat memyeyangiku. Aku merasa dia memyayangiku saat itu.
"Apa kau buka klinik di sini?" tanya Kak Felix.
"Iya, kok kakak tau?" aku kaget, apa dia mencari tau tentangku.
"Seminggu yang lalu aku datang ke sini dan melihat klinik bersalin Intan di ujung pasar.
"Klinik itu langsung mengingatkanku padamu!" kata Kak Felix.
Dia masih sama seperti dulu, penuh senyum dan perhatian serta kata-katanya yang selalu enak untuk didengar.
"Iya aku buka klinik di sini!" jawabku agak malu.
"Wahhhh itu benar-benar kamu Nes, kamu nggak berubah.
"Jiwa kemanusiaanmu masih sangat tinggi!" puji Kak Felix.
Dia selalu saja antusias dan ceria, dia tak pernah lelah dalam berekspresi dan aku suka Kak Felix yang seperti itu.
"Kakak bisa aja," aku agak tersipu dengan apa yang dibilang Kak Felix.
__ADS_1
Aku dulu seperti itu yaaa, iya kenapa aku ingin menjadi Dokter. Karena aku ingin menolong orang yang tak mampu. Tapi seiring berjalannya waktu, dan tau betapa pentingnya pengaruh uang di dunia ini.
Cita-citaku jadi berubah, menolong orang sambil mencari nafkah. Aku buka Nesa yang dulu, aku bukan orang yang mau menolong orang lain tanpa imbalan.
Itulah diriku yang sekarang. Diriku yang sudah kenal dengan Chanel, Dior, Hermes.
"Sutradara Felix!" teriak seseorang, orang dengan tubuh tinggi dan atletis itu berlari ke arah kami.
Kak Felix memukul keningnya sendiri saat menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Aku hanya tertawa melihat tingkah lucunya.
"Kenapa, kau tinggalkan aku sendirian!" laki-laki itu sudah berada di depanku, dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Maafkan aku Karis, aku benar-benar minta maaf!
"Aku menemui teman lama, kenalkan ini Nesa. Juniorku di kampus!" kata Felix.
"Salam ke kenal, aku sapi perah barunya Sutradara Felix. Karis Paseha!" kata pria yang wajahnya sedang gencar-gencarnya muncul di televisi itu.
"Akhhhhh anda yang menjadi pemenang, kontes masak di TV itu kan!" kataku.
"Benar Mbak!" pria itu amat sangat sopan.
"Nes, kami pamit dulu ya. Kami harus ke suatu tempat. Tapi bolehkah aku minta nomor ponselmu?!" tanya Kak Felix agak ragu.
"Tentu saja!" kataku.
Kak Felix memberikan ponselnya padaku dan kutulis nomor ponselku di sana.
"Aku akan segera menghubungimu, akan kutraktir kau makanan yang enak!" kata Kak Felix.
"Harusnya aku yang traktir kakak!" kataku.
"Benarkah, apa kau sudah kaya sekarang!" ledeknya dengan senyuman yang manis.
"Dulu waktu masih kuliah, kakak sering mentraktitku. Jadi sekarang giliranku!" paksaku.
"Baiklah, nanti kuhubungi ya!" dia pergi sambil berdada-dada.
Aku hanya memandang ke arah mereka dengan senyuman yang tak bisa kulukiskan. Aku sangat bahagia, karena pemandangan pagi ini, bertemu Kak Felix dan aktris yang lagi tenar di TV. Sungguh hari yang indah.
.
.
"Maaf Bu Gisna, saya tidak bisa mengantar anda sampai rumah, karena jalan ke sana sangat sempit!" kata Irwan masih dengan bahasa fotmalnya yang amat sangat kaku.
"Yaaaa, nggak papa! Segini saja aku udah bahagia kok!" kata Gisna dengan senyuman bahagia.
"Permisi Buk!" pamit Irwan.
Dengan senyuman yang mengembang Gisna melambaikan kedua tangannya, untuk mengiringi kepergian Irwan.
___________BERSAMBUNG__________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1