
Aku menyalakan TV diruang tamu rumahku, aku benar-benar merasa sangat bosan. Lagi-lagi Gisna ke kota untuk menemui pacarnya. Dia selalu meninggalkan ku sendiri di akhir pekan yang indah ini.
Apa hanya aku yang tak punya kegiatan apa pun di malam minggu, tapi hal semacam kesepian seperti ini sudah biasa kurasakan.
Orang yang punya penyakit jomblo akut pasti tak akan susah untuk duduk dan rebahan di rumah sepanjang akhir pekan. Dan untungnya aku adalah pengidap penyakit itu.
Aku bisa bertahan hidup karena penyakit itu, membayangkan punya pacar. Bagaiamana cara pacaran, saja aku tak tau. Apa aku akan menghabiskan sisa hidupku ini dengan melajang. Aku sama sekali tak keberatan, tapi ayahku pasti tak suka jika aku melajang seumur hidupku.
Menikah, apa aku bisa menghadapi kehidupan pernikahan???
Apa aku bisa tidur dengan orang asing di sampingku???
Memasak makanan enak untuk orang asing itu.
Mengkontrol emosiku untuk orang asing itu.
Terus tersenyum pada orang yang baru datang ke kehidupanku itu...
Semua hal itu tampak memgerikan bagiku.
Wanita sepertiku tak akan melakukan itu saat sadar.
Tapi aku mencium Zidane!!!
Aistttttttt
Itu hanya kesalahan saat mabuk, aku juga pernah mencium Gisna saat kami mabuk bersama.
Ciumaanku dengan Zidane, itu tak ada artinya...
Sama sekali tak ada artinya.
Tapi bibirnya yang hangat itu masih bisa kurasakan, gerakan bibirnya yang mengikuti gerakan kecupan bibirku kala itu. Membuatku merinding.
Glekkkkkkkkkkkkkk
"Akaaaaaaaa, apa ini?!
"Aistttttttsss kenapa mati lampu terus!" pekikku kaget.
Kenapa lampu mati saat aku sedang melamunkan hal yang e.r.o.t.i.s. Kelihatannya aliran listrik di daerah ini bisa membaca pikiran orang yang sedang s.a.n.g.e.
Karena seluruh area rumahku gelap gulita tanpa sinar apa pun yang menerangi. Aku mencoba mengingat dimana kuletakkan ponselku.
Aku meletakkan ponselku di kamar untuk mengisi dayanya.
Dengan tangan yang meraba seluruh ruangan aku berjalan menyusuri ruang tamu dan mencari letak kamarku yang sudah kuhafal.
Akhirnya aku mendapatkannya, kunyalakan senter di ponselku. Dan aku dapat melihat lagi, karena bantuan cahaya yang cukup terang itu.
Segera kulangkahkan kakiku ke arah dapur, aku harus mencari lilin. Karena di daerah terpencil ini sangat sering mati lampu dadakan, jadi aku sengaja menyetok lilin sebanyak mungkin di dapur.
Aku membuka lemari di atas kompor dan kuarahkan cahaya senterku ke ruang sempit itu.
"Habis, heistttttt!" aku sangat kesal, bagaimana bisa habis di saat seperti ini.
Aku melihat ke luar jendela dapurku, karena tirainya belum kuturunkan.
"Kenapa diluar lampu pada menyala???
__ADS_1
"Apa aliran listrik di ruamhku saja yang padam?!
"Ini tidak adil!" aku semakin kesal.
Aku harus keluar dan memastikan diskriminasi sosial ini. Apa benar hanya rumahku yang aliran listriknya padam.
Setelah diluar aku memastikan hal itu, benar saja hanya rumahku satu-satunya yang terlihat amat suram dan tak bercahaya.
"Hallo, Buk Tari!" aku mengubungi pemilik bangunan rumahku.
Siapa lagi yang bisa membantuku di siatuasi ini. Zidane????
Ingat aku sudah bersumpah untuk menghindarinya seumur hidupku. Jadi jangan kalian sebut nama itu lagi, apa lagi di depanku. Ingat!!!.
"Iya Bu Dokter!" suara indah keibuan itu akhirnya menjawab sapaaanku.
"Bu Tari, listrik di rumahku padam. Tapi di tempat lain tidak. Tolong...!"
"Akan kuhubungi Mas Wakil untuk membantu anda Bu Dokter, dia akan segera ke sana!" kata Bu Tari.
"Apakah.....?"
Tut...Tutttt...Tut....Tuttttttttt
Panggilanku sudah diputus oleh Ibu Tari tanpa persetujuanku.
"Apakah tak ada manusia lain selain Zidane di desa ini???" teriakku frustasi.
.
.
"Tak ada yang salah dengan instalasi listriknya," kata Zidane.
"Aku akan periksa sambungan yang di luar!" kata Zidane.
"Bukankah lebih baik kita menelfon pegawai PLN saja?" tanyaku.
Aku sama sekali tak bisa tenang, dan merasa cangung jika di dekat Zidane. Bayangan ciuman yang kami lakukan saat kita mabuk masih terlukis nyata di ingatanku.
Bagaimana aku bisa tenang, itu ciuman pertamaku. Dan rasa ciuman itu membuatku malu pada Zidane. Bagaimana jika pria di depanku ini menganggap aku menyukainya.
Bisa-bisa dia GR, besar kepala dia. Aku bahkan tak suka berteman dengan pria menyebalkan sepertinya, bagaimana aku bisa suka secara pribadi dengan pria aneh ini.
"Kalau hanya masalah kecil, aku bisa mengatasinya," ujar Zidane .
Dia segera keluar dengan membawa senter besar miliknya dan tas ranselnya. Aku masih duduk diam di sofa ruang tamuku.
Otakku masih memikirkan tentang ciuman itu. Tapi Zidane terlihat tak peduli dengan ciuman itu.
Apa hanya aku yang terlalu takut???
Atau Zidane tidak ingat, tapi dia-kan tidak mabuk malam itu...
Lalu, apa yang Zidane rasakan.
Kontak fisik sedalam itu tak mengusik Zidane, dia-kan pria bebas yang hidup sesuka hatinya.
Apa jangan-jangan misteri tentang dia hilang selama dua tahun itu.
__ADS_1
Dia jadi g.i.g.o.l.o???
Apa yang kupikirkan???
Aku pasti sudah gila.
Aku harus keluar, siapa tau Zidane butuh bantuan dariku. Bagaimana pun aku memang butuh pria itu, aku wanita lajang yang tak tau apa-apa soal mengurus rumah. Jadi menghindari Zidane sang SUPERMEN desa Ngobaran adalah jalan pintas menuju kematian.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku pada Zidane yang sudah nagkring bergelayut mesra di atas tiang listrik di samping rumahku.
"Ahhhhhh...Aku menyambung kabel, ternyata sambungan kabel di sini putus!" kata Zidane dengan nada sedikit berteriak.
"Kau gila yaaa, itu bahaya!!!
"Gimana kalau kamu kesetrum ampe gosong?"teriakku ketakutan.
"Kau ini, udah kutolong. Malah nyumpahin," ujar Zidane.
"Tetap saja...Turun sekarang, itu bahaya Zidane!" aku benar-benar sangat khawatir pada pria aneh itu.
"Cerewet banget sih kamu!" kata Zidane dengan tersenyum manis.
Bagaimana bisa pria itu tersenyum semanis itu saat jantungku sudah turun ke perut. Aku takut sekali, aku benar-benar takut.
Nafasku seperti mau putus dan jantungku tak bisa berhenti berpacu. Apa yang sedang terjadi pada tubuhku, kenapa reaksiku sangat tak biasa.
"Kau kenapa?" tanya Zidane.
Pria itu langsung mendekatiku yang sudah lemas dan bersandar di salah satu pilar teras.
"Kau tak papa? Apa kau sakit!" tanya Zidane.
Pria itu menyentuh bahuku, dan tanpa aba-aba atau perintah komando. Tubuhku langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Aku takut sekali!" ucap bibirku.
"Takut apa?" tanya Zidane. Dia tak berusaha melepas pelukanku padanya.
"Aku takut kau mati!" ujarku. Kenapa aku bisa takut kalau dia mati???
Bukankah beberapa hari yang lalu aku menginginkan kematiannya.
"Aku tak akan mati secepat itu!" katanya.
"Kalian sedang apa?" tanya sebuah suara yang femilier tapi bukan suaraku atau suara Zidane.
Aku segera menarik wajahku yang tadi tengelam di dada Zidane. Aku langsung mendorong tubuh Zidane, hingga pria itu hampir terjugkal.
"Tadi aku melihat bayangan hitam di pojokan pagar, karena takut. Jadi aku refleks memeluluk tubuh Zidane yang ada di dekatku!" kenapa aku membuat alasan.
Yang lebih penting, bukan alasan yang kubuat untuk menipu Ibu Tari yang baru saja sampai. Tapi alasan aku memeluk Zidane, apa alasanku memeluk pria itu. Heistttttt.
"Belom selesai, Dan?" tanya Ibu Tari pada Zidane.
"Kayaknya hanya kabel sambungannya saja yang terputus.
"Akan kunyalakan Instalasinya di dalam!" kata Zidane.
Pria itu segera masuk ke dalam rumah, dan tak lama. Rumahku kembali terang benderang.
__ADS_1
__________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤