
"Gimana kalau nanti kamu kerepotan, karena cintaku padamu?" tanyaku pada Zidane.
"Aku akan menahannya, dan tak akan mengeluh!" jawab Zidane.
Jawabannya sederhana tapi itu membuatku tenang. Aku tau, aku sudah keterlaluan beberapa hari ini. Aku pantas tak dimaafkan, tapi malah Zidane tak marah padaku.
Padahal aku sudah siap dia marahi.
Dia bahkan masih mau menerima pelukan dan ajakanku untuk jalan-jalan ke pantai. Padahal aku yakin dia lelah, pekerjaannya banyak dan berfariasi. Tapi dia masih mau kurepotkan begini.
"Benarkah?" aku tak bisa tak tersenyum bahagia saat mendengar jawabannya itu.
"Meski kau memukuliku, membuatku berdarah-darah. Aku tak akan mengeluh!" sindirnya.
"Aku kan nggak sengaja!" jawabku.
Aku melangkah lebih cepat dan berdiri di depannya, dan kami menghentikan langkah santai kami.
"Zidane sayang, maafkan Nesa yaaa!" kataku dengan nada manja.
Matanya masih menatapku dan bibirnya tersenyum manis ke arahku.
"Kau tau lama-lama aku bisa diabetes karena kemanisanmu!" kata Zidane.
Dia mencubit hidungku dan kami tertawa bersama.
"Kenapa kau tak membalas pesanku?" tanyaku, dengan nada marah.
"Pesan?" tanya Zidane.
Dia bingung dan meraba semua kantong di pakaiannya, dia pasti mencari ponselnya.
"Kenapa?" tanyaku ikut bingung.
"Kemana ya ponselku?!" Zidane masih sibuk mencari ponselnya.
Telingaku tiba-tiba mendengar suara riuh dari gang di depan kami.
Seketika beberapa orang warga Desa keluar dari pintu gang itu. Aku tak sempat melihat siapa mereka, tapi aku segera memelintir tangan Zidane. Hingga pacarku itu terduduk di depanku.
Mereka tak boleh tau kalau kami sedang berkencan.
"Akkkkkkkkkk, Nesaaaaa...!" teriak Zidane.
"Bu Dokter, Mas Wakil!!!" Semua orang berteriak.
Tanganku sudah ditarik oleh Bu Tari dan Bu Winda.
"Kalian sebaiknya jangan bertemu dulu, kelihatannya kalian sedang ada masalah!" ujar Bu Tari.
Sementara Zidane di tarik oleh beberapa pria yang kukenal.
"Kami hanyaaa," aku ingin mencari alasan.
"Aku sudah dengar jika kalian bertengkar, dan kau melukai Mas Wakil secara brutal beberapa hari ini!" ujar Bu Winda.
"Itu!"
"Sudah, kalian jangan ketemu dulu kalau lagi bertengkar!" kata Ibu Tari.
Kedua wanita itu menarikku dan mengantarku sampai ke rumah. Padahal aku masih ingin berduaan dengan Zidane, tega sekali mereka.
Ponsel Zidane hilang, dan aku diseret begini. Padahal aku ingin bertemu dengan pria yang kucintai. Kenapa susah sekali???
.
.
__ADS_1
Paginya aku berangkat ke klinik lebih pagi, aku akan mampir ke Cafe Davey dan aku bisa melihat Zidane di sana sepuasnya.
"Bu Dokter mau pesan apa?" tanya Mas Fahmi.
Pemilik cafe yang tak bisa bangun pagi itu sudah menguasai ruang baristanya Zidane.
"Mau pesan kopi!" kataku lemas.
"Siapa yang datang?" tanya seseorang dari arah dapur.
Aku yakin itu suara Zidane, dan saat pintu dapur di belakang ruang barista dibuka. Aku bisa melihat wajahnya, tapi sosok yang kucintai itu segera di dorong ke dalam lagi oleh Mas Fahmi.
"Tetap di dalam, aku tak akan membiarkan kalian gelut lagi!" ujar Mas Fahmi.
Pemilik cafe itu malah mengunci Zidane di dalam dapurnya.
Ingin rasanya aku mengumpat dan memukul Mas Fahmi tapi kutahan. Karena dayaku masih tak mampu untuk mengatakan bahwa kami sedang pacaran.
.
.
Pesanan makan siang juga diantar sendiri oleh Pia Palen.
"Apa Mas Wakil nggak kerja?" tanyaku.
"Kerja!" jawab Pia Palen.
"Lalu kenapa nggak dia yang ngantar?" tanyaku.
"Nanti Bu Dokter nendang dia lagi?!
"Panas banget ngantar ke sini, mana pesennya cuma dua bungkus doang!" kata Pia Palen kesal sambil meninggalkan klinikku.
Semua pesan makan siang ditempat lain, dan aku harus menghabiskan rica-rica cumi super pedas itu. Padahal aku tak suka makanan pedas, tapi agar ketemu Zidane aku pesan makan siang di sana.
Saat aku mau kerumahnya juga, di jalan aku dihadang oleh para peronda yang tiba-tiba aktif kembali.
Apa yang harus ku lakukan???.
.
.
Hari ini aku harus bertemu Zidane, aku sudah tak kuat lagi. Sehinga aku meminta Gisna untuk melacak keberadaan Zidane dari grup konyolnya. Akhirnya grup gibah itu ada gunanya juga.
"Mas Wakil kerja di Toko Bu Nia!" kata Gisna setelah memyelidiki lewat grup aneh itu.
Tanpa banyak cing-cong aku segera berlari ke Toko yang lumayang jauh dari klinikku itu. Nafasku masih tersengal saat aku sampai di sana.
Akhirnya aku bisa melihat wajahnya, dia duduk di balik meja kasir seperti biasa.
"Mau cari apa Bu Dokter?" tanya Ibu Nia yang entah dari mana datangnya, sudah berdiri di tengah pintu warungnya.
"Mau beli Bu!" ujarku.
"Anda nggak boleh masuk!" kata Bu Nia.
"Kenapa?" tanyaku sedih.
"Bu Dokter sedang dilarang mendekati Mas Wakil!" ujar Bu Nia dengan nada tegas.
Aku langsung lemas tak berdaya.
"Bu Dokter mau beli apa?!" tanya Ibu Nia.
Wanita itu sama sekali tak bergeser dari depan pintu tokonya.
__ADS_1
"Cemilan!" kataku.
"Sebutkan saja cemilan apa, biar Mas Wakil yang ambilkan!" kata Bu Nia.
Mau tak mau aku menyebut sembarang snake gurih yang tak pernah kumakan sebelumnya.
"Totalnya berapa ini Mas Wakli?" tanya Ibu Nia.
"54 ribu!
"Apa ini nggak keterlaluan, Nesa adalah pembeli?" tanya Zidane pada Bu Nia.
Aku berharap wanita yang mungkin seumuran denganku itu mau pergi dari sana sebentar saja.
"Nesa???
"Sejak kapan, kau memanggil Bu Dokter dengan santai seperti itu?
"Jangan-jangan kalian!!!" Bu Nia malah mulai curiga.
"Sebaiknya aku segera pergi!" kataku.
Kukode Zidane untuk tutup mulutnya, dan pacarku yang pintar itu mengangguk pelan.
Rasanya seperti dipingit, padahal kami belom mau menikah. Ini penyiksaan, aku rindu pacarku tapi semua orang di Desa ini melarangku bertemu dengan kekasih pujaan hatiku itu.
Tapi mau gimana lagi, aku belum bisa mengakui setatus baru kami. Aku takut jika semua orang tau kami pacaran, pasti banyak yang mengira kalau kami akan segera menikah.
Padahal aku belum siap menikah, aku masih ingin menata hidupku dulu. Bukan aku tak ingin serius dengan Zidane, tapi aku harus berpikir masa depanku.
Sejak kecil aku tak pernah bergantung pada siapa pun, jadi aku terbiasa merencanakan hidupku sendiri. Meski kini ada Zidane di hatiku tapi tampaknya aku masih punya keinginan untuk kembali ke Jakarta.
Aku masih punya ambisi itu, menjadi Dokter Kandungan yang sukses di Ibu Kota. Tapi apa Zidane mau pergi ke Jakarta lagi atau tidak aku juga tak tau.
Semoga saja dia mau kembali ke Jakarta nantinya. Aku ingin hidup bahagia bersamanya selamanya.
Aku yakin dia pasti mau ikut denganku ke Jakarta nantinya.
.
.
Rasanya seperti ada ronga yang mengganga di dalam dadaku. Sudah berhari-hari aku tak bisa melihat dan menghubungi Zidane.
Aku hanya melamun tak jelas sambil melihat laut dari jendela kaca kantorku. Menunggu, yaaaa karena meski aku berusaha kesana kemari mencari Zidane. Selalu saja ada yang menghalangi kami, ini melelahkan dan sangat membosankan.
Ponsel di depanku bergetar, sebuah nomor tak dikenal masuk.
"Nomor siapa ini?" tanyaku ragu.
Aku tak pernah mengangkat telepon dengan nomor baru, tapi aku berharap ini Zidane. Jadi aku mengangkatnya.
"Nesa!" panggilnya.
Senyumku langsung merekah, apa yang kuharapkan ternyata terjadi.
"Iyaaa, kau dimana?" tanyaku dengan nada manja.
"Aku di pelelangan, jangan ke sini. Semua orang mengawasi kita!" kata Zidane.
"Aku rindu banget-banget-banget sama kamu!" ujarku.
"Aku juga!" katanya.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1