
"Dokter Kenma, apa yang kau lakukan!" bentakku.
"Ternyata kau di sini, hidup bahagia tanpa beban?" Dokter Kenma mengatakan itu ke arah Zidane yang masih diam di atas tanah.
Apa yang terjadi, kenapa aku tak bisa memikirkan apa pun di otakku.
"Ken, ada apa Ken!" Kak Felix langsung melerai mereka.
"Dia Zidane, Zidane Sebastian yang udah ngebunuh ayahku dan kakak iparmu!" ujar Dokter Kenma.
Kak Felix tampak memandang ke arah Zidane yang masih tersungkur ke tanah dengan tatapan benci dan tak percaya.
Semua orang di sana memandang ke arah Zidane dengan tatapan aneh. Kenapa semua orang langsung percaya apa kata Dokter Kenma yang baru saja sampai ke tempat ini.
Aku juga tak tau harus berkata atau melakukan apa. Aku hanya bisa diam tak bergerak, aku kaget dan bingung.
Zidane berdiri tanpa dibantu siapa pun, tanpa berkata apa pun pacarku itu pergi meninggalkan area balai desa.
"Itu ketrampilanmu, pergi setelah membuat kekacauan!" Dokter Kenma masih saja emosi. Meski sudah di hadang oleh beberapa staf Kak Felix.
Aku hanya bisa berjalan mengikuti Zidane, bagaimana pun aku harus menghiburnya, terlepas apa yang terjadi.
"Jangan ikuti aku!" katanya.
Meski aku tak melihat wajahnya, aku bisa melihat dari cara jalannya. Dia sedang lemah dan tak bertenaga.
"Ini pasti hanya salah faham, aku akan menemanimu!" kataku.
"Tidak perlu!" katanya.
Dia berbalik, matanya berkaca-kaca dan air mata itu menetes dari kelopak matanya. Ini pertama kalinya aku melihat Zidane menangis.
"Semua benar! Aku memang membunuh keluarga Kazume Kenma!" ujar Zidane.
Dia melepas cincin yang baru saja kuberikan. Dia meraih tangan kananku dan meletakkanya di telapak tanganku tanpa berkata apa pun lagi.
Apa ini perpisahan kami?
Aku tak habis pikir, apa ini sebuah kenyataan yang sebenarnya?
Kenapa, ada apa???
Zidane, kenapa kau bisa bilang begitu???
Kenapa pacarku itu mengakui tuduhan itu, dan tak mau menjelaskan apa pun padaku. Apa baginya aku juga tak boleh tau, rahasia apa yang dia pendam didalam hati terdalamnya.
Aku tak mungkin kembali ke pesta sukuran itu, dan aku tak bisa berada di dekat Zidane. Karena aku tak tau harus menempatkan diriku sebagai apa di dekat kekasihku itu.
Aku pasti menuntut penjelasan dari Zidane, jika aku mengitutinya sekarang Tapi dia pasti tak mau menjelaskannya untuk sekarang. Aku hanya bisa, sabar dan menunggu sampai Zidane mau bicara hal itu, sendiri tanpa pakasaan dariku.
Sebagai seorang pacar, aku harus memberikannya waktu untuk berpikir. Tapi aku juga harus tetap di sisinya meski jauh, aku harus bertahan dan sabar menghadapi masalah ini sendiri dulu.
Jika memang Zidane menganggapku penting, dia akan mengatakan semua padaku. Aku hanya harus bersabar dan yakin, jika Zidane adalah milikku dan selamanya akan berada di pelukannku.
__ADS_1
Aku tak menyangka jika ada kenyataan seburuk ini. Kenapa harus Zidnae dan Dokter Kenma. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
.
.
.
.
Zidane membuka pintu rumahnya, langkahnya lemas dan sempoyongan. Wajahnya yang tampan itu terlihat sayu tanpa cahaya. Pandangan matanya begitu kosong dan hampa.
Dia siap dengan semua hal, tapi cowok tampan itu sama sekali tak siap dengan pandangan menusuk dari warga Desa Ngobaran.
Zidane tak bermaksut menyembunyikan kenyataan tentang dirinya, tapi dia juga tak bisa cerita. Karena hal itu sudah membuatnya tersiksa selama ini.
Zidane selalu bermimpi aneh, tentang orang-orang di keluarga Kasume Kenma. Semua itu benar Zidane memang merasa telah membunuh orang-orang disebutkan oleh Dokter Kenma di pesta sukuran tadi.
Zidane mengambil sebotol obat di dalam laci meja di ruang penyimpanan herbal-herbalnya. Botol-botol yang sudah hampir sebulan ini tak pernah ia sentuh.
Zidane mengambil cukup banyak dan menelan butiran putih keras itu. Dia melarutkan bahan kimia itu dengan air keran di dapurnya.
Di atas wastafel dia meletakkan kepalanya di atas punggung tangannya, yang mencengkeram pinggiran badan corcoran setinggi pinggangnya itu. Dia membungkuk lemah, dan suara isakan perlahan berbunyi.
"Maafkan aku!" katanya di sela-sela rintihan isak tangisnya yang tertahan.
Entah dia tujukan pada siapa kata permintaan maaf itu, tapi permintaan maaf itu seperti sebuah suara patah hati yang parah.
Perlahan-lahan tubuh membungkuk Zidane jatuh ke lantai dapurnya. Dia duduk ber sandar di pojokan almari dapurnya yang berjajar di atas lantai.
.
.
.
.
Hari pertama setelah Zidane diserang Dokter Kenma.
"Kenapa dia nggak mau mengangkat telfon dariku, coba kamu yang telfon Mas Wakil. Fahmi!" ujar Pia Palen ke arah layar datar ponselnya.
Wajah menor itu tampak khawatir, dia khawatir bukan pada keadaan Zidnae. Tapi gadis tua itu khawatir karena restorannya sedang penuh sesak dengan pelanggan. Sementara Zidane tak mau ngangkat panggilan ponselnya.
"Dia juga nggak mau mengangkat panggilanku!" ujar Fahmi, yang kondisinya tak jauh berbeda dengan Pia Palen.
Dia juga tampak kualahan dengan Cafe Davey yang makin banyak orang datang juga.
"Dia benar-benar membuatku kesal. Bagaimana ini restoranku ramai sekali!
"Agussss, oyyy Agusss!
"Nanti cuci piringnya, layani dulu pelanggan yang baru datang itu dulu!" teriak Pia Palen dengan nada fustasi.
__ADS_1
Bagaimana Zidane malah berdiam diri di rumahnya setelah membuat Ngobaran menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.
Di pantai kacau, karena kekurangan lahan parkir. Dia pasar kacau karena pelelangan yang kisruh soal pemenang. Bahkan di klinik Nesa tampaknya sedang di serang badai besar.
Seorang bapak-bapak ngamuk karena istrinya tak cepat ditangani. Padahal saat itu Nesa sedang menjalani oprasi bedah sesar untuk pasien lain.
"Dimana Dokter kalian?!
"Kenapa istriku tak dirawat oleh Dokternya, tapi malah di rawat sama perawat abal-abal seperti kalian!!!" pria besar tinggi dengan wajah bengis itu tampak mengamuk di ruang pasien lantai dua klinik Nesa.
"Pakkk, istri anda bahkan belum ada pembukaan!
"Saya Bidan di sini! Saya bisa menangani istri Bapak, karena Dokter sedang mejalani oprasi Pak!" kata Gisna dia mencoba menenangkan si bapak-bapak yang marah.
"Gimana jika istri saya mati?" tanya bapak-bapak itu.
Padahal istrinya hanya kesakitan karena kontraksi palsu.
"Saya akan tanggung jawab!" kata Gisna tegas.
"Apa kamu bisa mnghidupkan orang yang sudah mati?" tanya bapak itu dengan nada yang kesal dan marah.
"Bapak, jika bapak terus marah seperti ini. Kami akan lapor polisi!" ujar Gisna yang matanya sudah mulai berair.
Bidan itu memang tak pernah dibentak oleh siapa pun. Keluarganya terkenal lemah lembut, orang sunda yang penuh dengan tata krama.
Bapak itu malah mengacungkan tangannya ke arah Gisna, pria besar itu ingin memukul bidan itu. Tapi tangan kekar itu sudah ditahan oleh Nesa yang masih mengenakan pakaian oprasinya.
"Cepat hubungi kantor polisi tunggu apa lagi!" perintah Nesa pada staf perawatnya.
"Baik Dokter!" kata salah satu dari perawat Nesa.
"Kamu Dokter disini?!" tanya pria besar itu pada Nesa.
Masih dengan nada kasar yang menghakimi.
"Iya! Istri anda sudah diperiksa oleh Bidan saya!
"Dan istri anda hanya mengalami kontraksi palsu!
"Jadi saya tak perlu memeriksa ulang istri anda!" kata Nesa.
"Bagaimana jika istri saya ternyata mau melahirkan!!!" teriak pria itu.
"Ibu Gisna adalah Bidan yang berpengalaman, sudah ribuan wanita hamil yang dia tolong selama menjadi Bidan.
"Dia juga pernah menjadi Bidan di rumah sakit elite di Jakarta.
"Siapa anda berani membentak para medis, memangnya anda bisa menolong istri anda melahirkan sendiri?
"Anda bahkan bukan pasien tetap di kliniku, kenapa membuat ribut di sini!" Nesa membentak bapak-bapak itu tanpa kendali lagi.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤