
Musim yang indah sedang terjadi dihidupku, setiap bunga bermekaran. Kebahagiaan yang kupikir tak akan pernah berakhir, keindahan yang serasa tak ingin kuhabiskan.
Apa jatuh cinta selalu seindah ini, atau hanya saat kau jatuh cinta pada orang yang tepat saja.
Hatiku seperti radar yang amat akurat, sekali menangkap sinyal aku langsung menemukan seseorang yang tepat. Itu yang kurasakan saat ini.
Bagiku Zidane adalah orang yang tepat, aku yakin dan aku berharap dia adalah jodohku.
Kuharap dia adalah takdir yang indah dan kebahagiaan yang pantas kudapatkan. Semoga dia adalah pria yang akan selalu mencurahkan cintanya padaku, semoga Zidane selalu ada di dekatku selalu. Membuatku bahagia, tenang, terlindungi dan penuh dengan harapan yang indah.
Pagi ini aku berjalan untuk pergi ke klinik seperti biasa. Pandanganku segera terpaku pada sosok yang berjalan ke arahku.
Kak Felix berjalan bersama Timnya menuju rumah Mbah Miyah pastinya.
"Nesa, mau berangkat kerja?" tanya Kak Felix.
"Iya, Kak Felix mau syuting lagi?" tanyaku.
Canggung, sangat canggung, aku tak seperti biasanya. Setelah menolaknya mana bisa aku menyapanya dengan santai dan tenang.
"Iya, kami syuting lagi di sini!" ujar Kak Felix.
"Semoga semua berjalan lancar, seperti yang sudah-sudah.
"Saya duluan yaaaa Kak!" pamitku.
"Ya!" kata Kak Felix.
Aku bisa melihat kecanggungan di mata lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri itu. Tapi bagaimana lagi, aku mencintai orang lain. Aku hanya berharap semoga Kak Felix juga mendapatkan kebahagiaannya.
.
.
.
.
"Jadi kau ditolak?" tanya Alexza.
"Begitulah!" ujar Felix.
"Alasannya?" Alexza masih bingung dengan apa yang terjadi.
Penulis itu merasa Nesa suka pada Felix.
"Nesa pacaran dengan orang itu!" Felix menunjuk Zidane yang baru saja sampai di rumah Mbah Miyah.
Sementara Felix dan timnya sudah tiba di rumah itu lebih awal.
"Dokter itu punya selera yang bagus sih!" ujar Alexza.
"Apa kau juga berpikir, Mas Wakil lebih baik dari pada aku?" Felix segera berkata nyolot ke Alexza yang sedang meledeknya.
"Cinta itu masalah hati, nggak ada yang lebih baik atau buruk.
"Tapi jika Dokter itu memilih Mas Wakil, dia pasti wanita yang baik!" kata Alexza.
"Jangan membuatku tambah down dong Lex!" ujar Felix.
"Pria tanpa ambisi, meski dia mampu.
__ADS_1
"Kau tau? Susah menyukai seorang pria seperti Mas Wakli bagi wanita moderen yang besar di Kota besar seperti Dokter Nesa!
"Dokter itu pasti mempunyai hati yang sangat tulus!" kata Alexza.
"Begitu--kah, apa aku juga harus hidup santai tanpa beban?" tanya Felix.
"Kau selalu melakukannya!
"Apa kau tak sadar?!" Alexza mulai membentak Felix lagi.
"Kau benar, aku bahkan tak berpikir apa pun saat ini!" kata Felix.
"Kau masih memikirkan Dokter itu. Kau masih tak n.afsu makan!" kata Alexza.
Felix tak bisa menjawab, dia memang kehilangan na.fsu makannya setelah ditolak oleh Nesa.
Dia juga baru saja keluar dari rumah sakit karena kena tipes. Rasanya Felix sangat malu, dia adalah manusia pemakan segala-galanya tapi masuk rumah sakit karena tipes. Menyedihkan bukan.
.
.
.
.
Zidane berjalan santai menuju rumah Nesa, dia akan mampir dulu ke rumah pacarnya itu.
Karena hari ini hanya mempersiapkan syuting, jadi Zidane pulang agak awal. Meski hari sudah petang Zidane mau mapir ke rumah Nesa, seharian ini dia tak melihat wajah pujaan hatinya itu. Jadi dia sangat rindu dengan Dokter Nesa yang manis.
Ketukan pintunya segera disambut oleh Nesa, dengan membuka pintu rumahnya.
"Bagaimana proses persiapan syutingnya? Apa berjalan dengan baik?" tanyanya.
"Apa Kak Felix lagi sakit yaaa?" tanya Nesa.
Gadis itu tampak sangat khawatir pada sutradara itu.
"Kayaknya enggak, dia ceria sepanjang hari! Apa kau bertemu dengannya?" ujar Zidane.
"Tadi pagi, pas aku mau berangkat ke klinik kami berpapasan dan saling sapa!" kata Nesa.
Belum juga Zidane duduk di ruang tamu rumah Nesa, pacarnya itu malah membahas pria lain. Dan pria yang dibahas oleh Dokter itu adalah Felix rival Zidane.
"Kak Felix tampak kurus, kayak dia lagi sakit dan tak n.afsu makan!
"Kenapa dia begitu, Kak Felix itu sangat suka makan. Meski apa pun yang terjadi di tak pernah lupa makan.
"Apa kau bisa menyuruhnya makan teratur?!" tanya Nesa.
Zidane yang dari tadi diam mendengar perkataan Nesa, pria itu mencoba tak salah faham dengan perkataan pacarnya itu.
"Ohhhh!" jawab Zidane berat.
"Oooo iya, kata Pia Palen kalian akan mengadakan sukuran buat kesuksesan syuting yang kemarin di restoran Pia palen yaaa?" tanya Nesa.
"Iya!" jawab Zidane singkat.
Pria itu akhirnya duduk di ruang tamu rumah Nesa, tapi meski pun duduk di sebelah pacarnya. Nesa masih saja membahas Felix.
"Kak Felix suka paha ayam, nanti kalau pas pembagian ayam ingkung.
__ADS_1
"Kasih dia bagian pahanya yaaa!" kata Nesa.
Gadis itu tampak sangat peduli pada Felix.
"Kenapa kau tak beli paha ayam dan memberikannya pada Felix?" tanya Zidane.
"Boleh??? Kamu enggak papa jika aku beli makanan untuk Kak Felix?" tanya Nesa dengan tanpa rasa bersalah.
Padahal Zidane sudah mengeluarkan nada tak enaknya. Lelaki itu pasti sedang cemburu.
"Enggak papa, sekalian kau suapi dia. Agar kau tak khawatir padanya lagi!" kata Zidane.
Lelaki tampan itu berdiri dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"Zidane apa kau marah, aku kan hanya...," belum sempat Nesa mengatakan semuanya, Zidane sudah memotongnya.
"Hanya apa? Jangan pernah menyuruhku merawat pria lain. Mengerti?!" bentak Zidane.
Pria itu langsung keluar dari rumah Nesa. Sementara Nesa yang tak tau harus bagaimana pun tak bisa mencegar kepergian pacarnya itu.
"Kenapa dia marah, hanya karena aku mengatakan itu?" tanya Nesa kesal.
Dokter itu tak mengerti kenapa Zidane marah hanya karena, dia membahas Felix yang tampak pucat dan kurus.
.
.
Di depan rumah Nesa, Zidane dengan wajah marahnya mengerutu kesal.
"Padahal aku ingin memeluknya, kenapa malah bicara tentang pria lain?
"Menyebalkan!" gerutu pria serba bisa itu.
Meski Nesa sangat dekat dengan Felix, tak seharusnya wanita itu membahas Felix secara terang-terangan seperti itu. Zidane juga manusia, dia juga bisa cemburu. Dia merasa Nesa terlalu perhatian pada Felix, apa lagi Felix adalah pria yang dulu pernah suka dengan Nesa.
Emosi Zidane makin memuncak, dia yang dulu selalu disingkirkan dan terlupakan. Jika kedua orang itu sedang bersama, ternyata Zidane bisa ciut juga hatinya.
.
.
.
.
Hari syukuran itu pun diadakan. Upacara sakral itu hanya dihadiri oleh Kru TV dan beberapa petinggi Desa Ngobaran dan Zidane yang menjadi pemandu Tim Felix.
Setelah doa-doa dan rasa syukur di panjatkan, saatnya pembagian tumpeng.
Zidane melihat Pak Kades yang membagi tumpeng besar itu. Tapi entah setan apa yang merasukinya Zidane maju dan membantu Pak Kades untuk memotong ayam-ayam di sana.
Tapi bagian pertama dia kasih ayam bagian dada. Karena sudah pasti potongan tumpeng itu diberikan pada Felix selaku sutradara.
"Zidane, aku lebih suka pahanya!" bisik Felix.
"Semua paha ayam hari ini, adalah milikku!" kata Zidane.
Perkataan Zidane membuat semua orang di sana tertegun. Itu pasti tedengar aneh, mereka berdua pria dewasa. Tapi hobinya rebutan makanan.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤