
Gisna tampak santai dan menikmati perbincangannya dengan Karis. Mereka membicarakan banyak resep menu makanan yang tak kufahami.
Segelas kopi hitam dengan aroma yang harum menemani obrolan kami. Aku tak memperhatikan Karis dan Gisna aku malah memperhatikan Zidane.
Zidane sedang berbicara dengan Kru inti Kak Felix, mereka tampak serius dan sedikit berdebat.
Tapi aku malah tersenyum karena hanya dengan melihat gesture Zidane bicara, ternyata sudah membuatku senang.
Tak ada lelaki yang seperti Zidane didunia ini, dia berbeda dan lain.
Stopppp apa yang kupikirkan, kenapa aku jadi berpikir begitu.
Tapi Zidane memang berbeda, dia aneh dan sering membuatku jengkel. Tapi tiba-tiba membuatku jadi penasaran.
Aku sudah yakin, ciuman itu hanya mimpiku saja. Tapi entah kenapa aku ingin ciuman dari Zidane itu adalah hal yang nyata.
Kenapa aku jadi menginginkan hal c.abul seperti itu. Aku pasti sudah gila, harusnya aku tak memikirkannya.
Harusnya aku tak kesini dan membuat jantungku berdebar tak karuan.
.
.
"Nesa, Gisna. Maaf kita harus mulai syuting lagi!" kata Kak Felix.
"Ohhh iya Kak, ayooo Gisna kita pulang!" kataku.
"Lain kali aku akan menyisihkan waktu untuk ngobrol lagi denganmu.
"Maaf tidak bisa menemanimu ngobrol!" Kak Felix yang terlalu sopan saat bicara padaku.
"Nggak papa kok Kak. Aku malah menggangu kakak karena datang ke sini!" ujarku, aku berjalan keluar dari lokasi syuting di antar oleh Kak Felix.
"Aku suka kau datang ke sini, aku jadi makin semangat!" kata Kak Felix.
"Benarkah?" tanyaku, aku berharap tak menggangu proses syuting.
"Benar!" aku yakin Kak Felix bohong padaku.
Aku melihat ke arah lokasi syuting lagi, dan berharap Zidane melihat ke arahku. Tapi dia terlihat terlalu sibuk.
"Besok aku akan kesini lagi, apa boleh?" tanyaku.
"Kau boleh ke sini kapan pun, kesinilah sesuka hatimu!" kata Kak Felix.
Meski aku berbincang dengan Kak Felix tapi orang yang ada di dalam otakku adalah Zidane.
"Mereka sudah menunggu kakak!" kataku.
Karena hampir semua Kru memandang ke arah kami selain Zidane dan cewek berambut pendek. Mereka tengah asik berbincang dan membahas sesuatu di dalam buku.
"Ohhhhh, maaf aku tak bisa mengantarmu!" kata kak Felix.
"Tidak papa, cepat kakak harus syuting lagi kan?" aku memutar tubuh Kak Felix ke arah rumah Mbah Miyah dan mendorongnya.
"Benar kamu nggak papa, jangan salah faham.
"Aku bukan orang yang cuek, jangan merasa terabaikan olehku!" ujar Kak Felix.
__ADS_1
"Nggak, aku kenal Kak Felix sudah lama. Aku faham gimana sifat kakak.
"Aku tak akan salah faham!" kataku.
Akhirnya Kak Felix pun berjalan maju, meski berkali-kali dia menoleh ke arahku. Entah apa yang Kak Felix pikirkan tentangku.
"Cie...Cie...Cie!!!
"Kamu suka sama Sutradara Felix?" tanya Gisna.
"Kenapa sih kamu sekarang suka ngurusin percintaanku?" tanyaku kesal.
"Aku cuma mau lihat, gaya pacaran Nesa itu kayak apa," ujar Gisna.
.
.
"Malam Bu Dokter, Mbak Gisna!" sapa seseorang lelaki yang ternyata berada di kerumunan para warga yang menonton syuting.
Lokasi ini bahkan lebih ramai dari pada pasar saat ini. Hampir semua warga Ngobaran datang ke sini untuk melihat proses syuting Sutradara Felix.
"Ehhhh, anda...ohhhh anda Pak polisi, yang mengurus khasus penodongan dikinik Intan!" kataku seramah mungkin.
"Iya Bu Dokter, saya anak buah Komandan Syarif!" gaya bicaranya sangat kaku dan terdengar kuno.
"Pak Irwan...!"
"Aku duluan ya Nes, ada urusan!" ujar Gisna.
Dia pasti malu sekali bertemu dengan Irwan di sini.
.
.
.
.
"Kenapa aku merasa akan ada pernikahan di tahun ini, apa aku harus mulai beli gaun untuk kondangan!" ujar Alexza dengan nada mengejek bahagia ke arah Felix yang baru datang.
"Apaan sih kamu Za!" Felix tersipu malu.
"Aku tak bisa membayangkan kau masih bisa tersipu, Felix ingat usiamu!
"Akhhhhh aku tak bisa berhenti tertawa!" ujar Alexza dia merasa reaksi Felix sangat kekanakan.
"Dia manis sekali bukan, Nesa bilang akan datang lagi kesini besok!" kata Felix dengan wajah memerah dan penuh dengan keantusiasan.
"Harusnya kita syuting drama romansa,
"Kenapa mengajakku ke sini?" desah Karis, dia juga tampak mendukung perasaan Felix pada Vanesa.
"Kau benar Karis!
"Bukankah kau merasa tersisih tadi, saat bicara padamu, pandangan Dokter Nesa itu ke arah Felix terus!" ujar Rudi.
"Kau harus cepat menyatakan cintamu Felix, jangan sampai Bu Dokter bosan karena kau ulur-ulur!" nasehat Karis pada Felix.
__ADS_1
"Apakah harus begitu?!
"Gimana menurutmu Mas Wakil, Nesa suka suasana yang bagaimana yaaaa?" tanya Felix pada Zidane.
Lelaki itu hanya diam dari tadi, mulutnya seakan tak bisa terbuka saat mereka membicarakan Nesa yang sangat menyukai Felix.
Zidane jadi ingat semua perkataan Nesa padanya, gadis itu pasti sangat menyukai Felix.
Felix adalah sutradara sukses, terkenal dan kaya. Sementara dirinya hanyalah, Mas Wakil yang tak bisa dibanggakan oleh Nesa.
"Mana ku tau?" ujar Zidane malas.
"Semua cewek suka suasana romantis, gimana kalau kau undang dia di acara minggu depan!" ujar Alexza.
"Undang dia, sebagai bintang tamu?" Felix agak ragu.
"Lamar dia di acaramu, dia pasti akan sangat menghargai usahamu itu!" ujar Alexza.
"Tepat, dia tak akan melupakan hal itu sampai dia mati!" kata Rudi.
"Eisttttt kenapa kau bicara tentang kematian, dia sedang jatuh cinta tulul!" ujar Alexza yang langsung menempeleng kepala Asisten Sutradara itu.
"Aku akan pulang, jika butuh aku telfon saja!" ujar Zidane.
"Ohhh iyaaa, makasih ya Mas Wakil. Tanpa kamu syuting kita pasti akan tertunda!" Felix segera mendekati Zidnae dan menepuk bahu pria itu.
"Itu tak seberapa, aku pergi yaaa!" Zidane langsung pergi dengan menenteng tasnya di bahunya.
Hatinya retak dan sakit. Lelaki serba bisa itu bahkan tak tau pasti, apa yang sedang ia rasakan.
Patah hati, cemburu atau kecewa. Dia tak bisa memilah perasaannya yang sudah terlanjur rumit tanpa dia sadari.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti di pertigaan gang menuju rumah Nesa. Matanya yang sayu tanpa energi memandang ke ujung lorong yang gelap itu.
Dia mengingat lagi pelukannya dengan Nesa, dua kali dia mendapatkan pelukan hangat dan erat itu. Jiwanya seakan direngkuh dengan kehangatan yang tak manusiawi kala itu.
Rasa nyaman dan hangat, serta perasaan bersalah dan tak berdaya kembali memyergap diri Zidane. Dia masih terdiam di depan gang yang ujungnya gelap itu.
"Semoga kau bahagia Nesa, aku percaya Sutradara Felix bisa menjagamu dan membuatmu bahagia.
"Maaf karena aku berani menyukaimu, maaf karena aku berani melukaimu.
"Semoga kau segera melupakan masa terburukmu selama berada di sini.
"Bertemu denganku, bergaul dengan mahluk menjijikan sepertiku. Semoga kau cepat lupa.
"Tak seharusnya aku mencintai wanita sehebat dirimu,"
Isi hati Zidane itu tak bisa ia ucapkan dengan lisannya. Di belakang Nesa atau pun di depan Dokter Kandungan itu.
Rasa takut Zidane sudah memuncak, dia tak bisa membiarkan dirinya merasa bahagia dan terus tersenyum.
Karena kesalahan yang pernah dia buat di masa lalu, yang merengut banyak nyawa orang-orang yang mencintainya.
Zidane merasa dirinya tak berhak bahagia, apa lagi memiliki sandaran. Zidane takut dirinya juga akan membawa petaka bagi kehidupan Nesa.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1