
Kak Felix mengantarku sampai ke rumahku, aku jadi merasa cangung dengan suasana ini.
Bahkan cara berpamitan Kak Felix sangat cangung, aku juga tak bisa langsung menolak atau menerima perasaannya. Jadi aku tak tau kapan kecangungan ini akan berakhir.
"Kau baru pulang?" tanya Gisna.
Sahabatku itu sudah memakai piyama tidurnya dan bersantai di depan TV.
"Kak Felix bilang dia suka padaku!" kataku.
Entah kenapa nada bicaraku jadi lemah dan tak bertenaga.
"Lalu kenapa kau jadi lemes begitu? Harusnya kau senang--kan?"tanya Gisna.
"Enggak tau ahhhh, aku hanya ingin ke tempat yang jauh dan menikmati hidupku!" ujarku.
"Lalu kau sudah melupakan ciuman Mas Wakil?" tanya Gisna.
"Akhhhhh benar, aku harus segera meluruskan ini!" kataku.
Tiba-tiba semangat hidupku bergerak kembali.
"Kau suka dengan Mas Wakil. Jangan menyangkal lagi!" kata Gisna.
Aku hanya bisa diam, yaaa kau aneh.
Kenapa aku selalu bersemangat saat memikirkannya. Kenapa aku hanya memikirkannya akhir-akhir ini.
Apa benar aku jatuh cinta padanya, ini membingungkan.
"Mas Wakil juga menyukaimu, tapi kelihatanya dia tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasannya padamu!
"Karena kau orang yang kolot dan kuno, jadi Mas Wakil pasti saat ini sedang bimbang!" kata Gisna.
"Kenapa?" tanyaku.
"Dia pasti menyerah karena Sutradara Felix!" kata Gisna.
"Mas Wakil itu orang yang sangat baik, dia juga selalu memikirkan orang lain.
"Dia pasti berpikir kau juga menyukai Sutradara Felix, makanya dia menghindarimu.
"Dia menghindarimu bukan karena masalah ciuman itu!
"Dia menjauhimu karena dia harus melupakan perasaannya padamu.
"Itu sih pendapatku!" Gisna mulai mengatakan pendapatnya.
.
.
Keesokan harinya semua berjalan normal kembali Kak Felix sudah kembali ke Jakarta. Meski dia bilang akan kembali syuting di sini lagi, dua minggu lagi.
Tapi situasi ini membuatku senang. Di pagi hari aku bisa melihat Zidane di cafe dan siang harinya dia akan memgantar pesan antar. Dan saat malam aku bisa melihat dia bekerja di restoran tepi pantai, atau restoran Pia Palen.
Jadi pagi itu aku berjalan dengan suasana hati yang amat indah. Karena bisa mengobrol lagi dengan Zidane, yaaa ternyata hal sederhana itu amat kurindukan saat ini.
Wajahku pasti memerah dan tersenyum indah saat melihat wajahnya yang sedikit aneh.
"Apa semalam tidurmu nyenyak?" tanyaku pada Zidnae.
Padahal aku baru saja masuk ke dalam Cafe Davey.
"Kelihatanya kau punya kabar genbira, kau tampak sangat cerah pagi ini.
"Bunga-bunga di atas warna kuning, sangat cocok dengan kecerahanmu pagi ini!" ujar Zidane.
__ADS_1
Aku tau dia sedang mengejek pakaian yang kukenakan. Dia mana tau Mode.
"Oyyyyyy, aku tanya tentang tidurmu.
"Apa salah jika aku suka gaun yang cantik?" tanyaku.
"Sangat nyenyak, hingga aku hampir tak bisa bangun pagi ini!" katanya dengan nada yang biasa saja.
Dia tersenyum di akhir kalimatnya dan itu membuatku cukup bahagia.
"Kau mau pesan apa?" tanyanya.
"Seperti biasa, tapi tambahkan banyak krim di latteku!" ujarku.
"Baik Bos!" katanya.
Hanya dengan melihatnya melakukan sesuatu sudah membuatku tersenyum senang. Apa ini cinta, apa aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada Zidane???
Bagaimana aku harus bertingkah, apa kukatakan saja perasaanku padanya.
"Nanti malam kamu pulang jam berapa?" tanyaku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, aku akan menunggu di rumahmu!" kataku.
"Apa penting?" tanyanya, dia mulai cemberut lagi.
"Sangat penting!" kataku.
"Aku akan sampai di rumah jam 09:00 malam!" katanya.
"Usahakan tepat waktu, aku akan menunggumu sampai kau pulang!" ujarku.
"Baiklah!" kata Zidnae.
.
.
Dia mencoba berpikir positif, tapi Zidane juga takut. Dia takut jika Nesa bilang dia sudah resmi pacaran dengan Felix, dan memintanya untuk menajuhi Nesa.
Zidane terbangun di dini hari dan melihat pesan dari Gisna.
《Maaf tapi aku tak bisa merahasiakannya lagi》
Itu artinya Nesa sudah tau jika dia pernah mencium bibir Dokter Kandungan itu dengan sangat mengebu dan bern.afsu.
.
.
.
.
Bu Tari duduk di sebuah sofa panjang, di sebuah ruangan yang penuh piala.
Didepannya seorang pria tua berwajah tegas dan berkumis tebal sedang memandang ketakutan ke arah Ibu Tari.
"Maaf Bu Kades, ini tindakan yang tak terpuji. Ibu Ratih adalah guru di sekolah ini...,"
Bu Tari tanpa rasa takut segera menyela, perkataan Kepala Sekolah yang tak botak itu.
"Saya tak akan membuat keributan di sini, Pak. Tenang saja!
"Saya hanya ingin bicara empat mata dengan Ibu Ratih!" Bu Tari tampak sangat ngotot.
__ADS_1
Wajahnya yang tegas dan garang itu semakin membuat nyali Kepala Sekolah itu ciut dan mau tak mau menuruti kemauan Ibu Kades itu.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Ratih datang ke dalam ruangan kepala sekolah itu. Dia terpaksa menemui Ibu Tari karena jika tidak, maka dia akan di pecat saat itu juga.
Dengan langkah yang dibuat sesongong mungkin Ratih masuk ke dalam ruangan Pak Kepala Sekolah.
Ratih mencoba tak terintimindasi dengan tatapan Tari yang luar biasa berkharisma.
"Pak Kepala Sekolah, silahkan keluar. Karena kami akan membicarakan masalah rumah tangga, yang sangat pribadi!" kata Ibu Tari.
Meski berat hati Pak Kepala Sekolah itu keluar dari ruangannya. Kekhawatiran masih menyelimuti pria tua yang tinggi itu, dia takut ruangannya akan hancur karena menjadi TKP perkelahian.
"Jadi sudah berapa lama kau selingkuh dengan suami saya?" tanya Ibu Tari dengan nada yang jernih tanpa gemetar.
"Satu tahun!" kata Ratih, gadis berusia 25 tahun itu berusaha tak gemetar juga.
Meski di dalam lubuh hatinya yang paling dalam dia juga takut.
"Aku akan menceraikannya!" kata Tari.
"Baguslah!" kata Ratih.
"Kau senang?" tanya Tari.
"Mas Marwan bilang pada saya jika dia akan menceraikan anda nantinya.
"Baguslah jika anda punya inisiatif untuk memgugat cerai duluan!" kata Ratih.
"Kudengar kalian sering ke motel dan hotel di kota, boleh ku tau hotel dan motel apa?" tanya Tari masih dengan nada santai.
"Kenapa, dia sering mengundangku ke rumah pribadinya.
"Kami bahkan pernah melakukan di ruangan kantornya!" ujar Ratih pamer.
"Benarkah?!" Tari hanya bisa tersenyum kecut.
"Dia bilang, goyangan saya hot..."
"Cukup, karena saya merekam semua perkataan anda Ibu Guru!" kata Tari.
Wanita itu segera memungut ponselnya dan memutar kembali rekaman yang dia dapat di depan Ratih.
"Bagaimana jika semua murit anda melihat ini?!" ujar Tari dengan senyuman yang mengembang.
Ratih yang sudah terkena pukulan telak itu pun hanya bisa diam.
"Meski anda menjual tubuh seksi anda pada pak Kepala Kepala sekolah yang sudah tua itu.
"Tetap saja anda akan kehilangan pekerjaan anda di sini!" Tari mengatakan itu dengan sangat santai.
Ibu rumah tangga yang pemarah itu ternyata cukup dingin saat menghadapi pelakor tengil seperti Ratih.
"Dengan ini, saya akan menguasai sebagian besar harta gono-gini saya dengan Marwan.
"Dia juga akan kena sangsi karena lalai dalam tugas, sebagai pejabat Negara.
"Kurasa Marwan tak akan bisa berpolitik lagi setelah ini!" ujar Tari, wanita tambun yang jauh dari kata seksi dan cantik itu segera berdiri.
"Selamat menempuh hidup baru Bu Guru Ratih.
"Takutnya nanti saya tak bisa mengucapkannya di pesta pernikahan kalian!" Tari masih saja bersikap santai di depan pelakor yang sudah membeku itu.
Ratih tau benar, hidupnya sudah hancur karena cintanya pada pria perayu seperti Marwan.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1