Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Pulih


__ADS_3

Pagi itu masih buta, dan seperti biasa Zidane terbangun sebelum subuh. Dia membuka seluruh jendela di rumahnya, malam tadi dia tidur cukup nyenyak. Meski harus dibantu oleh obat tidur yang diresepkan oleh Nesa kekasihnya.


Tapi saat membuka hordeng di jendela ruang depan, Zidane dikagetkan dengan sebuah bayangan pria yang duduk di dipan halaman depan rumahnya.


"Kenma!" ujar Zidane.


Lelaki bertubuh tegap itu segera keluar dari dalam rumahnya, dia segera menghampiri Kenma yang duduk sendiri di atas dipan kayu. Yang terletak di bawah pohon mangganya.


"Kenma!" panggil Zidane.


Pria itu sudah berdiri di belakang sosok Dokter yang sedang merintih dalam isak tangisnya.


Zidane tentu saja tak mau mengganggu Kenma, dia ingin menghibur lalaki itu. Tapi Zidane takut akan menyinggung Dokter itu nantinya.


"Apa kau hidup dengan bahagia?" tanya Kenma di sela isak tangisnya.


Zidane hanya bisa diam membisu, tak ada satu kata pun yang dapat dia jadikan sebagai jawaban pertanyaan Dokter Kenma itu.


"Apa kau yang mengirimiku bukti tentang pelaku dan beberapa kasus suap yang dilakukan oleh Hendarto Grup?!


"Apa kau pikir itu cukup untuk menebus kesalahanmu?" Dokter Kenma kini melihat ke ara Zidane.


Tapi pria yang dilihatnya hanya tertunduk diam. Zidane tau apa pun yang dia lakukan, tak akan cukup untuk menebus kesalahannya di masa lalu.


"Tapi kau tak salah Zidane!" kata Kenma.


Zidane juga tak bisa membenarkan perkataan Kenma. Andai saja proyek itu tak dipercayakan padanya yang saat itu masih sangat muda dan naif. Mungkin kejadian akan berbeda, dan mungkin akan lebih baik dari hari ini.


"Tak ada yang salah!" kata Kenma, Dokter itu mencoba melapangkan dadanya. "Aku tak ingin minta maaf karena memukulmu di Balai Desa!"


"Tapi aku ingin bertrimakasih, karena masih hidup dan menyelidiki semua itu!" kata Kenma.


.


.


.


.


Semua orang punya masa lalu, dan setengah dari masa lalu itu adalah hal yang tak ingin diingat oleh sebagian manusia.


Tapi beban derita akan masa lalu tak bisa hilang begitu saja. Tapi manusia akan berusaha bertindak sesuai naluri untuk bertahan hidup, yaitu melupakannya.


Tapi Zidane dan kenma malah berusaha membalas dendam. Mungkin kepuasan hati dan pikiran mereka terbayar. Hal itu bagus tapi juga tak dapat ditiru.


Mereka tak balas dendam dengan cara yang licik, mereka hanya mencoba mengungkap sebuah kenyataan tentang kelicikan para saudagar.


Gelimang harta benda tak akan mengubah bahwa, hukum bisa menjerat mereka. Begitu--lah dunia yang katanya berputar, kadang di bawah tapi terkadang juga di atas.


Jangan peduli akan rotasi kehidupan, tapi bertindaklah seperti manusia. Manusia yang diberi akal pikiran dan hati untuk memilah pilihan akan jalan hidup mereka sendiri.


Ikuti insting hatimu, jangan menyesali masa lalumu tapi perbaiki. Karena setiap masa lalu adalah guru yang akan menuntunmu menuju masa depan yang lebih cerah.


.

__ADS_1


.


.


.


Aku sudah menanti Zidane di depan rumahnya. Kita sepakat untuk pergi ke Jakarta dan mengunjungi makam Kak Danu dan Ayah Dokter Kenma.


Kita harus menyelesaikan masalah kita sendiri meski banyak masalah di sekitar kita. Karena yang menunggu Zidane di halaman rumahnya bukan cuma aku, tapi hampir semua warga Ngobaran ada di situ.


"Bu Dokter, kalian mau pergi?" tanya Mas Fahmi.


Beliau pasti akan pergi ke Cafenya, tapi melihat aku berdiri di depan halaman rumah pacarku. Mungkin membuatnya bertanya-tanya.


"Iyaaa Mas!" kataku.


"Apa Mas Wakil baik-baik saja, dia tidak papa--kan?!" tanya Mas Fahmi.


Pemilik Cafe Davey itu tampak sangat khawatir pada Zidane. Aku yakin dia tulus khawatir pada pacarku.


"Bu Dokter!" teriak Ibu Wenda dari kejauhan.


Kenapa jadi hebih begini.


Akhirnya yang kutunggu keluar juga. Zidane keluar dari rumahnya, dia mengenakan setelan jas hitam dan membuatku hampir tak mengenalinya.


"Yaaa ampun pacarku tampan sekali," bisikku saat dia sudah di dekatku.


Tak mungkin aku bicara lantang dan terang-terangan masalah itu, di depan semua warga Ngobaran ini.


"Masa?" tanyanya.


"Kalian mau kemana?" tanya para warga yang ada di sana.


"Kami mau jalan-jalan!" kata Zidane.


Lelaki itu sudah bertingkah seperti biasanya, meski suaranya masih berat karena banyak menangis. Tapi aku tau hatinya saat ini sudah pulih.


"Kalian membuatku iri!


"Jangan lama-lama perginya, Ngobaran sangat membutuhkan kalian berdua!" kata Ibu Tari selaku ketua perkumpulan warga Ngobaran.


"Baik Bu!" ujar Zidane penuh rasa hormat.


"Histttttt, kau membuat kami semua cemas!


"Apa pun yang terjadi, kamu tetap warga Ngobaran. Dan kami akan selalu ada dipihakmu!" ujar Bu Tari lagi.


Zidane hanya tersenyum menunduk, mungkin dia juga pernah merasa bahwa warga Desa juga menyalahkannya.


"Aku akan pulang, karena ini rumahku!" kata Zidane.


"Aku juga, karena di sinilah rumah kami!" kataku.


Kami saling berpandangan dan tersenyum. Setelah badai berlalu, mungkin tak ada pelangi yang terbentuk. Tapi matahari tetap terbit dan menghangatkan bumi ini.

__ADS_1


Tetaplah menjadi rumah bagiku, karena aku butuh tempat untuk pulang. Setelah aku mengarungi kegelapan di seluruh dunia.


Dan aku juga akan menjadi rumahmu, tempat kau bisa bersandar. Tempat kau bisa berkeluh kesah dan menangis. Karena lelaki yang menangis bukanlah lelaki yang lemah, tapi lelaki yang menangis adalah manusia.


.


.


.


.


Di mobil Zidane sempat terdiam saat melihat ponselnya.


"Ada apa?" tanyaku.


Dia memberikan ponselnya padaku. Aku langsung melihat isi chat yang dikirim oleh Kak Felix.


Beberapa foto gadis mungil yang amat lucu, serta beberapa kata-kata mutiara dari Kak Felix.


[Kau masih ingat gadis mungil ini? Dia Juju!]


[Kami baik-baik saja, kau juga harus baik-baik saja Mas Wakil]


Aku yakin hal ini sudah membuat Zidane lebih tenang, dia pasti akan baik-baik saja kedepannya.


"Bagaimana jika nanti kita mampir ke kantor Kak Felix!" kataku.


"Kau rindu padanya?" tanyanya.


"Tentu saja aku rindu padanya, dia kakakku!" ujarku dengan nada mengodanya.


"Kau sekarang berani merindukan pria lain, di depanku?" tanyanya.


Dia mencubit pipiku dengan gemas.


"Kapan kita berangkat?" tanyaku.


"Sekarang--lah, dewiku!" katanya.


"Siapa Dewi?" tanyaku.


"Nesa--ku!" ralatnya.


Akhirnya senyum yang indah yang selama ini menghiasi bibir kami telah kembali lagi. Aku jadi merasa, rintangan apa pun bisa kulewati untuk Zidane. Aku berharap Zidane juga akan melakukan hal yang sama jika ada sesuatu yang menimpaku nanti.


Tapi aku sudah tak punya rahasia yang kusembunyikan dari pacarku, dan kuharap kedepannya Zidane juga akan lebih terbuka padaku.


Dia pria yang jarang mengeluh, mungkin dia tak tau caranya mengeluh. Dia hidup hampir sendirian selama ini, dia pasti lupa caranya mengeluh dan bersandar pada seseorang.


Sekarang tugasku adalah menjadi sandaran dan tempatnya mengeluh. Aku akan merubahnya menjadi seorang pria yang tak kesepian lagi.


Aku ingin dia memikirkanku saat dia sepi, dan berlari kepadaku untuk kupeluk. Berkeluh kesah di dekapanku, dan menangis denganku.


Cinta bagiku adalah seperti itu, saling berbagi apa pun. Aku tak boleh egois hanya karena aku wanita, aku juga harus menjadi kuat untuk melindunginya dikala dia rapuh.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2