
Aku mendongak karena melihat pintu depan klinikku terbuka oleh kedatangan seseorang. Wajahnya yang selama ini jenaka dan ceria kini berubah cemas.
"Bu Dokter, bisa ikut saya ke rumah Mbah Miyah?!" tanya Zidane.
Dia bahkan baru saja masuk ke dalam ruangan tunggu ini.
"Kenapa enggak dibawa ke mari saja?" kataku.
"Mbah Miyah nggak mau!" kata Zidane.
"Emang dia kenapa?" tanyaku, kucoba seprofesional mungkin.
"Akhir-akhir ini dia sering kram perut dan mual, tapi hari ini dia sampai demam tinggi!" kata Zidane.
"Aneh sekali,
"Tunggu sebentar, aku harus mengambil peralatanku dulu!" kataku.
Mbah Miyah berusia hampir 70 tahun dan mengalami kram perut sampai demam. Tentu saja aku sangat khawatir, meski orang tua itu tak seramah warga yang lain. Dia tetap manusia yang harus dilindungi, karena langka. Aku yakin orang seperti Mbah Miyah itu hanya ada satu di dunia ini, saking uniknya.
.
.
Tubuh Mbah Miyah demam dan berkeringat dingin, dia pasti sedang menahan sakit yang amat sangat.
"Tolong Mbah Miyah terlentang yaaa!" perintahku dengan nada lembut.
Jarang sekali wanita tua itu langsung menuruti permintaanku. Dia kini terlentang dan aku mencoba menekan beberapa bagian di perut tua itu, aku juga memperhatikan setiap reaksi yang Mbah Miyah keluarkan saat perutnya kupijat.
Sementara Zidane yang duduk tak jauh dariku seperti melihat ibunya sendiri sedang sakit. Pria muda itu tampak cemas dan khawatir, padahal Mbah Miyah adalah orang lain bagi Zidane. Mbah Miyah hanya tetangganya. Tapi ikatan mereka terlihat sangat erat hingga melebihi keluarga.
Setelah aku menyuntikkan vitamin dan juga memasang infus untuk Mbah Miyah, aku segera berdiri dari ranjang tua yang menjadi tempat istirahat Mbah Miyah.
"Bagaimana?" tanya Zidane wajah tampannya begitu penuh dengan kekhawatiran.
"Aku akan meresepkan pereda rasa sakit untuk Mbah Miyah.
"Besok kau harus membawanya ke klinik untuk USG.
"Aku harus memastikan apa yang ada di dalam perut Mbah Miyah!" kataku.
Aku melihat wajah Mbah Miyah sudah mulai tenang, dan dia tertidur di ranjangnya.
"Kira-kira sakit apa yaaa Dok?" tanya Zidane dia benar-benar tak sabaran.
"Sakitnya bukan dibagian pencernaan, tapi di sekitar rahim.
"Bisa jadi itu tum...!"
Belum sempat kuteruskan ucapanku, Zidane sudah membungkam mulutku. Dia menarikku keluar dari kamar Mbah Miyah.
"Jangan bilang tumor," bisik Zidane dengan penuh rasa takut.
"Makanya kita harus periksa dengan USG di klinikku agar pasti!" ujarku.
"Aku akan membawanya ke sana, apa pun yang terjadi akan kubawa Mbah Miyah kesana!" ungkap Zidane.
"Ya sudah antar aku kembali ke klinikku, kau tak akan membiarkannku berjalan kaki untuk kembali ke klinikkan?" tanyaku.
Tapi pilihanku agar Zidane mengantarku kembali ke klinik tampaknya salah. Karena di sepanjang perjalanan kami, dari rumah sampai klinikku. Aku hampir bisa melihat semua warga Desa Ngobaran ini berada di luar area rumah mereka.
.
.
"Pasangan terromantis seNgobaran!" ujar Gisna.
Itu adalah kata sambutan sahabatku itu saat aku masuk ke dalam klinikku.
__ADS_1
"Apppaan sih?" tanyaku kesal.
"Lihat, betapa eratnya kau memeluk pinggang Mas Wakil?!
"Dan kau masih menyangkal jika nggak suka sama dia!
"Kamu pasti sedang sakit Dokter Nesa!" ujar Gisna.
Sepanjang hari ini dia hanya terus mencemoohku saja, apa aku membayarnya hanya untuk hal itu.
Aku tak kaget jika ada fotoku dan Zidane yang boncengan motor diposting di grup gibah Desa ini.
"Kau tau motor yang dikendarai Zidane tak ada rem depannya???
"Sedangkan jalan ke arah rumah Mbah Miyah itu sangat terjal!!!
"Jika aku tak berpegangan dengan erat, aku bisa jatuh.
"Kenapa jadi heboh begini!" jelasku secara rinci.
"Pantas sihhhh, kau tak punya pacar!
"Kamu terlalu kaku!!!" Gisna malah memarahiku.
"Tadi pagi Zidane juga bilang hanya menganggap itu sebagai kesalahan.
"Apa hanya aku dan Zidane yang berpikiran sehat di Desa ini???" tanyaku kesal.
"Kau tau, dia ikut sakit karena kamu!!!
"Dia mengikuti pola pikirmu, karena dia menyukaimu!" kata Gisna.
"Kenapa kau yakin sekali dia menyukaiku???" tanyaku.
"Ciuman, pelukan dan baru saja kau memeluknya lagi-kan?!
"Jika dia tak menyukaimu, pria juga tak akan mau disentuh olehmu!!!
"Padahal beberapa hari yang lalu Zidane juga dekat dengan wanita berambut pendek!
"Kenapa kalian nggak heboh???" ujarku kesal.
Aku segera masuk ke dalam ruangan kantorku dan melempar tubuhku ke arah kursi putarku yang nyaman.
Kenapa semua orang menjodohkan aku dengan Zidane???
Apa tak ada lelaki lain...
Memang tak ada lelaki lain sih yang lebih baik dari Zidane di Desa Ngobaran ini.
Dari segi tampang dan kemampuan Zidane memang lumayan.
Tapi dia aneh...
Atau benar kata Gisna, kalau aku yang aneh???
Akhhhhh aku malas memikirkan hal itu lagiiiii....
Zidane...Zidane...Zidane....
Bosan aku mendengar nama itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku mengamati lagi layar komputerku, kuteliti, aku tak mau ada kesalahan. Tapi semakin kulihat, itu semakin nampak jelas. Mbah Miyah memang sakit, ada tumor sebesar kepalan tangan dewasa yang bersarang dirahimnya.
Aku melihat wajah tuanya yang terlihat agak cemas, lalu ke wajah Zidane yang sangat cemas. Apa Zidane sudah tau kalau Mbah Miyah kena tumor.
Meski ukurannya besar, tapi kelihatannya itu bukan tumor yang ganas. Jadi aku merasa agak lega.
"Bagaiamna Dok???" tanya Zidane.
Mbah Miyah sudah duduk berdampingan dengan Zidane di kursi pasien di depan meja kerjaku.
"Mbah Miyah di rahim anda, bersarang tumor sebesar kepalan tangan orang dewasa.
"Karena itu anda merasa sering mual, kram perut dan pusing-pusing.
"Jadi saya sarankan agar anda menjalani oprasi pengangkatan tumor itu secepatnya!" katataku.
"Apa?!
"Tumor???" Zidane tampak syok sekali.
Tapi Mbah Miyah tampak biasa saja, dia sepertinya sudah tau kalau rahim tuanya di huni oleh penyakit itu.
"Saya akan merujuk anda ke sebuah Rumah Sakit di kota untuk menjalani proses oprasi pengangkatan!" kataku.
"Bu Dokter, kira-kira biyayanya berapa yaaa, Buk?" tanya Mbah Miyah.
Yaaa masalah biyaya pasti sangat penting, apa lagi Mbah Miyah bukan-lah orang yang terlihat kaya. Dia nenek-nenek sederhana yang tinggal sendirian, biyaya operasi pasti akan menjadi kendala.
"Apa anda mendapat kartu jaminan kesehatan dari pemerintah?" tanyaku pada Mbah Miyah.
"Desa ini tak mendapat kebijakan semacam itu!" kata Zidane.
"Kenapa, disini banyak orang yang kurang mampu.
"Apa kau tak mengusulkannya???" tanyaku kesal pada Zidane.
"Bukan begitu, Kepala Desa yang dulu ditangkap oleh KPK karena korupsi dana Desa besar-besaran.
"Jadi kebijakan itu baru dalam proses pendataan sekarang, bahkan belum sampai ke Desa kita!" ujar Zidane.
Dia pasti sangat tau akan kondisi pemerintahan di Desa terpencil ini.
Aku pun mulai menghitung, dengan kalkulatorku. Biyaya oprasi, para medis, kamar, dan akomodasi lainnya.
"Kurasa, anda harus menyiapkan uang paling sedikit RP 25.000.000,- Mbah Miyah!" kataku.
"Berapa....RP 25.000.000,-!!!" ujar Mbah Miyah langsung berdiri dan keluar dari ruanganku.
Sementara Zidane malah bingung dia mau mengejar Mbah Miyah, tapi juga masih ingin mengobrol denganku.
"Nanti aku hubungi!" katanya, dia langsung pergi meinggalkannku dan keluar dari klinikku. Mengejar Mbah Miyah yang paling dia cintai.
Wait...Wait...Wait.
Tadi Zidane bilang apa???
Kenapa dia mau menghubungiku???
Apa benar dia suka padaku?!
Otakku pasti udah mulai sengklek!!!
Tentu saja Zidane menghubungiku karena penyakit Mbah Miyah.
Kenapa aku jadi berharap tentang hal-hal yang romantis.
Memalukan!!!
___________BERSAMBUNG__________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤