Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Mencintai


__ADS_3

"Kau lihat jam berapa ini?" kataku ketus.


Padahal baru saja aku bisa melihat wajah Zidnae yang tampak seperti mayat hidup saat ini.


"Apa kau sakit?" tanyaku.


Dia bahkan belum menjawab pertanyaan pertamaku, tapi rasa kesalku karena memunggunya seketika sirna saat melihat wajah pucatnya.


"Aku nggak papa!" katanya dengan nada lemas.


Tanpa meminta ijin aku langsung menempelkan telapak tanganku ke keningnya.


"Kau demam!" gumamku.


"Aku baik-baik saja kok!" ujarnya tapi aku yakin dia tak baik-baik saja.


"Masuklah, tapi jangan tidur. Aku akan datang lagi, jadi kau harus membuka pintu untukku!" kataku.


Aku khawatir sekali padanya, rasa khawatirku hampir sama dengan rasa khawatirku pada ibuku dahulu. Saat ibuku kesakitan dan menderita, aku sekhawatir ini.


Di waktu hampir tengah malam itu aku berlari sekencang yang aku bisa. Aku berlari menuju rumahku, aku mengambil stetoskopku dan beberapa obat-obatan untuk Zidane.


Yaaa aku sekhawatir itu, saat melihat dia sakit rasanya hatiku lebih sakit. Padahal dia hanya deman biasa tapi aku panik serasa dia akan mati karena hal itu.


Saat aku kembali dan mengetuk pintu rumah Zidane, lelaki itu sama sekali tak bersuara.


"Zidane!" teriakku lirih.


Aku mencoba memuntir hendle pintu itu, dan langsung terbuka. Ternyata dia tak mengunci pintunya.


Perlahan tapi pasti aku segera pergi kekamarnya, dia terlihat tertidur dan berbaring dengan nyenyak di atas kasurnya.


Aku melihat di meja kamarnya ada bungkusan obat sakit kepala yang biasa dijual di warung.


"Untung dia sudah minum obatnya!" ujarku.


Kudekati tubuh Zidane yang berbaring lelap di atas kasurnya. Kupandangi wajahnya sepuas hatiku.


"Kenapa kau manis sekali?" tanyaku lirih.


"Kenapa kau juga tampan, aku jadi menyukaimu--kan!" bisikku lirih.


Aku tak mau dia terganggu dan membangunkan tidurnya. Tapi aku masih ingin berada di dekatnya.


Kugenggam telapak tangannya lalu kuletakkan di pipiku.


"Tanganmu juga hangat, dan lebar. Sejak kapan aku menyukai telapak tanganmu?" kataku lirih, hampir berbisik.


Tapi aku ingat aku harus pulang, aku harus meninggalkan Zidane sendirian meski sedang sakit. Bolehkah aku tidur di sini dan merawatnya, kami--kan nggak ngapa-ngapain. Pasti boleh--lah.


.


.


Sesuatu bergerak di dekatku, tapi aku malah mendekapnya lagi. Aku masih merasa kedinginan, jadi aku belum ingin membuka mataku.


"Bu Dokter, ini sudah pagi!" suara maskulin yang lembut itu menyeruak mesra di dalam gendang telingaku.


"Ini--kan hari minggu aku libur!" jawabku.


Sesuatu itu bergerak lagi di dalam dekapanku.


Kenapa gulingku bergerak-gerak dan bicara sendiri.


Tunggguuuuuu aku....


Aku tidur di rumah Zidane.....


Mataku langsung terbelalak dan tubuhku segera terduduk di atas dipan sempit itu.


"Awas nanti kamu jatuh!" ujar Zidane.


Kedua tangannya meraih pinggangku, alhasil karena gerakan refleks yang kulakukan aku malah berakhir di atas tubuhnya.


Mata kami saling berebut pandang. Jantungku berpacu tak terkendali dan sel n.afsusaurusku langsung bergejolak.

__ADS_1


Hampir tak ada jarak di antara kita saat ini, tubuh kami saling berdempetan tanpa celah dan wajah kami berjarak sangat dekat.


Aku memperhatikan jakunnya yang naik turun entah karena apa, aku bahkan bisa mendengar getar napasnya.


"Apa kau tau, tubuhmu itu berat sekali?" tanya Zidnae.


"Maaf!" kataku, aku pun berusaha untuk bangun dari posisi tak senonoh itu.


"Maaf, tapi apa kau sudah baikan?" tanyaku, setelah kami bangun dari tempat tidur.


"Aku baik-baik saja kini!" katanya.


"Sarapan...


"Aku akan membuat sarapan!" kataku.


"Apa kau bisa masak?" tanya Zidane.


"Tidak, tapi aku akan berusaha!" kataku.


"Kalau begitu biar aku yang masak!" katanya.


"Berbaringlah saja kau pasti masih lemas!" ujarku, aku segera keluar dari dalam kamarnya.


"Kenapa aku lemas, semalam kita bahkan tak melakukan apa pun!" kata Zidane.


"Memang kau berencana melakukan apa padaku?" tanyaku.


"Sesuatu, tapi aku terlalu ngantuk!" katanya.


"Tutup mulutmu itu, dan berbaringlah!


"Turuti apa kata Doktermu!" pintaku, lagi-lagi Zidane membuatku kesal.


Aku lebih suka dia berbaring dan terpejam, dari pada bangun dan terus mengodaku.


"Kau yakin bisa masak?" Zidane masih aja ngoceh meski kami sudah keluar dan dia duduk di sofa ruang tamunya.


"Aku bilang akan berusaha, jika aku berisik dan heboh. Jangan mendekat!


"Tidur saja yang nyenyak!" kataku.


"Tidak akan, tidurlah!" kataku.


Pagi itu aku mebuatkan bubur untuk Zidane, dan ini pertama kalinya bagiku. Aku tak menyangka akan memasak untuk orang lain.


Kupikir aku tak akan sudi melakukan hal ribet seperti memasak untuk seorang pria. Jatuh cinta memang perasaan yang hebat.


Aku merasa bahagia saat memasak bubur untuk Zidane, kuharap rasanya enak. Karena kubuat dengan penuh perasan cinta.


Saat sudah jadi Zidnae malah tidur terlelap, aku tak ingin membangunkannya. Jadi aku menulis sebuah pesan di atas secarik kertas.


《Habiskan buburnya, dan minum obat serta istirahatlah hari ini


Kau harus sembuh.


Nanti malam ada yang ingin kukatakan padamu, jangan berkilah sakit lagi》


Aku menyelipkan secarik kertas itu di bawah mangkuk bubur yang kusiapkan.


"Semoga enak!" kataku.


Aku lalu pergi setelah mengelus pelan kepala Zidane, entah kenapa aku merasa dia sudah menjadi hak milikku. Aku tak canggung lagi saat bersentuhan dengannya, bahkan aku ingin sekali selalu menyentuhnya.


Aku tak bisa tak bilang kalau aku menyukainya. Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaanku setelah tau kalau aku jatuh cinta.


.


.


.


.


Setelah memastikan Nesa benar-benar pergi dari rumahnya, Zidane segera membuka matanya.

__ADS_1


Dia tersenyum melihat semangkuk bubur dan teh panas di sebuah gelas.


Secarik kertas pesan Nesa telah dia baca.


"Dia menungguku, merawatku, dan membuatkanku sarapan.


"Aku jadi penasaran apa yang ingin dia katakan padaku.


"Kenapa dia harus mengetakannya saat aku sudah sembuh.


"Dia benar-benar membuatku sinting!" ujar Zidane dengan senyuman yang merekah dibibirnya.


Tangan kanannya mengangkat mangkuk bubur yang dibuat oleh Nesa. Dia menyendoknya dan memasukkan satu sendok penuh itu ke dalam mulutnya.


"Hemmmmmm," desahnya pelan.


Zidane merasakan setiap rasa di dalam bubur itu dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan.


"ettssssss hahhhhhh, ohhhhh.


"Apa ini?" tanyanya akhirnya.


Dia mengeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tak percaya.


"Sulit bagi seseorang gagal memasak beras dengan air, tapi ini!" ujar Zidane.


Tapi dia masih menyendok lagi, dan memakannya.


"Apa yang dia masukkan kenapa rasanya bisa asam begini?" tanya Zidane.


Wajahnya mulai mengeryit tersiksa. Mungkin lidahnya sudah kelu karena rasa bubur buatan Nesa.


"Apa dia mau membunuhku?!


"Habiskan buburnya???


"Dia benar-benar tak punya hati nurani!" ujar Zidane.


Dia mau marah, tapi bibirnya masih saja tersenyum. Zidane berusaha memakan semua bubur buatan Nesa. Dia harus memakannya meski dia harus mati karena bubur itu.


"Sudahlah aku tak sanggup lagi. Aku menyerah!" ujar Zidane, padahal tinggal dua suapan lagi.


Dia membawa mangkuknya ke dapur untuk ia cuci. Tapi dia terdiam karena kondisi dapurnya.


"Apa barusan terjadi perang di dapurku.


"Nesa kau benar-benar, ingin membunuhku?!" Zidane mulai kesal, tapi lagi-lagi dia masih bisa tersenyum.


Setelah memasak Nesa tak membereskan dapur Zidane kembali.


Panci kotor masih nagkring di atas kompor, potongan sayuran masih berserakan. Begitulah ke adaan rumah Zidane pagi ini.


Meski kesal setelah melihat kondisi dapurnya yang seperti diterjang badai, Zidane menyendok lagi bubur buatan Nesa yang masih tersisa di dalam mangkuk di tangannya.


.


.


.


.


Seburuk apa pun dia, aku akan tetap mencintainya.


Aku akan tetap mencintainya sampai akhir hidupku, meski dia tak mencintaiku atau peduli padaku.


Karena cinta... itu bisa menerima segalanya, bukan menerima apa adanya.


Nesa, biarkan aku mencintaimu dalam diamku. Biarkan sekali-kali aku perhatian padamu.


Biarkan aku melihatmu bahagia dari kejauhan.


Karena bagiku itu sudah lebih dari cukup. Hal sederhana itu sudah membuatku bahagia setengah mati.


ZIDANE

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2