Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Telolet-Telolet


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nesa sudah menelfon Zidnae, tentu saja panggilan itu diangkat oleh Zidnae. Selain karena dia sudah bangun, dia juga sudah merasa rindu pada Nesa.


"Ada apa?" tanya Zidane pada Nesa dipanggilan ponselnya.


"Kangen!" ujar Nesa tanpa rasa malu.


Ternyata gadis itu tipe yang blak-blakan soal asmara.


"Aku juga!" kata Zidane.


"Aku akan mampir di Cafe Davey pagi ini, aku ingin kau tersenyum sepanjang aku di sana!" Nesa mulai tengil.


"Dari semalam aku banyak tersenyum, apa aku harus senyum sepanjang hari ini?


"Gimana kalau orang menyebutku sinting?" tanya Zidane.


"Yang penting--kan aku tetap cinta sama kamu, jangan dengarkan apa kata orang!" ujar Nesa, dengan nada yang manja.


"Kau menyuruhku belajar jadi orang tuli?" Zidane juga hanya bisa tersenyum mendengar ungkapan Nesa yang tak masuk akal.


Rasanya ini bagai mimpi untuk Zidane, dia tak menyangka jika Nesa bisa bertindak semanis ini jika sedang jatuh cinta.


"Kau sudah mandi?" tanya Nesa.


"Kenapa?" Zidane yang duduk di sofa ruang bacanya merebahkan tubuhnya dan menyingkirkan buku bacaannya.


"Aku akan mandi dulu, kelihatannya Gisna sudah selesai mandi" kata Nesa, gadis itu menutup panggilan ponselnya.


Zidane yang masih rebahan akhirnya hanya bisa membayangkan banyak hal yang membuatnya senang.


.


.


.


.


Pintu klinik Intan terbuka, padahal ini waktu bertepatan dengan waktu makan siang.


Zidane bahkan masih disana, dia sedang mengantar makanan yang dipesan oleh Nesa.


Tamu tak diundang itu adalah Irwan, masih dengan seragam polisinya dia masuk ke dalam ruang depan kami.


"Ir, ada perlu apa?" tanya Zidane.


"Kau disini?" tanya Irwan pada Zidane.


"Ohhhh aku mengantar makanan!" ujar Zidane.


"Ada perlu apa Mas Irwan?" tanya Nesa.


"Apa saya menggangu?" tanya Irwan.


"Enggak, sama sekali Mas!" jawab Gisna yang masih asik makan.


Nasi oseng cumi mercon menjadi menu makan siang kami hari ini.


"Mbak Gisna boleh saya bicara sebentar?" tanya Irwan.


"Baiklah!" kata Gisna.


"Saya tunggu di luar!" kata Irwan.

__ADS_1


Irwan segera keluar dari dalam ruangan klinik Nesa.


"Gisna, kayaknya ini lampu ijo!" kata Nesa, tentu saja Nesa ikut bahagia kalau sahabatnya mendapatkan cinta gebetannya.


"Jangan berharap dulu, siapa tau dia cumak mau nanya kabar!" Gisna tampaknya tak mau berharap banyak pada Polisi muda itu.


Meski begitu Gisna tak bisa mengabaikan ajakan Irwan untuk bicara diluar. Bagaimana pun juga perasaan seperti cinta, tak bisa kamu hentikan hanya karena ingin berhenti. Dan perasaan cinta tak bisa muncul saat kau butuh atau ingin.


.


.


"Kenapa mereka berdua?" tanya Zidane yang masih duduk di sebelahku.


Meski kami belum pacaran, tapi rasa cinta dan kasih sayang diantara kami sepertinya sudah tumbuh dan mengikat satu sama lain.


"Ceritanya panjang, kuharap mereka baikkan!" kataku.


"Apa mereka juga pacaran?" tanya Zidane kaget.


Ekspres wajahnya yang kaget itu. Sontak membuatku tertawa, dia seperti tak menyangka jika Irwan temannya berani mendekati wanita.


"Wahhhhhh Gisna hebat, setahuku Irwan itu sangat pemalu dan gagu kalau di dekat cewek!" ujar Zidane.


Calon pacarku itu masih geleng-geleng tak percaya, bagaimana bisa semua orang jatuh cinta di saat yang bersamaan.


"Gisna yang mendekati Irwan duluan, awalnya hanya iseng. Tapi ternyata Gisna suka beneran.


"Dari semenjak aku mengenal Gisna, gadis itu berhubungan dengan sembarang pria.


"Dan dia selalu bertemu dengan pria yang jahat, semoga kali ini Irwan bisa menerima cintanya Gisna!" jelasku.


"Jodoh pasti bertemu, tapi belum tentu bisa kita miliki.


"Menurutku Gisna sudah benar, dia menangkap ikan di laut tanpa peduli jenisnya.


"Dia pasti sudah bisa memilah, mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak!" kata Zidane.


Mulai saat ini aku akan selalu mendengar filosofi-filosofi aneh dari mulutnya itu. Jika dulu terdengar membosankan, sekarang aku suka dan bisa mengerti apa yang dia makasud dari setiap perkataannya.


"Aku tak menangkap ikan dengan sembarangan!


"Aku melihatnya, mencari tau banyak tentangnya, dan saat aku yakin.


"Aku baru menangkapnya!" kataku, entah kenapa aku sekarang jadi seperti Zidane.


"Kau anak yang pintar!


"Jadi berapa lama kau mencari tau tentangku!?" tanyanya.


"Akhhhhh itu rahasia!" kataku.


Bahkan aku sendiri tak tau, aku juga tak tau banyak tentang calon pacarku ini. Aku hanya tau dia dan aku saling mencintai sedalam danau Baikal.


.


.


.


.


Klinik Nesa terletak di pinggir jalan utama pelabuhan Ngobaran. Pusatnya Desa itu, klinik dua lantai itu menghadap langsung ke laut. Hanya jalan dan dan bongkahan batu beton sebagai penghalang ombak, jarak kinik Nesa dan laut.

__ADS_1


Irwan tampak tak tenang sama sekali dia berjalan ke ke kanan dan ke kiri, sambil menunggu kedatangan Gisna. Gadis sunda itu masih mengenakan seragam bidannya saat turun ke bawah.


Dengan santai dia menyebrangi jalan yang sudah tanpak tak terlalu ramai itu. Gisna sama sekali tak gugup atau senang, baginya apa pun yang dikatakn oleh Irwan dia harus menerimanya.


"Ada apa ya Mas?" tanya Gisna.


"Begini Mbak Gisna!" Irwan memulai untuk bicara.


"Aku tak membenci Mbak Gisna!


"Kupikir Mbak Gisna salah faham dengan ucapan saya.


"Maksut saya, kita bisa mengenal satu sama lain dulu...!" perkataan Irwan terputus.


Bipppp Bippppp Bippppp Telolet...Telolet...


"Oyyyyyy Pak Irwan!!!" sapa sopir truk yang baru saja lewat di sana.


Jalan ini adalah jalan utama, meski ramai. Jalan ini hanya dilewati oleh orang-orang daerah sini.


Gisna tampak tersenyum karena Irwan tak membalas sapaan sopir truk itu. Pak polisi itu malah mengeluarkan emosinya, dengan hendak melempar sopir itu dengan topi polisi yang dia pakai.


"Semangat Pak Polisi!" sopir truk itu tampaknya sangat akrab dengan Irwan, dan mungkin tau tujuan Irwan. Berdiri bedua di tepi jalan bersama Gisna.


"Maaf Mbak Gisna, sampai mana saya tadi!" dia malah bertanya pada Gisna yang sudah tak bisa menahan tawanya lagi.


"Saling mengenal satu sama lain!" ujar Gisna dengan menahan senyumnya.


Ternyata Irwan sangat manis saat berekspresi, mungkin karena Gisna hanya tau wajah datar polisi muda yang ganteng itu selama ini.


"Mari kita menjalani ini pelan-pelan, dan saling mengenal satu sama lain!" kata Irwan dengan cepat dan tegas.


Gisna tampak salah tingkah, dia masih berdiri di depan Irwan. Dengan berlagak biasa-biasa saja. Padahal jantung dan hatinya sudah melompat-lompat di dalam dadanya.


"Baiklah!" kata Gisna.


"Trimaksaih Mbak Gisna!" Irwan malah memberi hormat ala kepolisian dan mengatakan ucapannya dengan tegas. Mungkin karena lelaki itu sangat gugup.


Gisna tentu saja tak bisa menahan tawanya, akhirnya mereka tertawa di berdua di sana. Ditemani suara deru ombak yang indah, angin yang menyejukkan dan deru mesin-mesin pengangkut yang sekali-kali lewat.


.


.


.


.


Suasana mungkin bisa kita buat romantis. Tapi suasana yang apa adanya, terkadang akan lebih bermakna dari apa pun.


Momen-momen yang tak bisa kita lupakan terkadang hanyalah momen sederhana seperti sekarang.


Mengengam tangan seseorang yang kita cintai, melihat senyumnya yang manis dan mendengar tawanya yang seperti alunan musik dari surga.


Makna dari setiap cinta bukan tentang kepuasan dan pelampiasan hasrat. Meski itu penting.


Tapi yang paling penting tentang cinta adalah, kita.


Apa kita bahagia, apa kita menikmatinya, apa kita bisa bersamanya sampai tak ada yang bisa memisahkan kita. Entah itu waktu atau kematian, cintamu akan selalu ada untuk dia.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2