
Felix berada di bandara sekarang, duduk di ruang tunggu dengan gerak-gerik yang amat tidak tenang.
Wajah tampannya tegang dan kedua kakinya tak bisa diam, berkali-kali kedua telapak tangannya menyapu seluruh wajahnya.
Dia cemas, khawatir dan juga bahagia. Ternyata tak butuh banyak waktu untuk Nesa berpikir. Karena sore tadi Nesa menghubunginya, gadis pujaan hatinya itu bertanya. "Apa kakak punya waktu luang, aku ingin bicara tentang hal waktu itu!"
Meski ambigu dan amat sangat tak jelas, tapi kalimat yang di ucapkan Nesa itu langsung dijawab oleh Felix. "Baiklah, aku akan ke Ngobaran secepatnya!"
Tak peduli badai atau bencana lain yang menerpa, Felix berangkat ke Ngobaran saat itu juga. Padahal proses editing vidio untuk acaranya belum rampung dia kerjakan bersama timnya.
Mungkin cinta mati, atau cinta yang tumbuh berkali-kali. Cinta Felix pada Nesa itu ibarat seperti benalu. Selalu tumbuh ketika ada kesempatan, dan sekalinya tumbuh itu akan tak tau arah.
.
Penerbangan selama kurang lebih satu jam itu, tampaknya tak cukup membuat rasa gugup Felix menurun. Dia masih tegang saat sampai di bandara Jogja, dan merental mobil untuk sampai ke Ngobaran.
Dia berharap cintanya diterima oleh Nesa, dia ingin sekali pacaran sekali saja dalam hidupnya. Menikah nantinya, membuat Nesa bahagia dan dia yakin Felix bisa melakukan semua hal itu.
Pria bertubuh tinggi dan berpakaian rapi itu sedang duduk di salah satu kursi di Cafe Davey.
Tak lama Nesa datang, Dokter Kandungan yang berparas cantik itu. Hari ini mengenakan gaun biru langit yang indah. Dengan segala keanggunan yang dia punya, Nesa berjalan ke arah dimana Felix duduk.
"Udah lama kak, maaf membuat kakak menunggu!" ujar Nesa.
"Tak papa, nggak lama juga kok!" Felix menyahut perkataan Nesa.
Mata Felix berbinar saat melihat senyum Nesa saat menyapanya, tapi langsung surut ketika wanita itu duduk di depannya.
Entah kenapa, keyakinan yang dari dulu menguasai Felix seolah hilang. Keyakinan jika Nesa juga suka padanya, kenapa Felix jadi tak melihat di diri Nesa lagi.
"Maaf jika membuat kakak repot, kakak jadi jauh-jauh kemari!" ujar Nesa.
Perkataan itu sudah membuat Felix merasakan nyeri di ulu hatinya.
"Lagian aku harus kesini juga, aku langsung ke sini karena ada urusan juga.
"Kau tak membuatku repot, sama sekali Nesa!" ujar Felix.
Pria itu jadi sadar, instingnya salah.
"Aku akan mulai bicara!" kata Nesa.
"Yaaaa ampun aku tegang banget, seperti mau nerima rapot dari guru!" kata Kak Felix.
Jurus mengulur waktu agar Nesa berubah pikiran pun dilancarkan oleh Felix.
Tapi jurus murahan itu berhasil ditangkis oleh Nesa. Nesa yang sudah tergila-gila dengan Mas Wakil.
"Jadi ini jawabanku!" kata Nesa.
"Iya!" Felix akhirnya menyerah.
"Semenjak kenal kakak, aku merasa bahagia. Akhirnya aku menemukan seseorang yang peduli padaku.
"Orang yang selalu datang padaku ketika aku minta. Bahkan kakak selalu datang padaku ketika tak kuminta juga.
"Mengirimiku pesan, menanyai kabarku. Selalu bertanya 'sudah makan atau belum'."
__ADS_1
Nesa mengatakan hal itu sambil mengingat masa lalunya. Masa-masa kuliahnya yang penuh dengan perjuangan. Sementara Felix adalah satu-satunya teman yang Nesa punya waktu itu.
Nesa dan Gisna beda kampus, dan sama-sama sibuk. Saat kuliah Gisna dan Nesa jarang berkomikasi.
Felix masih diam, dia juga seakan bernostalgia dengan masa mudanya yang indah. Sangat indah karena ada Nesa yang ingin dia semangati setiap hari.
"Waktu itu aku sempat menyukai kakak sebagai seorang pria, dan aku tau kakak juga menyukaiku.
"Tapi kelihatannya kita nyaman berada di Zona itu, dan sekarang aku juga masih nyaman di Zona itu.
"Aku sudah menganggap kakak seperti kakak kandungku sendiri.
"Kakak sudah seperti keluargaku, menyaksikan perjuanganku. Menemaniku dan menjagaku di masa tersulitku.
"Tapi maaf, aku tak bisa menerima lebih dari itu. Maaf kak!" jelas Nesa.
Felix tersenyum getir, wajahnya yang sudah santai kembali menegang. Dia tak ingin mengatakan apa pun, setelah berusaha sekeras itu pun dia masih ditolak.
"Maafkan aku, karena saat ini aku sedang menyukai seseorang!" kata Nesa.
"Siapa?" tanya Felix.
Tapi Nesa tak mau mengatakan nama orang itu.
Seketika hanya sebuah nama yang dapat dipikirkan oleh Felix.
"Mas Wakil?" tanya Felix.
Nesa pun tak mengelak atau pun mengiyakan.
Mungkin ini yang dimaksut dengan perkataan Zidane. 'Jodoh memang tak akan kemana. Tapi jika kau tak berusaha mendapatkannya, dia pasti akan lari'. Lari ke takdirnya.
.
.
Saat keluar dari Cafe, entah kenapa Zidane malah muncul di sana.
"Zidane!" kata Nesa gugup.
Dia memang sudah bicara dan meminta izin pada Zidane. Bahwa siang ini dia akan menemui Felix dan akan menolak cinta sutradara itu.
Entah Zidane sengaja muncul atau memang kebetulan, lelaki itu segera menangkap pandangan tak menyenangkan dari rivalnya.
"Mas Wakil, kita harus bicara!" kata Felix.
"Ok!" Zidane juga tampak tak ragu saat menjawabnya.
Tapi kepanikan sudah menyerang Nesa.
"Yaaaa kalian mau kemana?" tanya Nesa cemas.
Felix memimpin jalan dengan gelagat seperti ingin membunuh, dan Zidane mengikutinya dengan tekat tak ingin mengalah pada Felix.
"Kalian jangan membuatku cemas!" kata Nesa.
Kedua pria yang sudah dikuasai oleh ego masing-masing itu, sama sekali tak mendengar atau menjawab ucapan Nesa.
__ADS_1
"Mereka nggak akan bacok-bacokan--kan?" Nesa merasa sangat khawatir.
.
.
.
.
Gergaji tangan sudah ditenteng oleh Zidane, dan Felix sudah memegang palu yang ia letakkan di atas bahunya.
"Berani sekali kau?!" ujar Felix dengan senyum penuh emosi.
"Bagaimana pun akulah yang terbaik di sini!" Zidane juga menyeringai tajam.
"Kau pikir, kau bisa melakukan segalanya?!" bentak Felix.
"Memang aku bisa segalanya, kenapa? Jangan iri begitu!" ujar Zidnae dengan senyum meremehkan ke arah Felix.
"Kau benar-benar membuat kesabaranku habis!" teriak Felix kesal.
"Aku--kan sudah bilang, menyerah saja. Biar aku saja, tapi kau malah ngotot!" kata Zidane.
Dia membolak-balikkan gergaji manual yang berada di tangannya.
"Aku bisa, ini bukan pertama kalinya bagiku!" Felix juga mengangkat palunya dan mengacung-acunhkan ke arah Zidane.
"Kalau begitu lakukan dengan benar, kau benar-benar merusaknya sekarang!" ujar Zidane.
"Memang dipan ini sudah rusak, kenapa jika aku merusaknya sekalian!" Felix masih emosi.
"Apa karena rusak kau boleh membuangnya?
"Jangan mentang-mentang kau kaya dan bisa membeli apa saja, lalu kau bisa membuang sesuatu dengan seenaknya!
"Jika bisa diperbaiki, perbaiki dulu!" ujar Zidane sambil tersenyum ke arah Felix.
"Heisttttttt, aku tak bisa marah padamu jika kau tersenyum semanis itu," desah Felix.
Zidane tambah tersenyum dan kembali membungkuk, dia harus memotong papan-papan didepannya untuk memperbaiki dipan di teras Mbah Miyah.
"Orang yang disukai Nesa, apa itu kau?" tanya Felix.
Zidane berhenti sejenak, tapi dia tau dia tak bisa menjawab pertanyaan Felix itu. Jadi dia melanjutkan pekerjaannya.
"Kau harus baik padanya, jangan menyakitinya!
"Jika kau menyakitinya, tamatlah riwayatmu!" ancam Felix.
"Kenapa aku seperti bicara dengan kakak ipar?!" ujar Zidane.
"Woyyyy aku ini serius, jika sampai aku mendengar Nesa tak bahagia.
"Aku yang akan membunuhmu!" kata Felix.
Zidabe hanya tertawa mendengar semua ancaman Felix, dan Felix juga tak tahan untuk tak tertawa.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤