Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Rekan Kerja


__ADS_3

"Oyyyyy!"


"Ehhhh jurik, beleguk, kampret, kebo luuuu!" Gisna masih saja latah saat dikagetin.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanyaku bingung.


Semalam gadis sunda ini menelfonku berjam-jam sambil menangis jejeritan. Dia bilang pacar pilotnya selingkuh di depan matanya, tapi kenapa wajahnya jadi sumringah begini.


"Emang kenapa dengan wajahku?" tanya Gisna, sok dodoh.


"Ini bukan wajah-wajah orang patah hati. Tapi wajah orang jatuh cinta.


"Kamu balikan sama si pilot mesum itu lagi?!" bentakku.


"Enggak lah, aku nggak sebodoh itu Nesa. Kamu enggak perlu khawatir.


"Kali ini aku jatuh cinta pada pria yang tepat!" kata wanita aneh itu.


Meski aku tau Gisna itu adalah tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tapi ini adalah rekor, dia mendapatkan penganti penghuni hatinya sebelum 12 jam paska putus.


"Ayo kita pulang, aku harus mandi!" kata Gisna.


Dia langsung menarik lenganku, dia tarik sekuat yang dia mau.


"Aku dulu yang mandi!" kataku.


"Ok, kamu dulu. Hatiku sedang indah, jadi aku akan mengalah padamu!" ujar Gisna.


.


.


.


.


"Kenapa kalian berangkat kesini pagi sekali!" tegur seorang wanita berambut pendek dan berkacamata.


Wanita itu baru saja turun dari mobil SUV dengan seorang pria agak pendek dan bertubuh sedikit gempal.


"Dia menyeretku ke sini, saat mataku masih tertutup rapat!" kata Karis jujur.


"Jangan bohong kamu Karis. Kau bilang tak bisa tidur karena ini syuting outdoor pertamamu--kan?


"Karena itu aku bawa dia kesini. Maafkan aku penulis Lexza, aku tak minta ijin padamu dulu!" kata Felix.


Dia memang supel pada semua orang yang bekerja padanya. Bagi Felix tak ada yang lebih rendah atau tinggi di timnya. Bahkan dia tak pernah menikrarkan jika dia bos di sana.


"Karis kau baik-baik saja?" tanya Lexza pada Karis.


"Nggak papa penulis, aku baik-baik saja!" ujar Karis tersenyum senang.


"Aku tak baik-baik saja Lexza, aku lapar!" kata Felix.


"Ya ampun ini jam berapa, kenapa kau belum sarapan. Bagaimana kalau kamu pingsan Felix?!


"Tubuhmu itu besar, siapa yang mau ngotong jika pingsan?" ledek penulis Alexza.


"Kau memang kejam Lexza, tapi kenapa hanya kejam padaku???" teriak Felix.


Karena pria itu ditinggal sendiri, hari ini adalah memgunjungi beberapa tempat untuk tempat syuting. Jadi penulis sutradara dan asisten sutradara serta bintang utama harus melihat ke lokasi.


Mereka harus menyatukan pikiran dan menciptakan ide-ide brilian.


"Kau bilang sudah menemukan pemandu yang cocok?!" tanya Lexza pada Felix yang sedang makan sarapannya.


"Sebentar lagi dia datang!" kata Felix dengan mulut penuh makanan.


JEGREKKKKKK


Pintu lestoran itu terbuka dan masuklah Zidane yang sudah mandi. Kaus oblong yang dilapisi kemeja, celana kargo dengan banyak kantung dan sepatu kets hitam menjadi outfit wajibnya.


"Siapa semua orang ini?" tanya Zidane pada Felix.


"Ini adalah timku!" kata Felix.

__ADS_1


"Tim? Food Vlogger punya  tim juga?" tanya Zidane.


"Siapa Food Vlogger?" tanya Alexza.


"Dia!" Zidane tentu saja menunjuk Felix.


"Dia sutradara!" kata asisten Felix yang bernama Rudi.


Zidane akhirnya memndang lama ke arah Felix yang masih makan dengan gaya bak orang mukbang.


"Tapi tampang dan kelakuannya tak pantas jadi sutradara!" gumam Zidane.


"Memang, tapi dia sutradara kami. Mau gimana lagi!" ujar Alexza lemas.


Penulis itu juga tak bisa berkata-kata dengan kelakuan rekan kerjanya itu.


"Tapi dia akan kerja keras kalau sudah mulai syuting, dia sudah 7 tahun menjadi sutradara!" kata Alexza.


"Wahhhhh, ternyata kau cukup tua?" tanya Zidane ke Felix.


"Dia kelahiran 1991, dia masih muda!" jawab Rudi.


"Kita seumuran kalau begitu, siapa namamu?" tanya Zidane ke arah Felix yang masih asik makan.


"Felix Alessio!" dan yang menjawab Alexza.


"Tunggu kalian timnya dia, apa juru bicaranya sih?


"Pertanyaanku kepadanya yang jawab kalian terus?!" ujar Zidane. Dia pura-pura kesal.


"Jika dia makan serakus itu dan bicara, dia pasti akan tersedak.


"Kami tak mau sutradara mati sebelum syuting di mulai!" ujar Rudi.


Sebilah sendok langsung melayang ke arah Rudi. Yang melempar tentu saja Felix. Sutradara itu sudah melotot dengan mulut mencucu karena penuh dengan makanan.


"Kalau seperti itu, kau mirip panda!" kata Zidane.


"Kau benar Mas Wakil dia mirip panda!" kata Lexza.


"Kau lupa padaku?" tanya Lexza.


Penulis itu membuka kaca mata tebalnya dan Zidane langsung ingat.


"Akhhhh kau penulis Alexza Kim, kenapa kau tampak berbeda hanya karena kaca mata?" tanya Zidane.


"Aku akan mirip Jenny BlackPink jika rambutku panjang!" kata Lexza pede sekali.


"Jika rambutmu panjang, kau lebih mirip kuntilanak Za!" kata Felix.


"Mau mati kamu!!!" teriak Alexza.


"Kau tau tempat mana saja yang akan kita buat syuting?" tanya Alexza pada Zidane.


"Mana aku tau?" Zidane mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Kita butuh rumah dengan halaman yang cukup luas.


"Suasananya harus asri dan seperti rumah nenek-nenek!" kata Alexza.


"Aku sudah menemukannya!" kata Felix.


"Benarkah? Rumah siapa?!" tanya Zidane.


"Rumah ayang mu!!! Ayang Miyah mu!" kata Felix.


"Dia nenek-nenek paling keras kepala di Desa Ngobaran ini.


"Aku tak yakin bisa merayunya!" kata Zidane.


"Aku tak akan syuting jika tak di rumah itu!" kata Felix.


"Kita lihat nenek-nenek paling keras kepala di Desa ini lawan sutradara paling keras kepala seIndonesia. Keras--an kepala siapa?" tanya Lexza.


"Sebaiknya kita ke sana sama-sama dan langsung ngobrol bersama.

__ADS_1


"Kita minta ijin bareng-bareng!" kata Zidane.


"Apa pun akan aku lakukan jika masalah rumah itu!" kata Felix.


Semua makanan di banyak piring di depan sutradara itu, sudah amblas masuk ke dalam perut datarnya.


.


.


.


.


"Apa ini???" Gisna mulai berteriak lagi sesampai dirumah.


Padahal dia baru saja menyalakan ponselnya yang mati karena kehabisan daya.


"Apa?" tanyaku yang baru saja selesai mandi.


"Pak Kepala Desa selingkuh dengan Guru Sekolah Dasar!" kata Gisna.


Dia menyandarkan tubuhnya di kursi ruang tamu, dan malah bersantai. Padahal kami harus berangkat bekerja.


"Kenapa kau masih saja ngurusin, hal nggak penting seperti itu?" tanyaku kesal.


"Apakah akan ada perceraian di Desa Ngobaran ini???" baca Gisna.


Tentu saja itu adalah artikel yang diliput langsung oleh Ibu Winda si atmin lambe turah Desa Ngobaran.


"Bahkan semut saja tak bisa menghindari mata Ibu Winda!" kata Gisna.


"Kau benar, dia akhirnya punya isu lain. Dan lupa akan isuku dengan Zidane!" kataku bahagia.


"Bener kamu nggak suka sama Mas Wakil?" tanya Gisna.


"Aku sudah bilang tidak, yaaa tidak!" tegasku.


"Padahal aku pernah tanya ke peramal, kalau kalian cocok. Jika menikah kalian akan hidup bahagia sampai tua" kata Gisna.


"Sejak kapan kau percaya sama ramalan!" tanyaku.


Kami bicara dari ruangan yang berbeda. Aku di kamarku sedang bersiap-siap, sementara Gisna masih rebahan di sofa.


"Peramal itu bilang calon suamiku sedang menjalani hubungan dengan wanita lain, dan dia benar.


"Coba kau pikirkan lagi! Siapa tau kau akan suka dengan Mas Wakil!" ujar Gisna.


Apa yang harus kusukai dari pria semacam Zidane.


Dia songong, tak tau sopan santun dan suka meledekku. Sifat manusia yang paling kubenci, semua ada pada di diri pria itu.


.


.


.


.


Siapa yang bisa merubah takdir???


Tak ada!


Jika kau merubahnya itu akan kembali ke titik awal lagi.


Jadi nikmati hidupmu, dan berusaha saja pada sesuatu yang kau yakini.


Karena takdir juga memberi petunjuk pada pemiliknya.


Petunjuk itu hanya akan muncul di hati pemilik tarkdir itu sendiri. 


___________BERSAMBUNG__________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2