
Aku duduk didekat Zidane. Wajahnya masih sayu dan pucat, tapi aku mau mendengarnya bicara terlebih dahulu.
Karena rasa sakit di hati akan berkurang setengahnya, jika kau menceritakannya. Dan aku ingin mengurangi rasa sakit di hati pacarku itu.
"Saat itu aku mahasiswa baru di Universitas Teknik UI. Aku tinggal di asrama kampus, karena aku bukan dari keluarga yang berada.
"Teman sekamarku adalah pria yang lebih tua dariku, namanya Danu Wicaksono.
"Dia mahasiswa yang baru masuk lagi setelah cuti cukup lama," Zidane memandang lurus ke depan.
Matanya yang bengkak dan merah itu masih sembab. Dia pasti merasakan rasa sakit yang amat dalam.
"Kak Danu adalah salah satu menejer di Kazu Elektronik saat itu, dia juga anak angkat ayahnya Dokter Kenma.
"Kami menjadi semakin dekat setiap harinya, dia merayakan ulang tahunku. Bahkan mengadakan pengajian untuk memperingati hari kematian kakekku di asrama," Zidane menghela napasnya.
Dadanya pasti sesak karena menginggat masa-masa itu.
"Setelah kematian kakekku, aku baru merasakan punya keluarga lagi hari itu.
"Aku akrab dengan Kenma dan keluarga besar mereka, serta anak dan istri Kak Danu," Zidane menyeka air matanya yang mulai menitik ke pipinya.
"Setelah lulus aku bekerja di bidang dan perusahaan yang sama dengan Kak Danu.
"Kami menciptakan beberapa produk baru untuk Kazu Elektronik. Sampai aku menjadi Menejer utama di bagian pengembangan produk Kazu Elektronik.
"Sementara Kak Danu sudah menjabat sebagai wakil direktur saat itu!" Zidane mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Apa Zidane ikut andil dalam kebangkrutan perusahaan ayahnya Dokter Kenma.
"Semua seketsa dan informasi produk yang kami buat bocor, tepat sebelum rapat pemegang saham diadakan.
"Seseorang dari Menejemenku pasti telah menjual informasi itu ke perusahaan Hendarto Grup.
"Karena perusahaan itu meluncurkan produk-produk yang sama persis seperti produk yang kami buat sehari sebelum produk kami launching.
"Aku dan Kak Danu berusaha mencari orang itu, tapi saat kami menemukan orang itu.
"Di perjalanan ke tempat pelaku itu, kami mengalami kecelakaan.
"Kak Danu meninggal di tempat dan aku selamat!" kata Zidane.
"Aku tak mengerti kenapa aku yang selamat, kenapa bukan Kak Danu???
"Andai aku lebih teliti dan tak mudah percaya pada orang, mungkin informasi itu tak akan bocor!" ujar Zidane.
Suaranya sudah mulai berat, dan isakannya semakin keras. Kudekatkan tubuhku ke arahnya, kupeluk dia.
"Menangis--lah, kau boleh menangis hari ini. Menangis--lah sepuas hatimu!" kataku.
Zidane akhirnya menangis keras di pelukanku. Dia seperti sedang mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya.
Semua itu memang berat, apa lagi saat kita harus kehilangan orang terkasih kita.
Aku lega akhirnya aku mengerti apa yang sedang menimpa pacarku, dan aku bisa menerima semua kesalahannya di masa lalu itu.
Karena semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi kita sebagai sesama manusia tak berhak untuk menghakimi mereka.
Zidane mungkin bersalah dalam khasus itu, tapi dia berusaha berubah. Dia berusaha menjadi lebih baik, dan aku tak bisa menghalanginya. Aku harus mendukungnya, karena aku adalah pacarnya.
__ADS_1
.
.
.
.
Felix dan kru produksinya sudah kembali ke Jakarta, tapi pikiran Felix masih di Ngobaran.
Dia memikirkan banyak hal saat ini, pandangannya mungkin sedang mengawasi Vidio hasil rekaman krunya. Tapi dia tak bisa fokus pada layar komputernya.
"Bukankah, lebih baik bagian ini diputar di akhir!" kata Alexza yang duduk di dekat Felix.
Tapi Sutradara itu tak menjawab usulan penulisnya. Dia malah sibuk dengan pikiran lain di dalam otaknya.
"Felix!" teriak Alexza.
"Apppppaaa?" Sutradara itu pasti kaget.
"Pulanglah, dan istirahat. Jangan membuatku merasa seruangan dengan mayat hidup!
"Biar aku yang urus ini!" ujar Alexza.
Penulis itu tau saat ini kondisi Felix sedang tak baik. Sutradara tampan itu baru saja patah hati dan malah bertemu pembunuh kakak iparnya. Yang paling parah pembunuh itu adalah Zidnae, orang yang paling dia kagumi akhir-akhir ini.
"Apa nggak papa?" tanya Felix.
"Enggak!!! Pulang sono!
"Tenangin pikiran, besok kamu harus sehat!" kata Alexza.
Sutradara beken itu segera mengambil ranselnya dan pergi dari sana. Dia ingin menemui seseorang, yaitu kakak sepupunya. Perempuan yang dulu diperistri oleh Danu Wicaksono.
Perjalanan Felix ke rumah sepupu perempuannya itu tak begitu memakan banyak waktu. Karena Melinda sepupunya itu tinggal tak jauh dari area kantor TV tempat Felix bekerja.
"Paman!" suara munggil yang lucu menyambut kedatangan Felix.
"Hallo, Jujuuuuuu!" gadis kecil berusia lima tahun itu segera berhambur kedalam pelukan Felix yang sudah berjongkok di dekat pintu masuk rumah mewah itu.
"Ada angin apa? Kau kesini saat proses acaramu sedang berlangsung?" tanya Melinda.
Wanita paruh baya itu menyambut adik sepupu dengan akrab.
"Kakak, ada yang ingin kutanyakan!" kata Felix.
Wajah jenaka Sutradara itu langsung berubah serius. Padahal Juju keponakannya yang dia gendong sedang mencium pipi Felix.
.
.
Mereka telah berada teras belakang rumah Melinda. Didampingi masing-masing secangkir kopi hitam yang hangat dan beberapa cemilan. Sementara Juju sedang di kamarnya bersama pengasuhnya.
"Ini tentang mendiang Kak Danu!" kata Felix.
Raut wajah Melinda seketika mengeras, dia tampaknya masih mempunyai rasa tak terima dengan kematian suaminya itu.
"Kenapa kau mengungkit hal itu?" tanya Melinda, matanya sudah memerah.
__ADS_1
"Zidane Sebastian, orang yang semobil dengan Kak Danu saat kecelakaan itu!
"Apa kakak masih menyalahkannya?" tanya Felix.
"Dulu aku sangat membencinya, tapi aku tau dia tak salah apa pun!
"Aku hanya butuh seseorang untuk disalahkan!
"Aku juga penasaran, dia dimana. Aku ingin melihatnya!
"Dia sudah seperti adik kandung Mas Danu, melebihi Kenma!" kata Melinda.
"Dia di Jogja. Dikampung halamannya!" kata Felix.
Wajah mengeras Melinda sudah kembali tersenyum, meski rasa sedih masih menjalar di setiap sel tubuhnya.
Felix juga mengatakan apa yang terjadi dengan Zidane dan Kenma di Ngobaran. Melinda tampaknya sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi wanita itu hanya butuh seseorang untuk menjadi kambing hitam.
Saat itu Juju masih sangat kecil dan dia harus kehilangan suami tercintanya. Perusahaan keluarga suaminya juga bangkrut dan dia tak punya sandaran saat itu. Jadi Melinda hanya bisa menyalahkan Zidane, atas kemalangan yang dia terima.
.
.
.
.
"Ini mustahil!" ujar Gisna.
Bu Bidan itu baru saja membaca sebuah artikel di internet.
"Ada apa?" tanyaku yang baru pulang dari rumah Zidane.
"Kamu harus baca ini!" Gisna memberikan ponselnya padaku.
"Ini???" aku tak percaya.
"Jadi selama ini, Dokter Kenma dekat dengan Hendarto Grup. Hanya untuk balas dendam?" tanya Gisna pada Nesa yang masih membaca artike online itu.
"Apa Hendarto Grup akan bangrut?" tanyaku.
Kasus pencurian data produk dari beberapa perusahaan lain termasuk Kazu Elektronok lima tahun yang lalu. Kasus suap dan pemakaian barang terlarang oleh putri semata wayang Hendarto, menjadi tuduhan dengan bukti yang akurat. Sedang menyerang Hendarto Grup.
"Entahlah!" ujar Gisna.
Aku tak peduli dengan apa pun saat ini. Tapi mencuatnya khasus ini membuatku juga lega. Paling tidak Zidane tak akan sedih lagi, karena kebenaran akhirnya terungkap juga.
"Ternyata Dokter Kenma memendam begitu banyak dendam.
"Pantas dia pendiam dan dingin seperti lemari es!
"Jika aku jadi dia, mungkin aku sudah tak sanggup hidup di dunia ini!" ujar Gisna.
"Tapi kenapa dia menyalahkan Zidane. Bukankah dia tau akan semua fakta ini?" tanya Nesa pada Gisna.
Gisna hanya bisa mengerakkan kedua pundaknya ke atas, karena dia sendiri juga tak tau. Alasan apa yang membuat Dokter Kenma begitu menyalahkan Zidane.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤