
Begitu--lah kasih sayang seorang ibu, bagikan sang surya yang menyinari dunia. Dia hanya butuh sedikit perhatian di masa tuanya. dan di saat orang tua kita menjadi tua, para anak-anak akan mengejar cita-cita mereka. Memperkaya diri dan hanya memikirkan keluarga mereka sendiri.
Tanpa sadar mereka lupa akan asal-usul mereka, ambigu dan hampir terhapus. Bahwa manusia lahir dari seorang ibu, bahwa mereka ada karena orang tua mereka. Bersyukurlah dengan orang tua yang panjang umur, dan sadarilah mereka itu adalah kebahagiaan yang kalian hapus tanpa sadar.
Menjauhi sang surya yang menyinarimu, apa kau tak takut menjadi beku dan tak punya hati. Jagalah hatimu tetap hangat dengan memeluk ibumu kadang-kadang.
.
.
.
.
"Oyyyyy!" bentak Zidane, dia muncul entah dari mana.
Jantungku hampir melompat keluar dari dadaku, nafasku tersengal, dan kepalaku agak pusing.
"Kenapa, kamu sakit?" tanya Zidane.
"Kaget tau!" bentakku.
Tubuhku masih menunduk dan kuatur laju napas dan detak jantungku.
"Baru pulang?" tanyanya, dia dari tadi tersenyum terus. Apa dia kesurupan?
"Udah tau tanya!" jawabku ketus, aku melanjutkan jalanku.
"Biar kuantar pulang!" katanya.
"Enggak perlu! Kamu mau ke rumah Mbah Miyah--kan?
"Yaaaaa udah sono!" usirku.
"Iya sihhhh, tapi aku akan mengantar kamu pulang dulu. Bukankah kamu takut gelap?" goda Zidane.
Tuhhhh--kan apa kubilang, dia pasti akan mengodaku dengan kejadian kontak fisik tak lazim itu.
"Enggak!" ujarku, dengan nada kesal.
Biar dia tau, kalau aku tak suka dia mengungkit hal itu.
"Kalau kamu nggak takut gelap, berarti kau suka sama aku?" tanya Zidane dengan wajah meledek penuh senyum.
Kalian tau betapa manisnya senyum Zidane? Manisnya setara dua ton gula pasir. Jadi meski aku ingin marah padanya, aku tak bisa.
Jadi aku hanya meliriknya dengan tatapan penuh kebencian. "Kau....!" aku ingin mengumpat satu kata kasar saja padanya tapi dia segera menghentikannya dengan ucapannya.
"Yaaaaa, kamu nggak takut gelap dan juga nggak suka sama aku!!!
"Tapi makasih yaaa!" katanya.
"Makasih buat apa?" tanyaku bingung.
"Udah mau datang ke rumah Mbah Miyah dan membujuknya, dia mau oprasi--kan???
"Itu pasti karena kau mengunjunginya, dan membuatnya merasa penting!" ujar Zidane.
"Jadi dari tadi kamu nguping?"tanyaku tak percaya, kenapa dia tak langsung nyamperin kami tadi. Malah nguping.
Zidane hanya mengangguk pelan dengan senyum manisnya. Rasanya aku bisa minum kopi pait tanpa gula jika didepannya.
"Perkataanmu benar, meski jahat!
"Jangan pelit pada dirimu sendiri, karena uang berlimpah itu tak penting bagi seorang anak.
__ADS_1
"Tapi kehadiran orang tua, itu yang paling penting bagi seorang anak," kata Zidane.
Entah kenapa kalimat yang barusan dia katakan terdengar seperti petuah yang amat agung.
"Nesa, kamu itu orang yang baik!" ujar Zidane.
Aku hampir tersipu tapi kutahan.
"Enggak, aku bukan orang yang baik!" kataku.
"Tapi bagiku kau baik!" ujarnya lagi.
Perkataan segitu saja sudah hampir membuatku melayang di angkasa.
"Tapi kau pernah bilang aku orang yang picik!" ungkitku.
"Kauuuu orang baikkk yang picik!" katanya, dia mencoba membalik fakta.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Wahhhh Pak Kepala Desa keterlaluan, kenapa lampu di gang ini tak di ganti-ganti!" ujar Zidane dengan nada yang kasar.
Lampu di gang ke arah rumahku itu memang sudah mati sekitar seminggu yang lalu. Sehingga suasana di dekat situ amat sangat kelam dan mencekam.
"Kau bisa mengengam tanganku jika kau takut!" ujar Zidane. Dia mengulurkan tangannya sebelum kami melewati area tanpa penerangan itu.
Aku hanya menjawab dengan pandangan tak suka. Aku kesal sekali padanya, kenapa dia meledekku terus.
"Tunggu biar kunyalakan senter ponselku dulu!" katanya.
Dia berjalan mengikutiku sambil mencari ponselnya di saku celananya. Aku masih tak peduli dengannya dan terus berjalan, tapi tanpa sengaja aku malah menginjak sesuatu.
"Wawwwwggggg!" bunyi sesuatu itu.
"Apa ituuuuu....apa tadiii!" kataku ketakutan.
"Hanya anak kucing!" kata Zidane.
Aku pun melepas pelukanku darinya dan ku pandangi sekitar pijakanku. Karena senter di ponsel Zidane sudah menyala.
"Hampir saja, untung jantungku kuat!" desahku sambil kuelus-elus dadaku agar tenang.
Zidane hanya diam saja, aku melihat sesuatu di wajahnya, wajahnya terlihat memerah.
"Apa kau demam?" tanyaku.
"Enggak, ayo cepat!" kata Zidane dia berjalan duluan sekarang.
"Kita sudah sampai!" katanya.
Tanpa terasa memang kami sudah berada di depan rumahku.
"Trimakasih!" kataku.
"Sama-sama!" jawabnya, dia langsung pergi begitu saja. Bahkan tanpa melihat ke arahku.
Pria sinting itu, kenapa lagi dia.
.
.
.
.
__ADS_1
"Pak ke apartemen Mutiara yaaa!" kata Gisna.
Gadis sunda yang amat angun dan lemah lembut itu naik taksi dari setasiun kereta menuju apartemen pacarnya.
Wajahnya bahagia, senyumnya terus mengembang tak kala netranya memandang cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
Bayangannya sudah melalang buana, akhirnya cinta mereka akan segera bersatu di pelaminan. Menjadi berkah dalam hidup mereka.
"Turunkan saya di super market M aja ya, Pak!" ujar Gisna.
Tiba-tiba saja gadis itu memikirkan tentang memasak untuk calon suaminya itu. Dia begitu bahagia dan hanya memikirkan hal-hal yang indah, dia tak mau malam ini dia habiskan untuk bertengkar dengan pacarnya.
Meski Gisna sudah curiga sejak lama, dia yakin pacarnya itu selingkuh. Tapi Gisna masih mencoba percaya padanya.
Pakaian wanita lain di apartemen pacarnya,pacarnya yang sulit dia hubungi akhir-akhir ini. Sampai pernah salam menyebut namanya ketika bercinta. Itu keterlaluan, tapi Gisna bahagia. Akhirnya Juna melamarnya, dan itu lebih dari cukup untuknya.
Setelah berbelanja banyak kebutuhan dapur Gisna langsung pergi ke apartemen Juna. Juna bilang akan mendarat satu jam lagi, dan bisa pulang sekitar satu jam setelah mendarat.
Gisna berencana akan memasak dan membereskan apartemen calon suaminya itu.
Tanpa curiga dan rasa tak nyaman. Gisna masuk kedalam apartemen calon suaminya, Gisna tentu saja tau apa kunci sandi pintu apartemen calon suaminya.
Pemandangan pakaian berserakan langsung tersuguh di depan Gisna. Suara lenguhan menahan nikmat dunia terdengar nyaring bak musik melo yang syahdu.
Gisna segera membuka pintu kamar apartemen itu.
Calon suaminya sedang mengungkung gadis lain dengan hujan kenikmatan. Tangannya gemetar dan wajahnya memerah.
Saking asiknya dua sejoli yang sedang mengoyang kasur dengan penuh irama itu tak sadar dengan kehadiran Gisna.
Sampai Gisna menuang udang es yang dia beli kekepala Juna.
Akhirnya mereka sadar ada wanita lain di tengah pergelutan birahi mereka.
"Siapa kamu?!" teriak wanita yang berada di bawah tubuh Juna.
"Bukan siapa-siapa, aku hanya malaikat maut yang sedang lewat!" kata Gisna santai.
Meski perkataannya santai, amarahnya sudah memuncak.
"Si Anyeng! Gelo sia! Teu geblek otak sia! Saraf sia pegat, lin? Hate sia fungsi, lin, kebo!" Maki Gisna.
Sambil melempar ikan, dan berbagai jenis bawang, garam dan penyedap rasa kearah calon suaminya dan wanita itu.
"Gisna sayang, sabar sayang! Aku bisa jelasin semua...sayang!" rengek Juna.
"Aku ini pacarnya, kamu siapa! Berani sekali kau menerobos masuk!" wanita telanjang itu masih berteriak.
"Mbak kalau punya otak buat mikir!!!
"Jika saya bukan siapa-siapa keparat ini, apa saya bisa masuk kesini?!
"Sayang ayo kita menikah, kau hanya satu-satunya wanita yang kau cintai!
"Dia sudah mengajakku menikah!!!" teriak Gisna dengan penuh amarah.
"Apaaaa???
"Jadi kau menipuku!" wanita telanjang itu ternyata lebih beringas dari pada Gisna.
Entah berapa kali pukulan dan tendangan yang di hantamkan perempuan telanjang itu pada calon suami Gisna, sampai pria keparat itu terkapar di lantai dengan banyak luka lebam.
___________BERSAMBUNG__________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1