
Visual Zidane Sebastian
"Kenapa kamu selalu muncul di depanku?" tanyaku dengan nada kesal.
"Saya kesini bukan untuk muncul di depan anda Bu Dokter." kata Zidane dan nada songongnya dia pasti sangat tersingung dengan bentakanku tadi.
"Saya tau kok!" kataku, setelah menurunkan tensi emosi yang dengan tiba-tiba menguasai otakku.
"Kelihatannya anda punya masalah?" tanya Zidane, dia kembali ramah tamah.
"Apa tidak ada penginapan lain selain tempat semalam?" tanyaku.
"Ada, tapi di pusat kota!" jawabnya.
"Kurasa aku harus pergi dari kota ini sekarang!" kataku bertambah kesal.
Aku segera menaiki mobilku dan meninggalkan tempat itu secepat jet. Aku harus memilih tempat yang tenang, aku harus menyusun rencana untuk hidupku. Entah kenapa aku merasa tak bisa tenang jika di depan Zidane itu, aku selalu saja ingin marah ketika melihat wajah ademnya itu. Aneh sekali.
Bagaimana jika hidupku benar-benar hancur.
Kenapa akhir-akhir ini otakku tak bisa berfikir dengan normal.
Kenapa aku harus berada di situasi yang mengerikan ini.
.
.
.
.
Aku kembali ke Ibu Kota untuk menemui Gisna yang berada di apartemennya. Tak seperti biasa gadis sunda itu terlihat sangat lusuh dan malas.
"Jadi kamu benar-benar dipecat sama Dokter Kenma?" tanyaku pada Gisna.
Gisna adalah salah satu Bidan yang bekerja di Rumah Sakit Hendarto.
__ADS_1
"Iya!" desah Gisna kesal.
"Ayo kita ke Rumah Sakit!" kataku.
"Ngapain?!"
"Ayo kita bunuh saja Si Kenma keparat itu!" gerutuku.
"Udahlah!"
"Udah kamu bunuh tuh kutu kampret?!" tanyaku makin membabi-buta.
"Aku tau kamu hanya berani ngomong begitu di sini, kalau di depan Dokter Kenma kamu pasti hanya bisa memohon." ternyata Gisna sangat mengenalku dengan baik.
"Kepalang hidup kita berantakan!" desahku.
Kulempar tubuh rampingku ke sofa kuning ruang tengah apartemen Gisna.
"Gimana kalau kita buka klinik di daerah terpencil!" usulku ngawur.
"Dimana?" tanya Gisna yang ternyata malah antusias.
"Di tempat yang cukup jauh, supaya Hendarto Grup tak dapat mengendus keberadaan kita." kataku. Tapi di otakku sudah terfikirkan sebuah tempat.
"Di Kalimantan, atau Papua?" Gisna mencoba menebak.
Dia benar-benar sangat antusias karena dia sudah duduk di sofa yang sama dimana aku berbaring.
"Ayoooo, aku juga bosan hidup begini terus!" kata Gisna dengan wajah yang berseri-seri.
Aku tak tau apakah gadis sunda itu bisa tinggal di tempat itu dengan nyaman. Kenapa aku malah punya ide gila semacam ini, aku kan tak punya pengalaman bekerja sebagai Dokter di tempat pingiran semacam itu. Bagaimana jika semua jadi semakin hancur nantinya.
Tapi harga diriku ini seperti diinjak-injak oleh Dokter Kenma yang punya tameng Hendarto Grup. Dia seperti meledekku dengan melempar kotoran ke wajahku. Jelas-jelas apa yang kugunjingkan dengan Gisna dan Dokter Yosi di cafe itu adalah sebuah kebenaran. Tapi dengan sombongnya dia malah memecat Gisna dan mungkin Dokter Yosi juga dipecat.
Apa karena dia bisa bertunangan dengan tank tentara Amerika itu dia merasa sudah berada di atas angin. Dokter berandal itu harus kuberi pelajaran apa pun yang terjadi, dia harus faham jika kedudukan itu tak akan mejamin hidupnya kelak.
Akan kupastikan Dokter Kenma memohon padaku sambil menjilat jempol kakiku. Tapi apa yang dia mohon dariku...
Apa pun lah, empet banget atiku saat mendengar kelakuannya yang jauh dari tampang gantengnya itu.
.
.
Malam ini aku tidur di rumah Gisna kami minum-minum sampai mabuk dan melakukan apa pun yang kami inginkan.
Kami merayakan kalau kami sudah menjadi penganguran, dan tanpa kami sadarai kami melewati batas toleransi manusia.
Jangan mengunggah aib mu di internet, atau itu akan menjadi aib seumur hidupmu.
__ADS_1
Karena jejak internet tak dapat dihapus dengan mudah.
Tanpa sengaja malam itu kami melakukan *l*ive Instagram saat sedang mabuk, di sana kami mengatakan semua yang ingin kami katakan.
Hal yang sudah runyam kini bertambah runyam tanpa kita sadari.
"Kurasa kita harus benar-benar pindah Gis." kataku lemah.
Aku baru saja bangun tidur dan menyadari apa saja yang telah kami lakukan semalam. Diriku yang masih berantakan itu hanya bisa terduduk sambil mengelus-elus layar ponselku di atas kasur tidur Gisna yang empuk.
"Bawa gue ke neraka Nesaaaa!!!" teriak Gisna yang ternyata juga sudah memeriksa ponselnya.
Dia pasti sudah membaca semua komentar di kolom. Komentar yang kebanyakan di isi oleh Dokter-Dokter terkenal itu seperti sebuah cambukan agar kami pergi ke ahirat saat ini juga.
Dengan bodohnya aku sudah menyulap jalan hidupku yang indah menjadi runyam hanya dengan waktu semalam saja. Kupikir diriku yang begitu pintar menahan diri, akan selalu berada di dalam zona nyamanku.
Aku Si Princess Vanesa Intan yang lembut dan berbudi luhur bahkan bisa mengumpat dengan banyak kosa kata yang mengerikan ketika mabuk. Ternyata ketika aku kelepasan aku bisa menjadi orang yang mengerikan sekali, apakah aku salah jika aku menahan semua di dalam dadaku.
Karena terlalu banyak yang kusimpan di dalam sini akhirnya tak muat lagi dan meledak menghancurkan semua usahaku selama ini.
Satu-satunya harapan agar aku bisa bangkit lagi adalah menghilang sejenak dari pusat kota, aku harus menghilang kemana.
"Mari kita ke desa terpencil itu!" kata Gisan dengan semangatnya.
Kenapa ini bocah tak tau apa yang sedang kita hadapi, kenapa dia selalu saja memutuskan jalan hidupnya dengan sangat mudah. Kenapa Gisna tak mau berfikir sedikit saja tentang masa depan hidupnya, hidup di daerah terpencil itu pasti sangat mengerikan.
"Bagaimana kalau kita pergi ke petinggi Hendarto Medis, kita minta maaf dengan tulus!" usulku.
"Apa kamu enggak malu?" tanya Gisna dengan tampang yang awut-awutan karena aku yakin dia juga frustasi.
"Malu sih!" desahku kesal.
"Ingat Dokter Nesa, apa yg kita katakan di live itu adalah kenyataan. Kita nggak perlu takut!
"Hendarto Grup tak akan menuntut kita karena hal ini. Mereka pasti, hanya akan berusaha menghapus vidio itu.
"Lalu membunuh kita berdua, jadi kita harus cepat menghilang sebelum mereka menemukan kita!" jelas Gisna.
"Kampret, ternyata omongan kamu bener!" kataku akhirnya.
.
.
Aku kembali pergi ke desa pesisir itu tanpa persiapan apa pun, aku pergi ke sana karena Gisna ada urusan penting dengan keluarganya di Bandung.
Ini adalah sebuah gebrakan yang bagaikan sunami dalam hidupku. Akhirnya aku keluar dari zona nyamanku, aku tak punya persiapan apa pun dan pengalaman. Aku hanya modal nekat dan yakin.
Rasanya aku ingin menangis saat ini, tapi aku akan bersama Gisna si bunglon itu. Jika aku tak bisa menghadapi semua ini, Gisna pasti bisa. Dia itu seperti manusia amfibi, dia akan cocok hidup di mana pun.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan diriku???