Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Awal petaka


__ADS_3

Hari semakin malam, tapi Ibu Winda masih berjalan dengan seorang wanita. Mereka baru saja mengunjungi Nenek Miyah. Semua orang akan menjenguk warga yang sakit, begitulah rukunnya orang-orang di desa.


Mereka saling peduli meski bukan sanak, bukan saudara. Tapi mereka akan merasa sakit jika tetangga sakit, dan akan senang jika tetangganya senang.


"Bu Desi, lihat itu!" bisik Ibu Winda yang sudah mendorong tubuh ibu Desi untuk menunduk.


Mereka berdua sedang melintasi rumah dengan halaman yang cukup besar, dan mereka memandang pemandangan yang tak seharusnya mereka pandang.


"Bukankah itu Pak Kades?" tanya Ibu Dewi.


"Diem ya Bu Desi, kita pasang kuping.


"Kita harus selamatkan Ibu Tari, dari srigala berbulu kuda seperti Pak Kades itu!" celoteh Bu Winda dengan nada lirih tentunya.


"Serigala berbulu domba Bu Winda!" Ibu Desi membenarkan pepatah yang diucapkan oleh Ibu Winda.


"Sama aja laaaahhh, domba sama kuda kakinya sama-sama empat--kan?" Ibu Winda mulai membela dirinya yang jelas-jelas salah.


"Iya aja--lah dari pada panjang urusannya!" batin Ibu Desi.


.


.


"Kenapa kau kesini, sudah kubilang! Jangan pernah kerumahku!" bentak Pak Kades pada wanita muda yang kini berdiri di kediaman peribadinya.


"Aku rindu kamu Mas!" wanita cantik berambut panjang itu melangkah maju, dia ingin memeluk tubuh kekasih gelapnya itu.


"Kau tau bagaimana marahnya istriku, aku tak ingin dia menceraikanku!" kata Pak Kades.


Meski pelukan hangat Ratih kini telah merengkuh tubuhnya, lelaki itu masih saja khawatir tentang rumah tangganya dengan Tari.


"Malah bagus Mas! Setelah cerai kita--kan bisa langsung nikah sah!" kata Ratih.


"Aku tak mau bercerai dari Tari, ingat itu baik-baik!" ujar Kepala Desa.


Wajahnya kini tegas tapi bernuansa kejam. Pandangannya menyapu seluruh wajah Ratih yang manis dan cantik. Seketika lelaki bejat itu menelan saliva di dalam kerongkongannya.


Hanya dengan melihat wajah manis Ratih, syaraf kelelakiannya Pak Kepala Desa itu langsung menegang.


"Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" tanya Pak Kepala Desa.


"Kemana? Ke rumah istrimu?!" tanya Ratih.


Kelemah lembutan sang bidadari pun luntur, Ratih merasa dipermainkan oleh kekasih gelapnya itu. Dia tak akan menyangka jika Pak Kades akan segetol itu untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Ibu Tari.


"Kenapa kita harus kesana?


"Kita cari tempat lain, untuk bersenang-senang!" ujar Pak Kades dengan senyum mesumnya.

__ADS_1


Lelaki paling top di Ngobaran itu seakan tak malu dengan usia dan pangkatnya. Orang yang harusnya memberi teladan yang baik pada warganya itu malah memiliki kebiasaan yang paling bejat.


"Bersenang-senang, ndasmu mbledos iku.


"Kau selalu tak mau bercerai dengan istrimu!


"Tapi kau suka padaku? Kau pikir aku ini wanita apa?


"Aku ini seorang guru, Marwan! Apa kau pikir aku tak malu jika nanti semua orang tau hubungan kita sebelum ada pernikahan???


"Semua orang akan menyebukku P.elakor, lalu apa aku bisa mengajar lagi, jika hal itu terjadi?!


"Coba mikir otakmu itu!!!" teriak Ratih.


Mereka berdua telah menjalani hubungan gelap itu lebih dari setahun, tapi baru kali ini Ratih berteriak seperti itu. Guru yang menajar di SDN 1 Ngobaran itu menunjukkan taringnya setelah sekian lama.


Meski Ratih bersalah telah menjalin hubungan terlarang dengan suami orang, tapi Ratih mau menjalin cinta dengan Marwan juga karena rayuan gombal Si Kepala Desa. Iming-iming akan  di jadikan istri sah, setelah menceraikan Ibu Tari yang kasar. Membuat Ratih tergiur dan mau menunggu sampai setahun.


Tapi kenyataan tak selalu seindah bayangan, setelah satu tahun menjalin kisah cinta panas yang terlarang itu. Ratih juga tak mendapat kepastian apa pun, dia merasa dibodohi oleh Marwan. Tapi dia masih berharap, saat ini rumah tangga Marwan sedang keruh. Jadi dia akan memperkeruh dan perceraian akan segera terjadi di rumah tangga Marwan.


"Tapi jika aku bercerai dengan istriku saat ini, pemilihan depan aku tak bisa mencalonkan diri lagi!" kata Marwan.


"Cepat ceraikan istrimu, atau aku akan bilang ke semua orang...,"


"Jangan Ratih sayang, dari pada mikirin itu, bagaimana kalau kita nganu-nganu saja!" ujar Marwan dengan nada buaya merayu.


"Nganu-nganu saja dengan istrimu yang gendut itu, jangan temui aku lagi!" kata Ratih.


"J.lang itu,!" desis Marwan kesal.


Saking kesalnya Pak Kades itu sampai menendang batu besar di sebelahnya.


"Akkkkkk, jancokkkk, asuuuu, bajingan, siapa yang narok batu di sini malam-malam begini!" maki Marwan pada seongok batu tak bersalah itu.


.


.


.


.


Gisna berdiri terdiam di depan terminal, wajahnya bengkak karena menangis seharian. Hatinya masih saja merasa sakit meski dia sudah menagis keras-keras di dalam bus menuju Jogja.


Gisna terduduk di trotoal, kenapa dia tak memperhitungkan waktu. Dia terlalu pagi sampai di terminal, bahkan tak ada taksi yang melintas di sana.


Wajah lusuh dan layunya tertekuk dan mulai mewek lagi.


Karena merasa tak akan ada orang yang memperhatikannya, Gisna pun menangis lagi di sana.

__ADS_1


Tapi itulah takdir, kadang ada yang menunggu sampai bosan. Tapi ada yang datang sangat cepat, sampai kau tak menyadari bahwa takdirmu di depan matamu.


"Nona Gisna!" panggil seseorang.


Gadis yang masih asik dengan tangis kesedihannya itu pun mendongak. Dengan mata sembabnya dia melihat wajah yang terlihat tak asing itu.


Pria itu gagah, tampan, sopan dan berseragam polisi. Apa dia mimpi, kenapa ada polisi berkeliaran sebelum subuh begitu.


"Apa anda kenal saya?" tanya Gisna pada Pak Polisi itu.


"Nama saya Irwan, saya sudah tiga kali ke klinik bersalin Intan di desa Ngobaran!" kata Pak Polisi itu dengan nada yang tegas.


Yaaaa dia aparatur negara yang selalu tegas, tapi apa iya dia harus tegas pada wanita lemah yang menyedihkan sepertinya. Pikir Gisna, hingga gadis itu menangis lagi.


"Kenapa?! Apa menangis di pinggir jalan, juga melangar hukum?" Gisna masih terisak.


"Tidak, tapi nona...,"


"Apa kau tau, aku baru saja mengalami hari yang berat! Apa kau sebagai aparat yang kenal aku, membiarkan ini?" Gisna tambah mewek.


"Begini nona...,"


"Apa kau tau Pak Irwan!!!


"Calon suamiku, dia.... Dia selingkunh di depan mataku!


"Kau tau bagaimana perasaanku, kau tak akan tau!


"Orang tampan sepertimu mana pernah ditinggalkan, kau pasti tak tau--kan Pakkkk Polisi!" Gisna terus mengoceh dengan nada lebay yang mengebu-gebu.


"Bagaimana jika saya antar Ibu Gisna pulang!" tanya Pak Polisi. Akhirya lelaki yang agak kaku itu mendapatkan jarak untuk bicara.


"Kenapa?" Gisna langsung berhenti menangis.


"Rumah saya di Ngobaran, dan saya akan pulang ke sana!


"Ada baiknya, Ibu Gisna, pulang bersama saya! Karena lingkungan ini sangat bahaya" kata Irwan dengan nada tegasnya.


Bukannya langsung menjawab iya, Gisna malah menghela nafasnya dan berpikir.


"Hanya itu alasannya?" tanya Gisna, dia ingin memastikan lagi.


"Iya, hanya itu!" kata Irwan, masih saja bahasanya kaku dan formal sekali.


"Baiklah, jika anda memaksa!" kata Gisna, dia langsung berjalan ke arah mobil Pak Irwan dan langsung masuk di kursi penumpang depan.


"Saya tak memaksa, jika...," Irwan tak bisa mengatakan apa pun lagi.


Pak Polisi itu hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


__________BERSAMBUNG__________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2