
Kami berdoa di dua pusaran yang berdampingan. Yoshi Kazume dan Danu Wicaksono, pria dengan dua ras berbeda tapi satu agama. Nasrani.
Doa kami panjatkan dengan keyakinan kami masing-masing, sampai atau tidak doa-doa kami itu adalah urusan Sang Maha Kuasa pencipta alam semesta ini. Kami tak berharap banyak, tapi setidaknya doa kami bisa meringankan beban mereka di alam kubur yang gelap.
Aku tak ingin berceramah soal agama, karena aku bukan pakarnya.
Hari itu menjelang siang dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran dengan menu laut yang segar.
"Kenapa kita jauh-jauh ke sini hanya untuk makan kepiting?" tanya Zidane padaku.
"Apa kamu nggak suka?" tanyaku.
"Aku hanya malas saja, cara makannya sangat ribet!" ujar Zidane.
Tapi dengan sabar aku mengupas kepiting dan kuberikan dagingnya padanya. Dia memandangku dengan sorot mata kaget, karena dia memesan ikan bakar. Sementara kepiting asam manis ini aku yang pesan.
"Kok kaget begitu?!" tanyaku.
"Kenapa mengupas kepitingnya untukku, kau harus makan sendiri hasil kerja kerasmu!" kata Zidane.
"Apa kau tau, kau bisa mengukur rasa cinta pacarmu saat makan kepiting?!" kataku.
Aku mendengar hal ini saat masih kuliah, dan tiba-tiba aku jadi ingat saat dihadapkan dengan hidangan kepiting yang besar di sini.
"Aku baru tau hal semacam itu!" ujar Zidane dia terus makan dengan tangan tanpa sendok atau pun garpu.
Restoran ini memang bukan restoran yang mahal dan berkelas, jadi kelakuan makan yang berantakan seperti itu tak akan menjadi pusat perhatian orang.
"Karena makan kepiting penuh dengan usaha, maka banyak orang nggak suka makan masakan lezat ini.
"Tapi jika pasanganmu mau mengupas kulitnya, dan memberikan dagingnya padamu! Itu artinya!
"Dia sangat mencintaimu!" jelasku.
Aku memberikan lagi daging kepiting yang sudah kukupas ke piring pacarku itu. Dia berhenti makan dan melihat ke arahku dan tersenyum manis, karena terharu mungkin. Atau karena melihatku juga tersenyum kepadanya.
"Itu masuk akal!" ujar Zidane.
Dia lalu mengambil kepiting di piringku dan mengupasnya, lalu memberikan dagingnya padaku.
"Aku juga punya cinta yang amat sangat besar kepadamu, jadi aku bisa mengupas ratusan kepiting untuk kau makan!" kata Zidane.
Dia malah tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa?" tanyaku, wajahku sudah kesal.
"Enggak, untung kau cepat bertemu denganku.
"Kalau tidak kau pasti sudah ditipu banyak pria hidung belang!
"Bagaimana kau menilai cinta hanya dengan hal sederhana seperti itu?!" jelasnya.
Dia masih saja tertawa, padahal aku yakin wajahku sudah amat asam saat ini.
"Aku mencintaimu, sangat! Mungkin jika kau menyuruhku memindahkan gunung aku bisa!
"Asal di ijinkan Negara!" katanya dengan senyuman yang manis.
"Bagaimana caranya?" tanyanya.
"Tergantung gunungnya sebesar apa?!
"Meski butuh waktu, aku pasti akan memindahkannya dengan cara apa pun!" katanya.
Aku tak yakin dia serius, jadi mengajukan sebuah permintaan yang aneh.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau masih ingat kapal kakekmu yang terdampar di pinggir pantai depan rumahmu?" tanyaku.
"Iya!"
"Bawalah ke atas bukit, letakkan di tempat pertama kali kita ketemu!" kataku dengan nada gurauan.
Tapi dia segera terbengong-bengong melihatiku.
"Ok, kalau aku bisa apa yang akan kau lakukan untukku?" tanyanya.
"Kau perlu imbalan rupanya?" tanyaku.
"Enggak sih!" dia malah lanjut makan.
Dia tak menanggapi permintaan konyolku dengan serius--kan.
"Aku akan menikahimu di sana! Di dekat kapal kakekmu," kataku.
"Kau harus menepati janjimu!" katanya.
"Tentu saja!" kataku.
Tapi meski pun dia tak melakukan hal itu, aku juga akan tetap menikahi pria ini. Dimana aku bisa bertemu pria seperti ini, aku tak akan melepaskannya. Apa pun yang terjadi, aku akan menggenggamnya dan mengikatnya pada diriku.
Setelah makan kami lanjut jalan-jalan di mol.
"Kenapa kita di sini?" tanyanya.
"Bukankah bulan depan adalah hari ulang tahummu?" tanyaku.
"Lalu?" tanyanya.
"Aku akan membelikan hadiah untukmu!" kataku.
"Tidak perlu, kenapa kau membelikanku hadiah?" tanyanya.
Aku harus memaksanya untuk membeli baju baru. Bukan karena aku tak suka penampilannya. Tapi dia benar-benar sangat tampan ketika pakai jas, jadi aku ingin membelikannya sesetel. Jas yang mungkin akan dia simpan sampai mati, setelan jas yang akan mengingatkan dia padaku.
Aku harus membuatnya selalu ingat padaku dan kali ini aku akan membuat dia ingat padaku saat membuka lemari pakaiannya.
Kami masuk ke dalam sebuah toko, aku langsung memilih semua pakaian yang terlihat cocok ia kenakan. Hari ini aku ingin melihat dia dengan berbagai gaya formal, dan melupakan sejenak gaya santai awut-awutannya.
"Kau menyuruhku mencoba semua ini?" tanyanya.
"Iya!" kataku, aku hanya tersenyum bahagia kearahnya.
"Dua, aku akan mencoba dua setel!" katanya.
"Cepat ganti!" kataku dengan wajah marah.
"Ok!" dia pun segera masuk ke ruang ganti.
Tak lama dia muncul dengan setelan jas abu-abu dengan potongann longar, kenapa dia terlihat mirip seperti aktor korea.
"Kau tampan sekali!" pujiku.
"Yang ini yaaa, kita ambil yang ini!" katanya.
"Nggak, coba yang lain dulu!" paksaku.
Wajahnya langsung layu, tapi dia masuk ke ruang ganti lagi.
Kini dia keluar dengan taksedo lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
"Aku nggak suka ini!" katanya.
__ADS_1
"Tapi kau masih tetap sangat tampan!" pujiku.
Dia malah menirukam gaya Michael Jackson moonwalk tapi gagal, karena Zidane bukan lelaki yang pandai menari.
Ke tiga dia keluar dengan jas merah yang ngejreng.
"Ini terlalu mencolok!" katanya.
"Kenapa kau bisa selalu tampan, mengenakan apa pun?" tanyaku.
Aku hanya duduk di sofa ruang ganti, menunggunya mencoba semua jas dengan berbagai model dan tipe.
Dia tampak kemaki sekarang, karena dia mengenakan jas semi jaket yang bling-bling.
"Maaf apa aku menyakiti matamu?" tanyanya.
"Tapi itu cocok!" kataku.
Aku mau menghentikannya tapi dia sudah keburu masuk ke dalam ruang ganti itu lagi. Tapi aku tak sabar melihat penampilan selanjutnya dari Zidane.
Dia keluar dengan jas yang agak panjang dengan senyum-senyum tak jelas.
"Kau kenapa?" tanyaku.
"Jangan kaget yaaa!" katanya.
"Kenapa sih?!" tanyaku penasaran.
Hingga aku berdiri dan mendekatinya. Dia malah membuka jas yang panjangnys selututnya itu.
"Aaaaaa!" pekikku.
Aku menutup mataku, saking kagetnya. Pakaian model apa itu...
Dia malah mundur dan membuka jas itu dan menurunkannya setengah tapi jas itu masih di bahunya.
Aku bisa melihat otot dadanya di balik kemeja transparan itu. Aku yang melihat itu segera pasang badan untuk menutupinya dari mata wanita lain.
"Kamu nakal yaaa!" kataku dengan tersenyum bahagia.
"Kenapa mereka membuat baju kayak begini, aku bisa masuk angin jika pake ini di Ngobaran!" kata Zidane.
"Udah ganti sono!" aku memaksanya masuk lagi ke ruang ganti, tapi dia malah berbalik ke arahku lagi.
"Aku seksi kan?" tanyanya.
Dia berpose bak foto model profesional di depanku, siapa yang nggak ngiler dia pose seksi dengan kemeja transparan seperti itu.
"Kamu engak malu dilihatin orang-orang?" bentakku.
Dia pun akhirnya masuk lagi ke ruang ganti, dan kini dia keluar dengan setelan jas warna ungu. Dia bahkan masih tampan saat mengenakan jas-jas nyeleneh itu.
"Kita ambil yang pertama saja!" kataku.
Karena dari awal aku sudah tau jika jas yang pertama akan cocok dengan Zidane.
"Kau bilang juga apa!" katanya.
"Cobalah sekali lagi!" suruhku.
"Udah Nessss, aku capek!" keluhnya.
"Sekali aja, aku ingin lihat. Betapa tampannya pacarku, aku nggak tau kapan lagi kau akan memakai jas itu nanti!" paksaku.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤